Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
ruangan anggrek


__ADS_3

Ciye-ciye yang baru ketipu judul haha. Kasian hahaha.


Lanjut lagi ah.


Eh jangan lupa follow ig author yakk @meigasellaap


***


Salsa rutin untuk menengok ke kamar rawat inap Dirga. Pria itu masih belum sadarkan diri. Namun, dengan kembalinya detak jantung Dirga, Salsa sangat bersyukur kepada Allah swt. Salsa sudah berjanji jika Dirga bangun, ia akan menjadi istri yang melayani suaminya. Karena, selama ini Salsa merasa jika dirinya belum sepenuhnya menjadi istri yang sempurna untuk Dirga. Ia lebih banyak mencampakkan Dirga karena ia lebih mementingkan rasa bersalahnya terhadap kakak sepupunya. Salsa mengerti jika itu adalah hal yang salah. Dan ia bisa jadi berdosa karena ia tidak melayani suaminya sendiri.


Perempuan itu tiba-tiba merasakan mual. Ia langsung berlari ke kamar mandi yang berada di ruangan Dirga itu. Perutnya terasa mulas tiba-tiba. Namun, ia tidak memuntahkan apapun yang ada di dalam perutnya. Kepalanya juga pusing. Ini mungkin efek maag nya yang kambuh. Ia mengambil pil yang ada di dalam saku jas putihnya dan memasukkan pil putih kecil itu ke dalam mulutnya.


Salsa keluar dari kamar mandi itu. Pusingnya sedikit reda. Kakinya berjalan menuju ranjang tempat Dirga berbaring. Ia mengecek kondisi Dirga lagi. Pria itu masih dalam keadaan baik. Salsa bersyukur. Dengan kepalanya yang sedikit pusing, Salsa berjalan keluar dari ruangan itu.


Ia menyusuri lorong rumah sakit dan bertemu dengan dokter Randy. Dokter tampan itu berhenti berjalan dan menyapa Salsa. Salsa jadi mengingat kejadian di ruang operasi ketika dokter Randy mengira Salsa adalah adik dari Dirga. Salsa juga tidak berniat memberitahu hubungannya dengan Dirga. Biarlah orang lain berkata apa.


"Dokter Salsa rutin sekali menengok kakaknya," kata dokter tampan itu dengan percaya diri.


Salsa hanya tersenyum.

__ADS_1


"Semoga cepat sadar dari masa komanya ya,"


"Aamiin ya Allah," Salsa mengaminkan doa dokter tampan itu.


"Dokter Salsa udah makan, siang? Mau makan siang bareng, saya? Saya traktir deh," tawar dokter Randy pada Salsa.


Salsa tidak enak di tawari oleh dokter Randy. Namun dengan halus, Salsa menolak tawaran itu. Karena ia tidak enak saja. Jika di perhatikan, Salsa sering sekali makan berdua dengan dokter Randy. Ia tidak mau ada rumor yang menyebar tentangnya dan dokter Randy. Ia juga takut jika Dirga akan cemburu.


Apa?


Cemburu?


Salsa rupanya terlalu percaya diri untuk hal itu. Apakah Dirga cemburu jika Salsa bersama pria, lain? Hati Salsa masih di kepung oleh rasa ragu. Entah perasaan itu sangat menganggu Salsa.


Salsa berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Ia akan menuju ruangannya. Perempuan itu hari ini sangat lelah.


Salsa memasuki ruangannya. Ia menghembuskan napasnya panjang. Perempuan itu memilih duduk di bangku kebesarannya. Sekadar menyadarkan bahunya yang sakit karena bekerja seharian. Tangannya mengambil di laci meja sebuah amplop putih. Amplop tersebut berisi surat pengunduran dirinya. Ia menyimpannya kembali setelah ia mengetahui jika Dirga tertembak dimana hari ketika Salsa ingin mengundurkan dirinya. Terpaksa, ia harus menyimpan surat tersebut.


Salsa melafalkan nama Allah swt. Berkat Beliau, ia masih bisa bernapas hingga saat ini dan bisa menyelamatkan nyawa Dirga karena izin-Nya.

__ADS_1


Salsa termenung membayangkan kejadian yang menimpa dirinya dan Rena beberapa waktu lalu hingga membuat Salsa kritis. Tadi, Rena menelponnya untuk memberitahu Salsa bahwa mantan pacar Rena sudah masuk ke penjara. Entah Rena sendiri juga tidak mengetahui siapa yang berhasil melaporkan pria kejam itu. Salsa bisa bernapas lega karena sahabatnya sudah terbebas dari makhluk jahanam seperti Rio. Pantas saja, ia sering sekali menemukan bekas luka sayatan pada tubuh Rena. Bahkan ketika di peluk oleh Salsa, Rena pasti mengaduh kesakitan badannya. Namun, sahabatnya itu menyembunyikan rasa sakitnya di depan Salsa.


Ia tidak habis pikir dengan pria seperti itu. Dimana letak akal sehatnya. Bisa-bisanya dengan teganya, menyiksa perempuan yang jelas-jelas lebih lemah darinya.


Salsa juga heran, ada apa dengan Rena? Mengapa perempuan itu tidak melaporkan saja perbuatannya ke polisi. Mengapa sahabatnya ini malah rela di siksa oleh pacarnya sendiri. Bukan kah lebih baik ia melaporkan ke polisi. Lalu, apa bedanya dengan dirinya? Kejadian Salsa kritis, kenapa ia tidak bilang ke suaminya sendiri, Dirga. Kenapa Salsa malah diam saja sama seperti, Rena?


Namun, dengan kondisi Dirga yang seperti ini, apa kah ia sanggup bilang pada Dirga.


Sama saja ia menyembunyikan kejahatan Rio. Tapi, setidaknya Rio sudah di tangan polisi.


Entah kenapa Salsa tidak tegas dengan dirinya sendiri. Ia marah pada dirinya sendiri. Seharusnya Salsa harus lebih tegas.


Tiba-tiba seorang perawat memasuki ruangan Salsa tanpa izin. Perawat itu mengatur napasnya karena sepertinya habis berlari-lari. Salsa bisa menduga pasti ada situasi yang gawat.


"Dokter Salsa, pasien di ruangan anggrek mengalami penurunan detak jantung," perawat itu berkata sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


Salsa melotot. Pasien itu...


Salsa segera berlari keluar dengan perawat itu. Ia berusaha secepatnya mencapai ruangan anggrek. Jantung Salsa berdegup kencang.

__ADS_1


Jangan...jangan...tolong...


To be continued..,


__ADS_2