Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
rumah bunda


__ADS_3

"bunda bisa baca pikiran kamu, kalo kamu lagi ada masalah. Cerita aja,"


Entah kenapa jika di dekat bundanya, Salsa sedikit takut. Karena bundanya bisa membaca raut wajahnya. Mungkin karena ikatan ibu dan anak. Sedangkan Salsa tipikal orang yang nggak bisa buat memendam cerita kalau bersama bundanya. Dari dulu, bundanya yang menjadi keluh kesahnya. Karena seseorang yang paling mengerti dirinya, ialah Allah swt dan bundanya.


"Kamu ngerasa nggak nyaman?"


Tepat!


Bundanya membidik objek dengan tepat!


"Jika Angkasa jodoh kamu yang di berikan oleh Allah swt. Orang lain bisa, apa?" Mantap! Tepat sasaran. Jika Allah swt. sudah berkehendak menjodohkan Salsa dengan Dirga, mereka bisa apa. Jodoh dan maut Allah yang mengetahui.


"Salsa," panggil bundanya dengan lembut.


Membuat Salsa mendekatkan dirinya dan memeluk sang bunda dengan lembut. Air matanya menetes karena sudah tidak tahan karena di hantui oleh rasa bersalah. Ia serba bingung, serba salah berada di posisi seperti ini. Ia memang mencintai Dirga, namun tidak begini caranya.


Dada Salsa sesak.


"Allah nggak mungkin salah menjodohkan kamu dengan Dirga. Salsa kemarin sholat istikharah buat minta petunjuk kan? Nah, ini adalah jawaban dari Allah untuk kamu," kata bundanya dengan lembut. Salsa semakin erat memeluk bundanya. Dadanya begitu sesak. Ia takut membuka hatinya untuk Dirga walaupun posisinya saat ini ia adalah istri dari Angkasa Dirgantara. Di tambah ia memang menyukai lelaki itu sejak lama.


Salsa tidak tahu harus bagaimana kecuali menghadap Allah swt. untuk meminta jalan petunjuk.


Entah kenapa dadanya semakin sesak.


Bundanya hanya memandang melas ke arah putrinya yang semakin merapatkan pelukannya. Beliau mengambil permen untuk diberikan kepada Salsa. Entah kenapa gadis iti selalu membutuhkan permen jika sedang menangis. Seakan-akan permen itu hanya obat tangis Salsa. Salsa akan merasa lega jika ia menemukan permen.


Tangis gadis itu sedikit reda karena permen.


Tiba-tiba seorang lelaki gagah muncul dengan seragam kebanggaannya yang sudah acak-acakan tak berbentuk bersama Ayah Salsa.


"Wah belum lebaran sudah main pelukan aja," suara Ayahnya menggema di ruang keluarga itu.


"Pelukan nggak nunggu lebaran juga kali, Yah," sambut istrinya.


Salsa belum menyadari keberadaan Dirga karena posisinya yang membelakangi suaminya. Sang Bunda Salsa juga sudah saling bermain kode-kodean dengan Dirga. Bundanya menyuruh Dirga untuk diam saja.


Suara isak tangis Salsa terdengar lirih namun tetap terdengar.


"Bunda," panggilnya.


"Apa sayang?"


"Maafin Salsa kalo Salsa banyak kesalahan sama Bunda dan Ayah," kata Salsa sembari terisak lirih.

__ADS_1


Dirga yang melihat hal itu sebenarnya sangat penasaran, karena apa yang bisa membuat istrinya menangis di pelukan ibunya.


"Iya, Bunda sama Ayah selalu maafin Salsa,"


"Bunda," panggilnya lagi.


"Iya, Sayang?"


"Maafin Salsa udah ngerepotin Bunda sama Ayah," kata Salsa semakin sesak.


"Bunda," panggilnya lagi.


"Bunda, Salsa nggak percaya kalo sekarang Salsa udah nikah," kata Salsa sembari terisak dalam. Bundanya mengelus punggung Salsa lembut sembari memberikan kode pada Dirga.


Kode apa ini antara mertua dan menantu?


