
Salsa berjalan memasuki mobilnya untuk kembali kerumah, karena ini sudah jam dinasnya berakhir. Sebelumnya, ia tadi membeli donat salju yang di sukainya di kantin rumah sakit.
Salsa bersholawat sembari membuka jok belakang mobilnya. Entah mengambil apa dirinya. Salsa mengamati sekitarnya, parkiran itu terlihat sepi. Tidak heran bagi Salsa karena sudah biasa.
Ketika ingin membuka handle pintu mobilnya, tiba-tiba ia disergap dari belakang. Salsa meronta begitu saja. Namun, apalah daya kekuatannya tidak sekuat itu. Tidak lama ia tidak sadarkan diri.
***
Tempat itu begitu kumuh, seperti rumah ratusan tahun yang tidak di huni. Terlihat dari tebalnya sarang laba-laba di sana. Seorang perempuan dengan celana pendek ketat telah duduk di salah satu kursi besar yang terlihat rapi. Rambut perempuan itu terlihat rapi dan bersemir. Bajunya yang ketat juga menampakkan bentuk tubuhnya yang indah. Dengan perutnya yang membesar karena hamil menambahkan aura perempuan itu. Di jemari lentiknya, ada sebatang rokok yang terselip di sana hanya tersisa setengahnya.
Dengan gaya yang cukup elegan, perempuan itu menghisap rokoknya kembali dan mengepulkan asap rokoknya ke udara dengan gaya yang cukup santai. Tiba-tiba, perempuan itu berdiri dengan memasang wajahnya yang marah. Di depannya, ada banyak pengawal yang berjas hitam yang menundukkan kepalanya hanya untuk menghormati perempuan itu.
Tentu saja para pengawal itu tidak berani menatap perempuan yang sekarang sedang membanting sesuatu di atas lantai dengan cukup keras. Hingga kemarahan perempuan itu tiba-tiba menghilang ketika melihat pintu di depannya terbuka. Senyum jahatnya terlihat begitu anggun.
Seorang perempuan yang mungil telah tidak sadarkan diri berada di atas gendongan salah satu pengawal perempuan itu.
"Letakkan di situ saja," kata perempuan itu dengan datar dan dingin.
Pengawal itu hanya mengangguk dan menuruti permintaan majikannya. Seorang perempuan dengan rokok yang terselipkan di salah satu jemarinya, telah berjongkok di depan perempuan yang saat ini sedang tidak sadarkan diri. Sesekali perempuan berbaju seksi itu menghisap rokoknya dan mengepulkan ke udara.
Perempuan berbaju seksi itu tersenyum sinis ketika melihat targetnya membuka matanya dengan perlahan karena menyesuaikan cahayanya.
__ADS_1
Tanpa di duga, perempuan berbaju seksi itu telah menancapkan api yang tersulut pada ujung rokok tersebut sehingga membuat mata Salsa terbuka lebar dan kesakitan karena panas api rokok tersebut.
"Hai manis," sapa perempuan berbaju panjang itu.
Salsa yang melihat siapa yang ada di depannya saat ini sangat terkejut bukan main. Entah semuanya seperti mimpi yang begitu nyata.
"Bangun!" sentak perempuan itu dengan kasar.
Salsa yang masih lemas dan merasakan rasa sakit, harus terpaksa bangun. Salsa sudah meneteskan air matanya karena tiba-tiba saja hatinya hancur dan terluka.
Perempuan itu berdiri dan membelakangi Salsa yang di paksa bangun. Tangannya masih terasa sakit karena api rokok tadi. Jangan di tanya lagi, Salsa sudah menangis. Dan ia hanya mampu menyebutkan nama Allah dan Dirga di dalam hatinya. Salsa tanpa sadar juga memeluk perutnya sendiri. Berharap pelukan kecilnya akan bisa menyelamatkan janin yang ada dalam perutnya. Walaupun masih janin, Salsa sudah menyayanginya. Air matanya menangis tidak tertahankan. Rasa takut langsung saja menyerbu perempuan itu. Dalam doanya, ia memasrahkan seluruh hidupnya pada Allah swt.
Salsa menggeleng sembari menangis.
"Aku cuma pengen kamu tau satu hal," kata perempuan itu dengan mendekati Salsa, lalu mencekik leher Salsa yang menangis. Kedua mata mereka bertemu. Tatapan yang sangat berlawanan.
"Dan kamu akan terkejut setelah mendengarkan berita ku ini," kata perempuan itu dengan geram lalu tertawa sinis.
Salsa tidak menanggapi, ia hanya menangis. Karena tidak mampu harus berbuat apa lagi. Seseorang yang dikenalnya begitu baik, sekarang menjadi seorang yang menusuk Salsa sedalam palung marina. Hati Salsa sesak. Hati Salsa hancur. Seseorang yang ia telah percaya, ternyata adalah musuhnya sendiri.
Salsa kehabisan napas nya karena perempuan itu mencekik Salsa begitu erat. Salsa meronta, namun ia lebih lemah ketimbang perempuan hamil itu.
__ADS_1
"Sakit?" tanya perempuan itu dengan tawanya yang bahagia.
"Itu nggak sebanding ketika aku melihat kamu menikah sama Dirga!" kecamnya.
Bukankah, perempuan itu yang memaksa Salsa untuk menikah dengan Dirga?
"Terus kamu enak-enakan sama Dirga? Sedangkan aku menderita sendiri. Kalian memang nggak punya malu! Dan kamu harus tau satu hal kenapa aku meninggalkan Dirga,"
Perempuan itu melepaskan tangannya pada leher Salsa. Salsa bisa bernapas dengan lega walaupun lehernya sekarang terasa sakit.
"Kayaknya, kita perlu bermain-main supaya permainan ini tidak cepat game over. Sekarang nikmati saja kartu as mu itu. Nggak usah sungkan sama aku. Aku bakalan ngeluarin kartu joker di akhirnya nanti,"
Dan dengan tega, perempuan itu menendang perut Salsa yang membuat Salsa semakin menangis dan memeluk perutnya dengan erat. Salsa mundur karena ia ketakutan.
"Takut? Jangan takut dong sama aku. Aku nggak bakalan nyakitin janin kamu kok. Aku cuma pengen kamu tau satu hal aja,"
"Yang ada dalam perutku itu, adalah anak Dirga,"
To be continued...
Holaaaa aku up hihi. Selamat menikmati malam indah kalian. ðŸ˜
__ADS_1