Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
dia kembali


__ADS_3

Salsa berjalan menuruni tangga setelah ia melakukan sholat isya' berjama'ah dengan Dirga. Perempuan itu menggunakan baju tidurnya yang bergambar batman berwarna pink serta kerudung instannya yang berwarna abu-abu. Ia tadi mendengar suara bel rumahnya berbunyi.


"Siapa, nak?" Bunda Salsa bertanya. Beliau duduk di salah satu kursi yang berada di ruang keluarga.


"Salsa belum tahu bunda. Siapa yang bertamu semalam ini," katanya sembari berjalan menuju ruang tamunya.


Salsa membukakan pintu itu dan terkejut melihat seseorang yang ada didepannya. Seorang perempuan dengan perut membesar karena hamil. Perempuan itu juga menangis. Dan yang paling Salsa terkejut, perempuan itu sudah tidak menggunakan jilbabnya lagi.


"I-ini mbak Ara, kan?" kata Salsa dengan sedikit gemetar. Ia langsung memeluk perempuan itu dengan erat. Tanpa sadar, Salsa menitikkan air matanya. Setelah itu, Salsa langsung membawa masuk Ara untuk duduk di ruang tamu.


Salsa mengusap air matanya yang sempat turun, "maaf Salsa cengeng, hehe," katanya sembari duduk di sebelah Ara yang juga menangis. Hati kecil Salsa ingin menangis karena melihat kondisi Ara yang sepertinya tidak baik.


"Mbak Ara kemana, aja?" kata Salsa sembari memeluk Ara lagi.


Dia kembali Salsa.


Sebenarnya, Salsa penasaran dengan keadaan Ara. Siapa yang menjadi ayah dari anak yang di kandung, Ara? Dan apakah Ara sudah menikah? Pastinya sudah, terlihat dari kehamilan Ara. Namun, kenapa? Bukannya Ara hanya mencintai Dirga, saja?


"Mbak Ara udah nikah?" tanya Salsa dengan hati-hati.


Namun gelengan kepala Ara membuat Salsa terkejut sekaligus bingung. Apa maksud dari, Ara?


"Mbak belum menikah," jelas Ara yang membuat Salsa lebih terkejut lagi. Tanpa sadar, perempuan itu menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Tidak percaya dengan apa yang di dengarnya saat ini.


"T-terus mbak?"


Ara langsung memeluk Salsa lagi dengan erat. Kali ini, Ara kembali menangis lagi di pelukan Salsa. Salsa mencoba memberikan kekuatan pada Ara. Perempuan itu mengelus punggung Ara dengan lembut. Hingga ekor matanya melihat seseorang yang muncul dari ruang tengah. Ternyata Dirga yang masih menggunakan sarung dan kopiyahnya. Sepertinya, pria itu selesai mengaji tadi setelah sholat isya' bersamanya.


Sembari menepuk-nepuk punggung Ara dengan lembut, ia memberikan kode pada Dirga jika yang di peluk ini adalah Ara, mantan tunangan Dirga. Dirga sempat terkejut beberapa detik. Kemudian, ia mengangguk dan masuk ke dalam lagi.


Namun, sebenarnya Dirga tidak percaya jika yang di peluk Salsa adalah Ara, mantan tunangannya yang tidak jelas.


Ara melepaskan pelukannya pada Salsa, "Mbak pengen kamu bantu mbak,"


Salsa mengangguk, "mbak butuh, apa? Insya Allah, Salsa bantu sebisa Salsa," kata Salsa dengan tulus.

__ADS_1


"Mbak boleh tinggal di sini? Nanti kalo mbak udah dapat kontrakan, mbak pindah ke kontrakan," kata Ara yang membuat Salsa sempat bimbang. Ia langsung menganggukkan kepalanya tanpa seizin Dirga terlebih dahulu.


Kemudian, Salsa mengantarkan Ara ke salah satu kamar tamu yang kosong. Dengan perlahan, perempuan itu membantu Ara untuk tidur di tempat tidur.


"Mbak kalo boleh tau, usia kandungan Mbak Ara sudah berapa bulan?" tanyanya dengan hati-hati. Sebenarnya, Salsa ingin bertanya kenapa Ara bisa sampai hamil di luar nikah. Bahkan ia sudah tidak memakai jilbabnya lagi.


"Delapan bulan, Sal," katanya sembari memposisikan tubuhnya untuk rebahan di tempat tidur yang berukuran king size.


"Ya udah, walaupun mbak Ara sudah menemukan kontrakan dalam kurun waktu dekat ini, mbak tetep di sini aja sampai proses bersalin mbak selesai," katanya dengan tulus.


