Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
pindah


__ADS_3

"gue denger, lo di pindah tugas kan, ya?"


Pertanyaan itu muncul tepat ketika Salsa ingin memakan kripik kentangnya.


Salsa mengembalikan potongan keripik kentangnya yang tidak jadi di makan ke dalam kemasannya kembali.


"Di pindah kemana?" Tanya sahabatnya lagi yang membuat Salsa menghela napasnya sebanyak dua kali. Sebenarnya, ia malas sekali membahas hal itu.


"Rumah sakit TNI Dr. R. Hardjanto," kata Salsa seadanya sembari mengambil kembali kripiknya.


Memang benar jika Salsa telah di pindah tugaskan ke salah satu rumah sakit TNI yang ada di daerahnya. Salsa tidak akan patah semangat jika rumah sakit tersebut nanti akan malah menjadi tempat yang horor baginya. Bagaimana tidak horor jika rumah sakit tersebut berada di naungan tempat suaminya dinas.


Alhasil mereka akan bertemu setiap hari dan hal itu membuat Salsa bergidiki ngeri.


"Wah enak dong bisa ketemu sama cowok-cowok abdi negara," kata Rena sembari ikut nyemil kripik kentang tersebut. Saat ini mereka sedang berada di ruangan kerja Salsa.


"Eh doi, ya!" ralat Rena yang sengaja menggoda Salsa.


Salsa spontan melempar kertas yang di remas tepat mengenai Rena. Rena hanya tertawa melihat sahabatnya yang pipinya sedang memerah seperti kepiting rebus.


"Udah muhrim masih malu-malu meong aja,"


"Bisa diem nggak sih!" kata Salsa sok galak yang membuat Rena semakin tertawa melihat sahabatnya.


"Nggak kebayang gimana senengnya kalo cintanya terbalas. Nggak sia-sia dong nyiptain cinta dalam diam,"


Salsa hanya menanggapi dengan senyuman tipis.


"Udah ashar, yok ke masjid," ajak Salsa lebih memilih untuk menghadap Allah swt. ketimbang membahas topik yang tidak ia sukai.


Rena melirik jam di pergelangan tangannya. Benar!


Mereka berjalan menyusuri koridor untuk menuju masjid rumah sakit. Banyak pasien maupun dokter lainnya menyapa mereka. Mereka tersenyum bahagia melihat pasien-pasien yang sudah mulai membaik keadaannya. Menyembuhkan orang yang sedang sakit memang menjadi keinginan mereka. Karena dengan begitu, mereka bisa menolong sesama manusia.


Tiba-tiba Salsa menghentikan langkah kakinya yang membuat Rena langsung ingin bertanya.


"Kenapa?"


"Nggak papa," kata Salsa.


Gadis itu mengingat, jika pertama kali ia melihat Dirga di masjid ini. Ia ingat sekali. Cepat-cepat Salsa menggelengkan kepalanya dan sadar dari lamunannya.

__ADS_1


Mereka kembali melangkah mengambil air wudhunya kemudian melaksanan ibadah sholat Ashar.


Teman curhat ternyaman ialah menghadap kiblat dan menceritakan keluh kesah kepada Allah swt. Terkadang ada manusia yang bingung, or ralat! Hatinya sepi karena kurang adanya Allah swt. di dalam hatinya.


Pernahkah merasakan hati yang kosong?


Pernahkah merasakan kebingungan karena tidak mengerti jalan harus kemana?


Pernahkah merasakan jiwa benar-benar kosong dan tidak tahu kita haru berbuat apa?


Sering sekali hati manusia tersesatkan.


Oke, sudah cukup!


Saat ini mereka baru saja keluar dari dalam masjid dengan wajah yang segar.


"Alhamdulillah, gue kalo abis ibadah bawaannya adem mulu hati ini, gue bersyukur banget, Sal," kata Rena sembari memakai sendal sepatunya sama seperti Salsa.


Salsa tersenyum sebelum menjawab, "Alhmdulillah gue juga gitu. Emang ya kalo inget Allah terus tuh bawaannya adem, nyaman. Apalagi gue kalo lagi ada masalah tuh enaknya di bawa sholat. Insyaallah pikiran jadu tenang," Salsa berkata sembari memasang wajah ceria. Kini mereka berjalan untuk masuk ke dalam rumah sakit sembari mengobrol hal-hal yang menarik untuk di ceritakan.


