
Gito di tuntun oleh pak penghulu untuk mengucapkan ijab kabul.
Ucapan yang pertama gagal Gito dan di ulang yang kedua tetap gagal. Pak penghulu berkata
'' tarik nafas dan buang perlahan-lahan nak, fokus kan pikiran untuk mengucapkan ijab kabul nya !''.
Sang ayah Gito berkata '' Gito fulus dong jangan bikin ayah malu dengan para tamu !''.
Ani yang melihat ini semua rasanya bertambah sesak nafasnya karena lama sekali acara ini berlangsung.
Ani semakin gelisah dan berdiri.
'' Padli dan Putri mari kita pulang ''
ucap Ani.
Ani tidak bisa menahan rasa sakit hatinya lagi. Kedua anak Ani ikut berdiri dan semua tamu melihat ke arah mereka. Keadaan ini membuat Gito sadar akan keberadaan Ani dan anak-anak nya.
Padli berkata '' paman apa sebenarnya yang paman lakukan sama ibu saya, apa salah ibu sama paman sehingga tega paman berbuat seperti ini terhadap ibu, saya tidak akan melupakan kejadian ini paman !''.
__ADS_1
Lalu Padli berlari mengejar Ani dan Putri yang sudah berada di luar rumah. Walaupun di sini tempat yang asing bagi Ani dan anak-anaknya tidak membuat mereka pendek pikiran.
Di halaman ada beberapa orang dan Ani berkata '' maaf bapak atau adik sekalian adalah yang bersedia mengantarkan kami ke terminal bis antar kota !''.
Beberapa detik kemudian ada seorang pemuda berdiri dan berjalan mendekati Ani.
Pemuda itu berkata '' mbak biar saya antar tetapi pakai kendaraan roda dua bagaimana ''.
'' tidak mengapa dik, kami tidak keberatan walaupun roda dua yang terpenting sampai ke terminal '' ucap Ani.
Pemuda itu lalu meminta beberapa temannya untuk ikut mengantarkan Ani dan anak-anaknya ke terminal.
Ani tidak perduli lagi kejadian yang akan berlangsung di dalam rumah Gito. Dia hanya ingin cepat pergi menjauh dari rumah tersebut.
Di sepanjang jalan Ani hanya terdiam saja dan pemuda yang membawanya mengetahui bahwa Ani perlu sendiri jadi pemuda itu ikut diam saja sepanjang perjalanan ke terminal bis antar kota.
Hampir satu jam mereka baru sampai di terminal bis antar kota.
'' adik-adik kini sudah siang mari ikut saya dan anak-anak makan baru nanti kalian pulang '' berkata Ani.
__ADS_1
'' terima kasih mbak, apa tidak merepotkan !'' ucap pemuda yang membonceng Ani .
'' tidak merepotkan, ini ucapan terima kasih saya kepada kalian yang telah sudi mengantarkan saya dan anak-anak di terminal ini !'' berkata Ani.
Maka mereka bersama-sama memasuki sebuah rumah makan untuk makan siang dan akhirnya mereka bisa saling bicara sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
Pembicaraan mereka tidak menyinggung acara pernikahan Gito, hanya seputar kehidupan masyarakat tempat tinggal Gito dan budaya masyarakat nya.
Ani dan kedua anaknya tertarik dengan penjelasan yang pemuda itu bicarakan, tetapi Ani sudah tidak bisa menikmati suasana nya, dia telah hancur hatinya ingin segera pulang.
Padli bisa melihat kekecewaan sang ibu maka tidak ingin membuat bertambah sedih Ani maka Padli memilih pulang saja.
Walau berat Padli harus mengutamakan hati sang ibu yang telah terluka akibat perbuatan Gito.
Padli bisa membayangkan begitu hancurnya hati sang ibu diperlakukan seperti itu oleh Gito.
Padli yang melihat perjalanan dengan susahnya ibunya membuka hati untuk Gito dan menerimanya.
Karena anak-anak menyukai Gito dan membujuk sang ibu agar menerima Gito namun pada akhirnya Ani yang menderita.
__ADS_1
Padli merasa ikut membuat hati sang ibu hancur, bila dulu Padli tidak minta sang ibu menerima Gito maka hal ini tidak akan terjadi, ini penyesalan Padli.
Semua telah terjadi tidak bisa diputar kembali.