Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
go to


__ADS_3

Salsa sedikit kesal. Oh ralat! Salsa kesal sekali hari ini. Wajahnya yang tampak cemberut membuat Rena bertanya kepada Salsa. Kini mereka berjalan memasuki gedung terbuka yang cukup besar setelah keluar dari sebuah taksi.


"Lo kenapa, sih?!" Tanya Rena yang geregetan melihat Salsa yang gelisah bercampur dengan kesal.


Bagaimana tidak kesal, hari ini Salsa akan berangkat menjadi relawan di Kalimantan Selatan, dimana tempat musibah itu berada dan Dirga sama sekali tidak mengantarnya ke bandara. Tadi malam, Dirga juga tidak tidur di rumah. Itu membuat Salsa semakin kesal. Dirga hanya mengabari Salsa melalui ponsel saja.


"Oh gue tau, pasti karena abang lo!" Kata Rena sembari tersenyum jahil. Salsa tidak menjawab pertanyaan Rena. Karena ia sudah badmood duluan.


Mereka memutuskan untuk duduk diruang tunggu dengan Rena yang menemani Salsa. Ya, Rena ke bandara hanya mengantar Salsa. Sebenarnya, ada banyak temen Salsa yang akan berangkat kesana, namun tetap saja ia belum terlalu mengenalnya. Mereka ramah pada Salsa.


Rena menyodorkan sebuah cokelat hangat untuk Salsa yang baru saja ia beli di kedai kopi yang ada di dalam bandara. Minuman cokelat dan permen yang mampu membuat moody Salsa kembali lagi.


"Lo emang temen yang paling oke!" Seru Salsa tersenyum manis menatap Rena yang kemudian juga ikut tersenyum.


Sebelum meminumnya, Salsa menghirup aroma cokelat itu. Menikmati setiap aroma yang ia sukai.


Mungkin sekitar setengah jam an mereka menunggu pesawat akan take off, hingga kini giliran mereka. Salsa bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Rena. Ia memeluk erat sahabatnya, namun Rena spontan melepaskan pelukan Salsa yang terlalu erat. Hal itu membuat Salsa bingung. Kemudian, Rena tertawa sembari memberikan salam untuk hati-hati. Salsa tidak sempat membahas kenapa dengan Rena karena teman-teman lainnya sudah berjalan menuju hanggar pesawat. Salsa tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Rena. Tidak lupa, ia mengucapkan terima kasih pada Rena yang sudah menemaninya di bandara.


Beberapa menit lagi, pesawat akan segera take off. Di dalam pesawat, seorang pramugari sedang menjelaskan untuk keselamatan utama jika terjadi sesuatu.


Salsa memperhatikan sembari merapalkan doa dalam hatinya. Sedikit takut sebenarnya, karena kemarin ada berita pesawat jatuh. Rasa parno langsung saja timbul. Namun, Salsa berpikiran positif.


***

__ADS_1


Tidak ada dua jam, Salsa sudah sampai di pulau Kalimantan Selatan dengan selamat. Seluruh penumpang mengucapkan syukur. Di sana, sudah siap kendaraan anggota TNI yang menjemput relawan-relawan dari luar pulau. Relawan luar pulau kebanyakan dokter dan perawat karena mereka tenaga medis utama yang di butuhkan. Para relawan sangat senang karena mereka sangat di hargai.


Salsa turun melewati tangga pesawat. Matanya seperti segar karena melihat langit yang begitu luas tanpa terhalang gedung-gedung tinggi. Salsa menghirup banyak pasokan udara, kemudian membuang.


"Dokter Salsa," suara bariton itu terdengar di atas tangga. Salsa yang hampir sampai kebawah langsung mendongak ke atas untuk melihat siapa yang menyapanya.


Ternyata dokter Randy.


Salsa tersenyum, dan segera turun dari tangga.


Dokter Randy menyusul langkah Salsa yang sudah lebih dulu, hingga saat ini mereka berjalan bersama.


"Ikut jadi relawan, juga?"tanyanya pada Salsa. Salsa sebenarnya malas menanggapi pertanyaan yang seharusnya tidak perlu sebuah jawaban. Tentu saja Salsa ikut menjadi relawan. Buktinya, ia sudah sampai kesini.


"Iya, dok," katanya.


Namun, hendak masuk ke dalam mobil seperti ada seseorang yang ia kenal. Tapi, siapa? Salsa seger masuk ke dalam mobil. Ia mencari tempat duduk paling depan karena ia pertama masuk. Salsa kembali mencari seseorang yang di kenalnya melalui kaca jendela. Namun, ia tidak menemukannya.


"Nyari siapa, dokter Salsa?" Tanya dokter Randy yang baru saja masuk mobil.


Salsa menggeleng, "nggak siapa-siapa kok dok," katanya.


"Saya boleh duduk, sini?" Tanyanya pada Salsa yang di angguki oleh Salsa.

__ADS_1


Dokter Randy segera duduk di sebelah Salsa. Mereka mengobrolkan seputar keadaan banjir yang baru saja di update. Memang parah banjir tersebut. Sebagai sesama manusia, hati merasakan iba. Karena saudara kita sedang terkena musibah. Kita yang tidak terkena musibah harus banyak mengucapkan rasa syukur.


**


Mereka tiba di salah satu posko korban banjir. Setelah turun dari pesawat, mereka segera turun tangan ke TKP karena sudah tidak ada waktu lagi untuk sekedar beristirahat saja. Kasihan saudara kita yang sudah kelaparan, kedinginan bahkan ada yang sakit. Obat-obatan adalah hal utama. Para relawan segera, dokter dan perawat, langsung memeriksa masing-masing orang yang ada di dalam posko pengungsian.


Beberapa kardus yang berisi makanan segera relawan bagikan pada pengungsi.


Kebanggaan yang sebenarnya kebanggaan sesungguhnya adalah ketika Salsa pontang-panting tidak kenal rasa lelah membantu orang lain. Kebanggaan yang akan terus Salsa sukai. Dengan lincah, perempuan itu membantu korban banjir. Situasi saat ini jangan di tanyakan lagi. Semua orang sibuk berinteraksi satu sama lain. Tidak hanya para dokter dan perawat saja, namun ada anggota TNI dan mahasiswa yang ikut andil dalam menjadi relawan untuk bencana banjir besar ini.


Hingga waktu terus berjalan, mereka tampak tak pedulikan. Tentu saja waktu sholat harus di perhatikan.


Salsa keberatan membawa sebuah kotak yang berisikan beberapa kotak nasi, walaupun badannya mungil, ia tidak pantang menyerah untuk membawa kotak kardus tersebut.


Ia hampir saja oleng jike seseorang tidak memeganginya.


"Astaghfirullah," pekik Salsa spontan.


Salsa mendongak dan terkejut melihat orang itu. Seseorang yang berseragam loreng telah tersenyum manis menatapnya. Memeganginya dengan penuh hati-hati.


Orang itu yang ia lihat di bandara tadi!


To be continued....

__ADS_1


Aku BUKA GC WHATSAPP UNTUK KONSULTAN SEPUTAR MASALAH CERITA INI. SILAHKAN ADD WA SAYA DI BIO ******* YAA.


JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA! MAKSA NIH ❣️  


__ADS_2