Tiba-tiba seorang perawat perempuan menghampiri mereka berdua dengan raut muka panik.


"Dokter Salsa! Ada pasien kecelakaan. Sekarang sudah ada di ruang UGD!" Perawat itu berkata dengan cepat dan panik. Alhasil membuat Salsa dan Rena langsung menuju ruang UGD tempat pasien itu di bawa. Mereka berlari secepat mungkin untuk segera sampai di UGD.


Brug!


"Astaghfirullah--" Salsa meringis kesakitan sembari mengelus dahinya lembut. Di lihatnya ke atas, mata bertemu dengan mata.


"Hati-hati, ya."


Kata-kata itu sedikit membuat hati Salsa bertambah nyaman. Ia segera menuju pasien yang sekarang sedang mengalami pesakitan yang luar biasa. Darah terus mengucur dari kepalanya dan ada beberapa luka yang ada di pergelangan kaki dan tangan.


Pasien itu harus segera di operasi untuk memberhentikan pendarahan dari dalam tubuhnya. Beberapa staf medis segera menyiapkan ruangan operasinya. Sembari menunggu ruang operasi siap, beberapa dokter yang ada di ruang UGD telah memberikan alat bantu agar pasien itu tetap sadar.


Di dalam hati Salsa, gadis itu terus menyebut nama Allah swt. Agar ia semakin tenang, karena dalam situasi yang seperti ini, ia tidak boleh gegabah.


***


Operasi berjalan 4 jam lamanya. Seluruh staf medis yang ada di ruangan operasi mengucapkan rasa syukur karena operasinya berjalan dengan lancar.


Salsa segera mencuci tangannya dan melepas jubah operasinya. Lelah? Tentu saja. Namun ia, sangat bersyukur. Karena lelahnya menjadi lillah. Hal seperti ini yang membuat Salsa harus perbanyak bersyukur. Dengan begitu, Salsa bisa belajar dari kehidupannya.

__ADS_1


Gadis itu keluar dari ruangan operasinya dengan senyum yang merekah.


"Berhasil?"


Tiba-tiba suara bariton itu mengagetkan Salsa. Salsa spontan beristighfar sembari mengelus dadanya lembut.


"Kak Dirga?"


Kata Salsa gugup. Salsa semakin gugup ketika mengingat ia hendak masuk ke ruang UGD tadi ia menabrak lelaki yang memakai seragam loreng layaknya makhluk biji kacang hijau.


Angkasa Dirgantara!


Ya! Siapa lagi?


"Selamat ya,"


Salsa semakin gugup.


"Kak Dirga lagi, dinas? Ngapain ke sini?" tanya Salsa sembari menunduk. Namun jari telunjuk Dirga segera mengangkat wajah Salsa agar menatap matanya. Namun, lagi dan LAGI gadis itu memalingkan wajahnya.


"Saya lupa ngasih tau kamu kalo hari ini saya di suruh menggantikan dinas Letnan Ferdi. Maaf ya, Sal," kata Dirga dengan kalem.


Hal itu membuat hati Salsa ingin menangis dan guling-guling di tanah. Demi apa jika Dirga berpamitan padanya! Salsa memang menyukai hal ini. Namun seiring dengan itu, rasa bersalah itu terus muncul di hati Salsa. Ia seperti menari-nari di atas penderitaan kakak sepupunya sendiri.


"Iya kak, nggak papa. Sekalian mau pamitan, nanti malem aku tidur di tempat bunda, ya? Soalnya bunda lagi nggak enak badan," kata Salsa dengan sedikit gugup.


Dirga menganggukkan kepalanya, "ya udah nggak papa. Nanti saya nyusul kesana,"


Mak daebag!


"Eh- iya kak. Saya pamit dulu mau liat pasien lagi," kata Salsa lalu mengambil tangan Dirga untuk menciumnya. Bagaimana pun, ia harus menghormati Dirga sebagai suaminya.


Salsa mengalami posisi yang sulit! Dan sulit untuk di jelaskan!


***


Hay hay gimana?


Mau follow ig author nggak? @meigasellaap


...

__ADS_1


...


__ADS_2