Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
sebuah keputusan


__ADS_3

"bingkisan dari, siapa?" Rena bertanya pada Salsa yang baru saja duduk di sebelahnya. Rena tampak curiga karena Salsa tersenyum sendiri. Jangan-jangan? Oh no!


"Dari akang," kata Salsa sembari berfokus pada Rena yang mengernyit karena jawaban Salsa. Akang, siapa?


"Akang gendang?" celetuk Rena asal.


"Kak Dirga lah, Ren," katanya sembari sewot dan matanya yang masih berfokus menatap sebuah kotak pink di depannya. Perempuan itu masih tersenyum sendiri sehingga membuat Rena menjadi bergidik ngeri melihat Salsa.


"Kalo ngomong di biasain natap muka, nggak sopan," kata Rena yang merasa terabaikan karena Salsa yang masih berfokus pada kotak tersebut. Perkataannya mampu membuat Salsa langsung memeluknya dan mengelus punggungnya dengan lembut sembari berkata, "ya Allah sayangku, cintaku--" Rena langsung mendorong Salsa sembari bergidik ngeri. Salsa terkekeh geli melihat Rena yang kesal dengannya.


Salsa menaruh kotak pemberian dari Dirga itu di atas meja. Ia tidak jadi membukanya dengan alasan, ia akan semakin merindukan lelaki itu jika membukanya sekarang. Rena yang sudah penasaran dengan isi kotak tersebut, memaksa Salsa agar membukanya. Namun dengan kukuh, Salsa menolak walaupun ia ingin tahu sekali isi dalam kotak tersebut.


Tiba-tiba Salsa mual lagi. Hal itu tentu saja menarik perhatian Rena. Rena menatap curiga yang membuat Salsa bertanya, "kok gitu banget, liatnya?"


"Lo hamil, ya?" tebak Rena dengan suara yang pelan dan lebih mendekat ke arah Salsa. Salsa malah seperti orang yang di tuding pencurian sebuah kendaraan bermotor.


"Apaan, sih?!"


"Ya kan? Lo hamil, kan? Ngaku deh!" Kata Rena sembari menjauh dari Salsa.


"Kalo gue hamil, kenapa?"


"Ya gue ikut seneng lah," kata Rena sembari mendekat ke arah Salsa, "jadi selama ini lo anggep gue itu, apa? Tega lo, Sal! Hamil nggak bilang-bilang gue," kata Rena yang cemberut karena Salsa yang tidak memberitahukan kabar gembira ini pada Rena. Salsa meminta maaf pada Rena. Bukan berarti Rena benar-benar marah dengan Salsa. Salsa menceritakan semua apa yang terjadi selama ia hamil. Ternyata usia kandungannya sudah empat minggu. Rena kaget mendengarnya. Jangankan Rena, Salsa saja juga terkejut karena usia kehamilan Salsa. Jadi, memang benar dugaan Dirga jika Salsa hamil. Tapi, kenapa Dirga lebih mengerti daripada, Salsa?


Rena tertawa karena mendengar cerita Salsa.


"Gue nggak nyangka saja, Allah mempertemukan lo sama orang yang lo cintai diam-diam. Emang ya, kalo namanya sudah jodoh, ya mau gimana lagi. Sudah jadi garis hidup lo buat di pertemukan sama orang yang lo suka. Ada juga yang mencintai dalam diam kayak lo, tapi endingnya nggak bisa bersatu. Pasti sakit banget ya," Rena bercerita dengan antusias. Perempuan itu lebih mendekatkan dirinya ke Salsa yang siap ingin menanggapi perkataan Rena.

__ADS_1


"Berarti kalau nggak bisa bersatu, itu tandanya dia itu nggak baik untuk kita. Makanya dengan segala cara Allah yang baik pula, Allah menjauhkannya. Karena memang bukan jodohnya juga," kata Salsa dengan senyuman manisnya, "eh Ren! Lo pernah kan berdoa sama Allah buat mendapatkan jodoh yang baik pula, yang bisa menggenggam tangan lo dengan bener-bener ketika lo hampir jatuh. Dan setia menemani lo sampai di penghujung hidup, lo?" Salsa bertanya seperti itu karena ia juga pernah mengalaminya. Walaupun Salsa mencintai Dirga dengan diam-diam, Salsa selalu berdoa mendapatkan imam terbaik untuknya walaupun bukan Dirga. Yang memang benar-benar bisa menuntun Salsa ke jalan Allah dan tidak mengikuti nafsu duniawi yang jelas-jelas tidak akan ada habisnya. Salsa juga bukan orang yang munafik. Salsa juga mengakui jika dirinya juga belum menjadi manusia yang baik. Salsa juga masih terlena dengan dunia. Namun, Salsa berusaha untuk tidak mengikuti nafsu dunia yang hanya semata saja. Walaupun usaha itu memang sulit. Namun, apa yang di dapatkan akan menghapus kelelahan selama berusaha menjadi manusia yang berjalan di jalan Allah.


Rena menganggukkan kepalanya dengan yakin.


"Nah jadi seperti itu cara Allah mengabulkan permintaan kita. Lo minta ke Allah jodoh yang baik, ya Allah kabulin permintaan lo. Allah kasih lo jodoh yang lebih baik dari sebelumnya," lanjut Salsa, "gue doain, abis ini lo nikah," lanjut Salsa yang langsung mendapatkan tabokan di bahunya oleh Rena.


"Gue doain yang bagus malah nggak mau," kata Salsa ekspresinya berubah menjadi sedih.