"Salsa, mau sholat isya' bareng, saya?" Tiba-tiba suara Dirga menggema di ruangan itu dan membuat Salsa terperanjat kaget. Spontan ia menghapus air matanya dengan cepat. Bunda dan Ayahnya hanya tersenyum jahil. Kemudiannya, berpamitan untuk meninggalkan mereka berdua.


***


"Ini kamar kamu, Sal?" tanya Dirga sembari melihat isi ruangan itu. Ia langsung menebak kamar Salsa karena kamar itu perempuan banget.


Salsa mengangguk pelan. Kemudian, Salsa bergegas mengambil air wudhu di kamar mandinya. Tak lama ia mengambil air wudhunya dan segera kembali untuk memakai mukenannya. Sembari menunggu Dirga mengambil air wudhunya, Salsa menata dua sajadah. Di depan untuk sang imamnya.


Rasa bersalah itu datang kembali.


Sang imam?


Apakah Salsa boleh menyebut Dirga seorang imam dalam keluarganya?


"Salsa," panggil Dirga pelan. Namun, Salsa tidak meresponnya karena masih terbelenggu dalam rasa bersalahnya yang baru saja datang. Perempuan itu masih melamun.


Dirga sebenarnya bingung, ada apa dengan Salsa?


Atau hanya kebiasaan perempuan itu senang melamun atau bagaimana?


"Salsa wudhunya batal, ya?" Kata Dirga tiba-tiba sedikit keras agar Salsa sadar dari lamunannya.


Salsa yang mendengar langsung tersentak.


"H-ha b-batal?" tanyanya gugup.


Dirga menganggukkan kepalanya mantap.

__ADS_1


"Kamu tadi melamun, jadi saya coba pegang pundak kamu ta--" ucapan Dirga terpotong karena Salsa lebih dulu bangkit dengan rasa malu. Sedangkan Dirga malah tersenyum jahil di belakang Salsa.


Salsa berhenti tepat ketika ia ingin memasuki kamar mandinya dan menolehkan kepalanya kearah Dirga yang kepergok tersenyum jahil.


"Kak Dirga jahilin aku, ya?" tanya Salsa sembari memasang muka merengut.


Dirga malah melepaskan tawanya.


"Lagian kamu melamun. Melamun itu nggak boleh, gimana kalo kesambet, setan?" kata Dirga setelah melepaskan tawanya.


Salsa memasang wajah cemberut sembari berjalan menuju sajadah di belakangnya. Perempuan itu benar-benar kesal.


Dirga menolehkan kepalanya ke belakang sembari tersenyum jahil.


"Udah cemberutnya, mau menghadap Allah kok cemberut gitu," kata Dirga yang membuat Salsa beristighfar.


Dirga mulai sholatnya dengan Salsa yang menjadi makmumnya.


Ini bukan kali pertama Dirga menjadi imam untuk Salsa setelah beberapa hari menikah. Sebenarnya, hal seperti ini membuat Salsa ingin menangis. Lelaki yang di sukainya selama tujuh tahun kini berdiri tepat di depannya sembari memimpin sholat. Salsa tidak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi.


Namun, semakin mengingat rasa senang yang di timbulkan oleh perlakuan Dirga padanya, semakin tumbuhlah rasa bersalah di hati Salsa. Salsa ingin menikmati menjadi istri sesungguhnya, namun bersamaan dengan itu rasa bersalah lagi dan LAGI terus membelenggu dalam dirinya.


Salsa mencium tangan Dirga ketika sholat itu sudah selesai. Setelahnya, mereka berdua merapalkan doa kepada Sang Maha Kuasa.


Di setiap sudut yang membuat hati seorang manusia dengan tenang.


"Alhamdulillah," kata Dirga pelan sembari berdiri dan menggulung sajadahnya.


"Mau mengaji, bersama?" Tiba-tiba Dirga berseru yang membuat hati Salsa merasa nyaman.


Hal seperti ini lah yang di nanti-nantikan setiap wanita pada pasangannya. Wanita mana yang tidak ingin berada di posisi nyaman ketika bersama pasangannya.


Satu hal yang ada di pikiran Salsa. Pikiran yang selama ia menikah dengan Dirga.


Apakah Dirga belum mencintai, dirinya?


To be continued...


Follow ig saya @meigasellaap


Dirga dan Salsa


...

__ADS_1


...


__ADS_2