
PART 9 PISAH
Aya menangis ketika pintu ruangannya terbuka lebar dan menampilkan sesosok lelaki yang di cintainya setahun terakhir ini. Sesegera mungkin, ia menghapus air matanya agar terlihat baik di depan kekasihnya yang akan menuju halal itu.
"Dirga? Itu benar, kamu? Kamu selamat? Masya Allah, Allah masih memberi umur panjang untuk kamu. Aku bersyukur banget. Sumpah, aku nggak bisa bayangin lagi, kalo kamu sampai ninggalin aku," oh ralat, aku yang bakal ninggalin kamu, sayang...tentu saja kalimat itu di teruskannya di dalam hati. Why?
Mereka di ruangan ini tidak hanya berdua. Masih ada pembantu rumah tangga Aya yang mengurus Aya sedang duduk di sofa panjang kamar rawat Aya. Tentu saja mereka tidak boleh berduaan di dalam ruangan karena bukan muhrim.
Dirga tersenyum mendengar omelan cerewet dari kekasihnya itu. Ia merindukannya. Sangat.
"Udah bawel aja. Emang udah sembuh?" tanya Dirga duduk dengan jarak satu meter dari Aya. Jaga jarak dong!
"Aku udah sembuh," luka luarnya, tapi luka dalamnya belum sembuh. Kamu pasti kecewa sama aku nanti....lagi dan LAGI, kalimat itu di teruskan di dalam hati Aya.
"Alhamdulillah. Udah keliatan sembuh dari cerewetnya lho, Ya," Dirga membuat Aya menahan senyumnya.
"Senyumnya jangan di tahan gitu."
"Ih apaan sih kamu,"
Setelah mereka mengobrol beberapa hal yang membuat Aya tersenyum manis, suasana kembali hening. Hingga suara Aya yang lebih dulu mengiterupsi keduanya.
"Dirga," panggil Aya. Aya memposisikan tubuhnya untuk duduk dengan perlahan.
__ADS_1
"Iya? Kamu pengen sesuatu? Minta apa, biar aku turutin apapun itu," kata Dirga lembut.
"Kamu nggak ada tugas negara?"
"Nggak ada. Mungkin bulan depan aku harus ke Papua. Mengontrol keadaan pelosok di sana. Ada beberapa penguntit yang bersarang di sana. Ada apa, Aya-ku?" terang Dirga sembari tersenyum manis. Sumpah demi apapun, Dirga ingin memeluk gadisnya. Tapi, itu tidak mungkin terjadi. Karena belum ada ikatan pernikahan di antara keduanya.
"Kamu mau nurutin perintah aku, apapun itu? Aku mohon sama kamu, ya?" kata Aya yang membuat keadaan menjadi serius.
"Iya, pleasure. Aku pasti turutin permintaan kamu. Kamu mau, apa? Apapun itu, aku pasti turutin kok," tanya Dirga lembut.
"Sekalipun ngejauh dari aku, kamu bakal lakuin?" tanya Aya hati-hati. Ia dapat melihat Dirga tertegun beberapa saat.
"Kenapa tanyanya, gitu?" tanya Dirga menyelidik.
Tentu saja satu tarikan kalimat yang di ucapkan Aya telah membuat Dirga membelalakan mata. Pemuda itu menggeram pelan sehingga Aya tidak mengetahuinya.
"Apa maksud kamu?" tanya Dirga sembari berdiri. Tangannya terkepal kuat.
"Kamu masih belum paham maksud, aku? Bukannya aku udah jelas bilang kalo aku mau kamu menikahi Salsa, adik sepupu ku itu. Please, ini permintaan terakhirku. Kamu harus jauhin aku mulai sekarang," nada Aya naik satu oktaf yang membuat Dirga menggeram dan menatap tajam Aya. Mengapa tiba-tiba gadisnya meminta dirinya pergi? Bukankah selama ini hubungan mereka baik-baik saja.
"Apa maksud kamu? Aku nggak paham. Emang aku salah apa sehingga kamu bilang begitu kepadaku. Aku nggak pernah selingkuh dari kamu, Ay. Apa salahku? Dan apa maksud dari permintaan terakhir itu? Kamu mau meninggalkan aku?" Nada bicara Dirga tak kalah menantang. Baru kali ini ia berbicara sedikit kasar kepada gadis yang di cintainya. Ia tidak menyadari hal itu. Emosinya sudah menutup akal sehatnya.
"Iya! Aku bakal ninggalin kamu! Karena aku--aku--" aku hamil anak Pras, sayang...lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
"Aku apa, Ay?!" sentak Dirga berkilat marah.
Mereka berdebat hebat. Hingga asisten rumah tangga Aya lebih memilih keluar untuk memberi privasi untuk mereka. Suara geraman yang memenuhi ruangan yang di dominasi warna putih itu. Aya sudah menangis beberapa menit yang lalu. Aya telah menutupi rahasia besarnya. Ia memang hamil. Dan persoalan itu harus ia tutupi sendiri. Ada saatnya nanti mereka tau. Tentu saja gadis itu sudah merasakan sakit hati yang luar biasa. Ah jangan di bahas masalah hati Aya.
Hingga pintu terketuk lama, namun tidak menarik perdebatan mereka. Alhasil pengetuk pintu itu membuka pintu ruangan Aya sembari tertegun beberapa saat karena tidak sengaja mendengar percek-cokan Aya dan Dirga. Alhasil mereka lebih memilih keluar dan tidak mau menganggu dua insan yang berdebat hebat. Siapa orang itu? Tentu saja kedua orang tua Salsa yang ingin menjenguk keadaan keponakan tersayangnya.
"Mereka kenapa, Yah?" tanya bunda Salsa sembari dituntun untuk duduk di kursi sebelah pintu ruangan Aya. Mereka lebih memilih untuk menunggu di situ.
"Semua orang pasti memiliki masalah masing-masing, Bun. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka," kata suaminya lembut.
"Tapi bunda tadi sempat dengar kalo Aya menyuruh Dirga menikahi putri kita. Apa bunda salah dengar?" tanya istrinya. Tapi, beliau mendengarkan dengan jelas.
"Ayah dengar, Bun. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu. Kalau sudah dalam posisi tenang, baru kita tanya baik-baik. Jujur, Ayah tadi sempat syok mendengar hal itu. Tapi kita tunggu mereka saja. Toh, Aya masih sakit. Sebaiknya kita tunggu keadaan dengan tenang dulu, Bun."
Istrinya mengangguk. Rasa penasaran tentu saja menggelayuti mereka berdua. Sekali lagi, mereka tidak sengaja mendengarkan perdebatan mereka. Atau mungkin mereka hanya salah dengar. Oh itu jelas tidak mungkin sama sekali. Mereka mendengar dengan jelas. Bahkan sangat....JELAS.
"Tapi bunda belum enak hati, Yah,"
"karena hati bunda saat ini sedang di pengaruhi oleh syaiton. Tenangkan pikiran bun," ucapnya lembut.
Kenapa?
To be continued....
__ADS_1