"Gue trauma aja," kata Rena sembari menatap nyalang ke depan. Salsa yang mendengarkan kalimat itu, langsung memeluk Rena dengan sayang. Ia mengelus punggung Rena dengan lembut.


"Udah, nggak papa. Kalo emang bener itu luka buat lo, mending nggak usah di ingat. Di delete aja di otak lo. Kalo perlu di blokir aja sekalian, supaya nggak muncul-muncul lagi," kata Salsa menenangkan Rena.


Tiba-tiba terdengar suara ketuka pintu lagi. Membuat Salsa segera berjalan untuk membuka pintu rumahnya. Salsa sedikit terkejut karena melihat Angga lagi yang berkunjung ke rumahnya.


"Ada apa, Angga?"


Angga membawa sebuah amplop putih besar yang ada di tangannya dan di sodorkan pada Salsa. Angga diam saja dan tidak mengatakan hal apapun sehingga membuat Salsa kebingungan.


"Ngga, mendingan masuk aja dulu deh. Nggak sopan tau," kata Salsa sembari mempersilahkan Angga masuk dan duduk di ruang tamu. Awalnya, Angga sempat menolak, namun Salsa memaksanya.


Angga duduk di sofa paling pojok. Karena bagaimanapun juga, ia harus tetap menjaga jaraknya. Angga melihat seorang perempuan yang matanya sembab. Angga bisa melihat jika perempuan itu pasti habis menangis. Cengeng! Kata Angga dalam hati. Bagi Angga, perempuan memang cengeng. Karena kelemahlembutan seorang wanita, Angga menjadi benci. Bukan berarti Angga tidak menikah dengan wanita karena membenci Haha! Bagi Angga, wanita itu makhluk yang lemah. Sudahlah! Angga tidak mau membahas soal wanita.


"Saya mau ngasih surat ini dari kepala direktur rumah sakit militer. Karena kami, bagian prajurit membutuhkan beberapa dokter ahli untuk menjadi relawan. Saya harap, kamu sampaikan ini pada teman-teman kesehatanmu. Awalnya kami yang meminta izin kepada kepala direktur rumah sakit untuk memilih petugas kesehatan menjadi relawan. Kami juga tidak memaksa," kata Angga.


Memang benar apa yang di katakan Angga. Angga menjelaskan pada Salsa jika mereka membutuhkan petugas kesehatan. Angga juga memberitahukan dimana tempatnya untuk menjadi relawan. Palestina. Iya! Tempat itu yang pernah di kunjungi oleh Salsa bersama dengan Dirga. Ketika Salsa masih menyimpan rasa cintanya terhadap Dirga. Dan akhirnya, Salsa tumbang karena bom dan di bawa ke Indonesia. Dan sekarang, ia mendapatkan tawaran itu lagi. Entah kenapa hati kecil Salsa tergugah untuk ikut menjadi relawan. Tapi, bagaimana dengan, Dirga?


Apa lelaki itu mengizinkan, dirinya?

__ADS_1


Karena, Salsa sekarang sudah menjadi tanggung jawab Dirga. Ia juga harus menghormati Dirga dan menerima apa keputusan Dirga terhadapnya.


Menjadi relawan adalah impian Salsa sejak kecil. Membantu orang-orang yang sedang sakit juga termasuk impian Salsa sehingga ia mengambil keputusan untuk menjadi seorang dokter.


Angga juga menjelaskan jika besok akan diadakan rapat dadakan di rumah sakit militer tempat Salsa bekerja. Salsa jadi teringat jika dirinya pernah ingin re-sign dari rumah sakit tersebut. Namun, ketika Salsa berjalan, seolah-olah ia telah melihat sebuah papan yang terpampang di pinggir jalan. Papan tersebut berisikan sebuah motivasi untuk Salsa. Entah seperti apa bunyinya sehingga membuat Salsa membatalkan re-sign-nya. Karena bundanya yang sembuh dari rasa traumanya juga ikut membantu Salsa meyakinkan untuk terus melanjutkan profesinya. Karena di luar sana, ada banyak orang yang membutuhkan Salsa.


Salsa melirik ke arah Rena yang mengangguk dengan yakin.


Salsa tentu saja bingung. Karena Salsa tidak mengetahui dimana keberadaan Dirga sekarang. Lelaki itu tidak memberitahukan dimana ia tugas. Dirga juga tidak bisa di hubungi sekarang. Jadi, bagaimana Salsa meminta izin lelaki, itu? Sedangkan, Angga berkata jika besok akan di adakan rapat dadakan.


Salsa menggeleng pelan menatap Rena. Rena meremas tangan Salsa lembut.


"Ya sudah, saya hanya menyampaikan itu saja. Besok beritahu teman-teman kamu. Nanti, bakalan ada juga relawan dari daerah lain."


Hati Salsa tergugah sekali. Namun, ia sekarang harus berbuat, apa? Bagaimana jika kejadian masa lalu terulang, lagi? Sebenarnya, Salsa tidak peduli dengan hal itu. Karena hidup dan matinya hanya di tangan Allah.


Salsa meraba perutnya sendiri tanpa sadar. Di dalam perutnya, ada malaikat kecilnya.


"Saya hanya menginginkan keikhlasannya saja," kata Angga berdiri. Lelaki berseragam loreng itu mengucapkan salam pada Salsa. Salsa juga mengantar kepergian Angga sampai di depan pintu.


"Jadi, keputusannya lo, apa?"


To be continued....


Maaf updatenya lambat. Karena author sambil kerjaa hehehe. Makasiiii yang udah nungguin.


Kira-kira apa yaa yang terjadi selanjutnya???

__ADS_1


__ADS_2