"Kalau gitu, Salsa mau balik ke kamar dulu ya mbak. Mbak nggak papa di tinggal? Soalnya Salsa besok ada operasi,"


"Iya nggak papa,"


Salsa pamit dan menutup pintu kamar Ara dengan pelan. Sebenarnya, perempuan itu merasa gelisah. Entah apa yang membuatnya segelisah itu hingga ia tanpa sadar meremas celana tidurnya sendiri dengan keras. Sembari berjalan, Salsa menghampiri bundanya yang masih duduk diruang tengah sembari menonton televisi. Salsa duduk di sebelah bundanya sembari menghela napasnya.


"Ada apa?"


"Mbak Ara," katanya setengah-setengah.


"Mbak Ara bunda," katanya lagi yang membuat bundanya semakin bingung dengan apa yang di maksud Salsa.


"Mbak Ara kembali bunda," jelasnya yang membuat Bundanya terkejut bukan main. Ada senyuman manis yang terukir di wajah cantik wanita paruh baya itu.


"Sekarang dia, dimana?"


Salsa menghela napasnya, "dikamar,"


Bundanya hendak bangkit dari duduknya yang kemudian di cegah Salsa. Bunda Salsa memang sudah bisa berdiri dengan pelan-pelan karena terapi kakinya yang membuahkan hasil bagus "kenapa?"


"Besok aja bunda," kata Salsa dengan lembut.


"Bunda kangen sama Ara. Pasti dia juga kangen sama Bunda," kata beliau dengan semangat. Salsa bingung harus berkata bagaimana pada Bundanya jika Ara sudah hamil di luar nikah. Salsa sebenarnya juga terkejut bukan main karena berita itu keluar dari mulut Ara sendiri. Salsa juga tidak percaya jika Ara hamil di luar nikah. Karena setaunya, Ara adalah pribadi yang baik sehingga Ara menjadi panutannya. Tapi, sekarang?


Memang benar jika Allah adalah maha membolak-balikkan perasaan seseorang.

__ADS_1


"Bunda, besok aja," kata Salsa sekali lagi. Tiba-tiba, cewek itu merasakan mual. Spontan Salsa berlari ke wastafel yang tersedia di ruangan tengah. Bundanya juga otomatis menghampiri Salsa untuk memijat tengkuk Salsa.


"Kamu masuk, angin?"


Salsa mengangguk, "akhir-akhir ini Salsa sering mual dan pusing. Kayaknya kecapean deh bun. Soalnya kan banyak tugas di rumah sakit,"


"Kenapa, bun?" tiba-tiba Dirga datang.


"Mual lagi? Mungkin hamil deh kayaknya bun," celetuk Dirga tiba-tiba. Laki-laki itu mengatakannya tanpa beban sekalipun. Bahkan Dirga sembari memakan kacang tanah yang di goreng sembari duduk santai di sofa ruang tengah.


Perkataan Dirga mampu membuat Salsa membelalakkan matanya dan kemudian menatap Dirga tajam. Perempuan itu sampai menyipitkan matanya karena Dirga yang terlihat seperti candaan.


"Kok kamu melototin, saya?" katanya dengan santai.


Salsa mengamati Dirga.


"Ada apa, Sal? Kalo nyidam bilang ke saya. Saya siap menjadi suami siaga untuk kamu," katanya sambil berdiri dengan cepat sembari tangannya hormat pada Salsa layaknya mengikuti sebuah instruksi dari komandan pemimpin.


Hal itu malah membuat Salsa tersenyum. Tingkah laki-laki itu semakin hari semakin bobrok saja di depan Salsa. Mungkin ia dulu belum terlalu mengenal Dirga sehingga ia menilai Dirga adalah cowok yang kalem namun otoriter.


Bundanya malah tertawa melihat menantunya dan Salsa. Seperti beliau dahulu ketika masih muda. Beliau malah merindukan sosok seorang pria yang beberapa bulan yang lalu telah meninggalkannya sendirian di bumi. Namun, beliau percaya jika cinta sesungguhnya akan berlabuh pada pelabuhan yang tepat.


Dirga menghampiri Salsa yang masih tersenyum padanya, entah kenapa hati Salsa menjadi nyaman karena Dirga.


"Makasih ya," kata Dirga dengan tiba-tiba yang membuat Salsa tersenyum manis.


"Karena sudah mencintai saya selama itu,” katanya yang langsung mencium kening Salsa. Bundanya yang melihat hal itu langsung malu sendiri karena seperti melihat masa mudanya.


Namun, di balik tembok, ada seseorang yang sakit melihat hal itu.


To be continued....


Menjelang hari ulang tahun aku yang tepat di hari raya idul fitri 13 mei. Aku mau seeing update cerita ini sebisa mungkin aku luangin waktu untuk kalian semangat yaa.


Dan JANGAN LUPA BUAT FOLLOW IG AKU @meigasellaap.

__ADS_1


Spoiler cerita selanjutnya ada di Instagram aku. Makasihbb


__ADS_2