
Dirga sedang menata beberapa koper untuk di masukkan ke dalam bagasi mobilnya. Ia akan mengantar mertuanya ke bandara hari ini. Karena kedua orang tua Salsa akan mengurus bisnis ke Makassar. Kemarin, setelah pulang dari kerjanya, Salsa dan Dirga memutuskan untuk menginap di rumah kedua orang tua Salsa. Awalnya, Dirga akan kembali ke rumahnya sendiri, namun mertuanya malah menawarkan untuk tidur di rumah mertuanya saja dan Dirga menyetujuinya. Sebagai rasa hormat kepada sang mertua. Mereka juga izin kerjanya untuk berangkat siang agar bisa mengantar kedua orang tua Salsa ke bandara. Lumayan jauh jaraknya, mungkin 30 menitan jaraknya.
"Gimana, nak? Kopernya sudah kamu masukkan?" tanya ayah Salsa pada Dirga. Pria paruh baya itu seusai sarapan pagi di dalam segera keluar menghampiri Dirga yang sudah dulu selesai sarapan kemudian menata koper di bagasi mobil.
"Siap komandan, sudah!" Kata Dirga sembari hormat pada ayah mertuanya menirukan gerakannya yang biasanya ia pakai ketika di dalam dunia militer.
Ayah Salsa tertawa dan menepuk-nepuk punggung Dirga berkali-kali dengan pelan sembari menggelengkan kepalanya.
"Allah memang tidak salah memberi seorang menantu seperti kamu," kata Ayah Salsa di selingi dengan tawa. Terlihat akur seorang menantu dan mertuanya sedang bercanda bersama. Hal seperti ini pasti di idam-idamkan setiap wanita.
"Siap komandan, terima kasih!" Kata Dirga dengan garang yang di buat-buat dan kemudian mereka tertawa bersama.
Pemandangan seperti itu yang ingin di lihat oleh Salsa. Dari balik jendela, ia melihat Dirga dan ayahnya saling bercanda bersama. Hatinya terharu, namun bersamaan dengan hal itu, rasa bersalah itu datang kembali. Hingga suara bundanya mengagetkan dirinya. Salsa beristighfar beberapa kali.
"Allah nggak salah ya pilihin jodoh buat kamu," kata bundanya dengan tersenyum ramah.
Belum sempat Salsa mengelak pernyataan itu, Ayah Salsa sudah memanggilnya dari luar. Karena jamnya sudah mepet dengan jadwal terbangnya, maka mereka segera membereskan rumahnya dan langsung keluar.
"Nak Dirga nggak usah repot-repot bantuin kami. Apalagi gelarnya udah kapten, pasti sibuk," kata bunda Salsa sudah siap untuk menaiki mobil Fortuner putih itu.
"Nggak papa kok tante, santai aja. Dirga tadi sudah izin," kata Dirga sopan.
Mendengar Dirga menyebut tante, membuat bunda Salsa sedikit ganjal. Beliau mengarahkan Dirga untuk memanggilnya ibu saja, layaknya ibunya sendiri.
Ayah Dirga segera menyuruh mereka memasuki mobil, karena nanti takut ketinggalan jam terbang. Di dalam mobil, Dirga menyalakan musiknya agar suasana tidak terlalu hening. Ayah Dirga kemudian angkat bicara mengajak ngobrol menantunya karena Ayah Dirga di depan dengan Dirga yang menyetir mobilnya. Salsa di belakang dengan bundanya. Suasana hening itu sudah pergi dan tergantikan oleh suasana yang begitu ramai karena candaan ayah Dirga yang melenyapkan keheningan yang berpendar.
Mereka tertawa bersama menceritakan hal-hal yang lucu dan menarik untuk di bicarakan. Sekaligus untuk mengusir rasa kebosanan karena perjalanan yang lumayan jauh. Dengan konsentrasi, Dirga mengikuti keseruan tersebut.
Hingga 30 menit tak terasa berlalu, mereka akhirnya sampai di bandara udara.
__ADS_1
Dirga dengan sigap langsung membantu menurunkan koper di bagasi mobil. Mereka masuk ke dalam bandara.
