iklas menjalani

iklas menjalani
81


__ADS_3

Hari-hari cepat berlalu dan tidak terasa sudah tiga bulan berlalu.


Ani sudah terbiasa dengan semua aktifitasnya di pagi ini ibu dan anak lagi bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi serta menikmati makanan yang di buat Ani untuk menemani mereka nonton film, tidak di sangka datang Bahri. Namun kali ini dia sendiri tidak di ajak Sovia dan anak nya.


Bahri berkata '' enak ya sambil menonton televisi dengan makan !''


Ani dan anaknya terkejut mendengar ada Bahri sang ayah datang ke rumah.


'' ini kan hari libur dari pada pergi lebih baik di rumah saja sambil istirahat '' ucap Ani.


Padli melihat ayahnya terlihat dari wajah nya tidak suka atas kehadiran Bahri.


'' mengapa ayah ke mari '' ucap Padli.


'' ini kan masih keluarga ayah ya wajar bila ayah kesini '' berkata Bahri.

__ADS_1


'' apa kami masih di anggap keluarga oleh ayah. Sedang ayah sudah lama tidak ke rumah '' ucap Padli.


Ani meminta jangan memperpanjang masalah dengan Bahri.


'' ada apa sebenarnya Abang ke sini !'' ucap Ani.


'' bisa kita bicara empat mata '' berkata Bahri.


'' tidak usah Bu, kami sudah tau bahwa ayah punya istri dua untuk apa di sembunyikan lagi ke pada kami '' ucap Padli.


Karena Padli meminta ibunya tidak boleh bicara berdua saja maka dengan berat hati Bahri bicara di depan anak dengan suara yang lemah seakan-akan agar kedua anaknya tidak boleh mendengar.


'' begini Ani, saya pingin buka usaha perlu modal bisakah kamu meminjam kan ! berkata Bahri.


Dalam hati Ani bicara '' ini orang ada saja cara untuk meminta uang kepada saya ''

__ADS_1


'' bang, sekarang kebutuhan kedua anak-anak cukup banyak dan uang yang Abang mau pinjam untuk sekolah mereka ke depan saya tidak bisa meminjamkan karena itu untuk masa depan mereka '' ucap Ani.


'' Ani, biar saya pakai dulu nanti di bayar, apalagi bila usaha saya beruntung pasti saya ikut juga membantu sekolah anak-anak !'' berkata Bahri.


'' saya tidak berani bang, itu hak mereka kecuali mereka memperbolehkan nya '' ucap Ani.


Padli berkata '' tidak ibu saya tidak boleh saya butuh uang nya untuk melanjutkan sekolah, biar ayah cari sendiri toh selama ini kerja uangnya kemana !''.


Bahri mendengar Padli berkata mau marah karena berani mencampuri urusan orang dewasa.


Namun apa daya Ani melibatkan sang anak. Hal ini sengaja Ani lakukan agar Bahri tidak lagi memanfaatkan dirinya sebagai ATM bagi kehidupan nya. Dengan jalan halus ini Ani berharap Bahri tidak lagi menggantungkan keuangannya pada Ani.


Dengan muka lesu Bahri menarik nafas dalam-dalam dan berusaha sabar dengan sikap Padli.


'' Padli anak bapak yang cakep, ini bapak hanya pinjam nanti di kembalikan kok !'' berkata Bahri.

__ADS_1


'' tidak sekali tidak boleh ya tidak boleh, Padli pokoknya mau sekolah dan Padli kasihan lihat ibu yang cari uang sendiri untuk kami, apa pernah ayah memberi kami uang untuk jajan aja tidak pernah semua itu uang ibu '' ucap Padli.


Bagai di sambar petir Bahri mendengar perkataan Padli sang anak. Rupanya selama ini Padli diam saja dan saat ini baru berkata tentang perbuatan Bahri sebagai seorang ayah yang tidak bertanggung jawab kepada anak dan istrinya. Padli tidak bisa menahan apa yang selama ini di pendam dan kini semua perbuatan Bahri di ungkapkan. Bahri mendengarnya tertegun tidak percaya anaknya sudah bisa menilainya. Bahri tidak menyadari anak-anaknya sudah mulai tumbuh besar tidak seperti dulu masih kecil-kecil.


__ADS_2