
Ani memberikan penjelasan pada Bahri bahwa yang diperbuat nya masih berdosa dan Ani menyarankan untuk menikah aja, sehingga tidak berdosa juga bisa kebutuhan biologis terpenuhi, sehingga mendapatkan ke selamatan dunia dan akhirat.
Penjelasan Ani ini tidak diterima oleh Bahri.
" kamu sengaja menyuruh saya menikah kan agar bisa pisah dengan saya kan !" kata Bahri
Ani menjawab
" saya tidak minta berpisah kak, bila kakak bisa bersikap adil sama saya dan anak-anak ! saya ikhlas, saya ingin mendapatkan surga nantinya di hari akhirat nanti, mengikhlas kan suami menikah kembali "
Dengan jawaban Ani seperti itu bagi Bahri itu tidak percaya hanya siasat Septi saja agar dia menikah lagi. Bahri memang seorang suami yang tidak pernah mau memahami dan mengerti perasaan dan sikap Ani istrinya yang begitu ikhlas menjalankan kehidupan rumah tangga bersama Bahri.
Bahri hanya egois mementingkan dirinya sendiri selama ini tidak menyadari sang istri yang begitu setia dan membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil nya.
Ani tidak pernah mempermasalahkan nafkah lahir dan batin yang kurang suaminya berikan pada Ani, dia tidak mengeluh.
Ani berusaha untuk memenuhi nafkah lahir dengan bekerja keras.
Semua pengorbanan Ani tidak pernah di anggap oleh Bahri sang suami.
__ADS_1
Bahri yang tidak menyadari tugas seorang suami dalam rumah tangga.
******
Pembicaraan Ani dan Bahri tidak menemukan titik terang di mana Bahri masih mempertahankan prinsip nya.
Ani mengelus dada melihat sikap sang suami.
Tidak ada kepastian dari Bahri sebagai istri Ani hanya menerima dengan ikhlas.
#####
Satu tahun telah berlalu peristiwa percakapan tentang pernikahan itu.
Ani melihat ke dua anaknya mulai besar, di mana yang Putri sudah masuk sekolah taman kanak-kanak. Ani berpikir sampai kapan keluarga kecilnya hidup di bayang-bayangi dosa di dalamnya.
Setiap kali meminta sang suami Bahri untuk mengakhiri hubungan dan lebih baik menikah lagi, pasti Bahri pergi dari rumah tidak mau menjawab permintaan Ani.
Esok hari libur ada tanggal merah dan hari Jumat, Ani bersama dengan anak-anaknya pulang ke desa, orang tua Bahri dan keluarga sangat senang dengan kedatangan Ani sekeluarga karena sudah hampir dua tahun tidak pulang ke desa karena kesibukan Ani di kantor.
__ADS_1
Padli dan Putri yang mulai tumbuh besar sudah sedikit mengerti dengan lingkungan dimana mereka sekarang yaitu di desa tempat orang tua dari sang ayah.
Ke dua anak Ani diajak oleh mertuanya ke liling desa dan menyapa penduduk yang mereka temui di jalan.
Padli dan Putri terlihat bahagia sekali melihat sekeliling masih banyak pohon-pohon yang rindang dan angin yang bertiup sepoi-sepoi terasa sejuk.
Padli dan Putri tinggal di kota yang penduduknya padat serta suasana dan cuaca yang panas, jauh dari kata sejuk.
Mereka berdua di ajak ke kebun duren yang kebetulan lagi berbuah dan ada yang sudah matang dan jatuh. Ke dua anak ini senang menunggu durian jatuh, bila ada yang jatuh pasti mereka meminta orang tua Bahri sang Kakek untuk membukanya dan langsung dimakan oleh Padli dan Putri.
Melihat antusias ke dua cucunya makan durian orang tua Bahri terlihat senang.
Sampai ke dua cucunya puas makan durian barulah orang tua Bahri pulang kerumah dengan membawa beberapa durian yang telah jatuh. karena pohon durian kakek Padli dan Putri ada banyak sehingga kedua cucunya tidak akan sanggup untuk memakan semuanya.
Kakek membawa beberapa buah untuk sang cucu di rumah bila nanti di rumah ingin makan kembali.
Tiba di rumah Ani dan Bahri menyambut kedatangan orang tua dan anak-anaknya.
Ani yang melihat orang tua Bahri membawa durian, dengan semangat mendekati sang mertua
__ADS_1
" ayah... di sini musim durian ya !" kata Ani
Sang ayah menjawab iya.