Di tempat ini banyak orang berlalu lalang entah itu ingin bepergian seperti kedua orang tua Salsa, entah itu menjemput saudaranya yang baru datang dari luar pulau Jawa, entah itu hanya sekadar mengantar kepergian saudara seperti Salsa. Tempat ini layaknya sebuah perjumpaan bertemu.
"Bunda sama Ayah hati-hati, ya," Salsa berkata sembari memeluk kedua orang tuanya dengan sayang. Kedua orang tuanya membalas memeluk Salsa dengan erat.
"Kamu jaga kondisi baik-baik ya Sayang," kata Bundanya dengan lembut. Entah kenapa Salsa ingin meneteskan air matanya. Biasanya Salsa tidak menangis jika mengantar kepergian kedua orang tuanya untuk bisnis keluar pulau.
"Ayah sama bunda yakin mau berangkat hari, ini?" Tanya Salsa memastikan. Entah kenapa, hatinya sangat berat melepaskan kepergian kedua orang tuanya ke Makassar kali ini. Biasanya ia juga bersikap biasa saja.
Bunda Salsa menatap ke arah Dirga yang sedang tersenyum menatap dua orang tua dan anaknya berpelukan.
"Nak Dirga, tolong jaga Salsa selama saya pergi, ya. Salsa anaknya bunda satu-satunya yang manjanya nggak ketolongan," kata bunda Salsa dengan tertawa pelan. Salsa langsung menyela kalimat bundanya yang menggodanya.
Dengan semangat Dirga menjawab, "siap laksanakan perintah komandan!" Katanya sembari tertawa manis.
"Ya sudah, nanti kami ketinggalan pesawat. Ayah sama bunda pergi dulu ya," pamit bundanya pada Dirga dan Salsa. Sekali lagi, hati Salsa terasa berat.
"Hati-hati ya tan, sama om. Saya bakalan jaga Salsa. Karena sudah menjadi kewajiban saya sebagai kepala keluarga. Oh iya om, tenang aja. Nanti kalau Salsa nakal saya masukkan ke ketiak saya," kata Dirga dengan sopan dan nadanya mengandung candaan yang membuat kedua orang tua Salsa tertawa.
Setelah berpamitan, mereka memutuskan untuk segera memasuki hanggar pesawat karena jam nya sudah mepet.
"Ayo Sal, pulang," kata Dirga setelah memastikan jika kedua orang tua Dirga sudah tidak terlihat matanya. Salsa hanya mengangguk.
Mereka berjalan ke arah jalan keluar menuju parkiran mobil. Namun, di pertengan jalan Salsa menghentikan langkahnya yang membuat Dirga ikut berhenti berjalan dan bertanya pada Salsa.
"Kenapa, Sal? Ada yang ketinggalan, barangnya?"
Salsa menggeleng, "Kak Angkasa," panggilnya.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu lapar? Mau makan pecel lele langganan, saya?" Kata Dirga. Entah kenapa Dirga selalu menawarkan pecel lele langganannya.
Salsa menggeleng, "nggak papa, kayak ada yang ganjel aja gitu di hati," kata Salsa sembari melanjutkan langkah kakinya menuju mobilnya. Dirga mengikuti langkah mungil istrinya dari samping.
Kenapa?
**
Seseorang perempuan sedang duduk santai menikmati es degan. Semilir angin membuatnya terlena dengan angin laut yang sejuk ini.
Seorang lelaki menaruh es jeruk tepat di depan perempuan berhijab itu.
"Inget! Di sini ada gue! Jangan pernah mandangin cowok lain selain gue! Lo milik, gue!" Kata laki-laki itu dengan nada penuh penekanan.
Tiba-tiba angin laut yang sejuk itu lenyap bersamaan dengan perasaan senangnya yang baru saja ia nikmati sebelum lelaki itu datang.
Sebenarnya, mereka siapa?
To be continued....
Aku seneng kalo kalian semangatin aku nulis ini. Jangan lupa folllow Instragram aku @meigasellaap. Biar makin semangat haha.
Btw, ini masih hujan nih. Aku update buat kalian. Huhu.
Happy reading.
...
...
__ADS_1