
PART 7. MAAF
"Maafkan saya Salsa, bukan maksud saya seper--" ucapan Dirga terpotong karena Salsa menyela lebih dulu.
"Ah tidak apa-apa, Kak. Terima kasih sudah menyelamatkan saya," kata Salsa menunduk. Dirga membawanya di bawah pohon besar yang jauh dari rumah sakit. Mereka dapat melihat, betapa parahmya rumah sakit pusat karena hantaman bom besar. Sebagian gedung itu retak bahkan ada yang roboh sebagian. Situasi seperti ini sangat di takutkan oleh Salsa dan relawan lainnya. Tapi, mereka pasrah. Hidup dan mati meraka serahkan pada Sang Maha Kuasa.
"Kak," panggil Salsa sembari menunduk. Gadis itu tampak ragu dan gelisah. Dirga dapat menangkat raut wajah gelisah itu.
"Ada apa, Sal?"
Salsa tampak gugup berada di dekat pria itu. Ia berdeham sebelum berkata, "Bu-bukannya, bu-bulan depan kakak nikah, ya?" tanya Salsa gugup sembari meremas jas dokternya.
Dirga menaikkan satu alisnya, "Ada apa?"
"Ah tidak papa, saya hanya tanya kok,"
"Di undur Sal. Karena saya harus ke sini," kata Dirga.
"Oh" kenapa harus di undur? ... Lanjutnya dalam hati.
"Saya menghampiri yang lain dulu, kamu mau ikut ke base camp? Di sana lebih aman. Nanti, kalau situasi sudah membaik kita ke sini lagi," kata Dirga.
Salsa mengangguk dan mengikuti Dirga yang memasuki mobil tentara angkatan darat. Mereka tidak hanya berdua, tapi ada tentara lain yang ikut dalam mobil itu. Rupanya dokter lain pun sudah berada di dalam mobil ini untuk segera mengungsi ke base camp TNI AD. Beruntung hari ini tidak ada pasien, jadi memudahkan mereka untuk menghindar dari musibah sebentar.
Dalam perjalanan, Salsa menatap kosong gurun yang memanjang. Pikirannya berkecamuk, hatinya sakit. Ia berpikir, sepertinya ia akan menghadiri pesta perkawinan kakak sepupunya dan Dirga. Mengingat perkataan pria itu, jika acaranya di tunda. Hati Salsa sesak, ia harus beralasan apa lagi? Salsa memang berusaha menghindar. Tidak mungkin ia datang di pesta itu walaupun Ara adalah kakak sepupunya. Salsa merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
"Hih!" seru Salsa yang mengagetkan orang-orang yang ada di dalam mobil. Mereka kebingungan menatap Salsa yang tiba-tiba menggeram pelan.
"Kenapa, Sal?" tanya dokter Alif.
Salsa merutuki dirinya untuk kedua kalinya. Ia menggeram tanpa sadar! Pikirannya benar-benar kalut sehingga ia tidak menyadarinya.
"Em-Eh, nggak apa-apa kok, tadi ada nyamuk gigit kaki aku, hehe," kata Salsa garing.
Mereka saling tatap. Semenit kemudian, mereka kembali fokus pada perjalanan yang sebentar lagi akan sampai.
allahumma ajurni fii mushibatii wa akhlif li khairan minha...
Salsa terus menggumamkan sebait ayat itu. Ayat itu sudah menjadi jamuan dirinya ketika mengingat cinta pertamanya yang segera menikah. Setelah membaca sebait ayat itu, hati Salsa sedikit tenang. Ia terus mengucapkan jika mengingatnya.
Salsa melihat gerombolan anak-anak itu dengan miris. Hatinya seperti tertohok dalam. Matanya berkaca-kaca.
Mereka masih sangat kecil, tapi sudah merasakan siksa dunia...batin Salsa.
Salsa bergegas menghampiri mereka dan berjongkok. Begitupun dengan yang lainnya.
"Hai, sayang. Kenalin, nama kakak adalah Kakak Salsa," kata Salsa sembari tersenyum lebar. Salsa di sambut begitu hangat oleh mereka. Hati Salsa sedikit tenang, karena mereka merasa terhibur sedikit dengan sapaannya.
Mereka mengajak gerombolan anak-anak tak berdosa itu untuk sedikit bermain agar mereka terhibur. Hingga tawa riang menggema di depan tenda TNI AD. Mereka begitu ceria kedatangan dokter-dokter relawan dari Indonesia. Kehangatan dan kenyamanan menyelimuti mereka. Nama Allah Swt. yang selalu di puja-puja dalam permainan mereka. Menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, membuat hati mereka nyaman. Seakan-akan, Allah telah bergabung dan bermain bersama mereka. Bernyanyi, bermain bersama.
"Kak Salsa cantik banget," kata salah satu anak perempuan berhijab putih. Anak kecil itu terlihat imut, mungkin umurnya sekitar 5 tahun.
__ADS_1
Salsa tersenyum lebar dan berkata, "Terima kasih, adek. Cantik ini pemberian Allah," kata Salsa lembut.
"Kak, aku kalau besar nanti pengen jadi dokter kayak kakak,"
"Aku juga pengen jadi dokter, kak,"
"Kalau aku pengen jadi Tentara aja, supaya kalau ada penjajah, aku bisa melindungi negara," kata anak kecil berkulit hitam manis.
"Aku jadi imam di masjid aja, kak,"
"Aku polisi, kak,"
Begitu banyak celoteh gembira dari anak-anak itu. Di dalam hati, Salsa mengaminkan perkataan mereka. Walaupun hati Salsa miris mendengar cita-cita mereka yang begitu tinggi. Tapi, ia yakin jika Allah Maha Adil. Allah akan menegakkan semua ini. Allah selalu melindungi ummat-Nya. Salsa yakin seratus persen. Allah pasti memberi yang terbaik untuk hamba-Nya.
"Salsa," panggil suara bariton yang di kenalnya.
Salsa menoleh melihat siapa yang memanggilnya.
"Ada apa, dokter Evan?"
"Saya merasa miris melihat mereka, tapi Allah akan selalu memberikan yang terbaik, kan?"
"Ah iya, dokter Evan. Benar. Saya yakin itu seratus persen. Allah nggak bakal membiarkan hamba-Nya kesulitan kecuali itu adalah pelajaran kehidupan,"
***
__ADS_1