
"sudah sholat Ashar belum, Sal? Sebagai imam kamu, saya harus mengingatkan waktu ibadah kamu," kata Dirga. Saat ini mereka berjalan bersama menuju parkiran mobil Dirga.
"Udah dong," kata Salsa sembari berjalan menyesuaikan langkah Dirga yang lebar. Lama kelamaan, Salsa lelah menyesuaikan langkah Dirga yang lebih lebar darinya.
"Bisa nggak sih kak, kalo jalan itu pelan-pelan," kata Salsa sedikit sewot. Perempuan itu berhenti dan menatap Dirga tajam. Dirga pun ikut berhenti.
"Kok mata kamu melotot, gitu?" tanya Dirga tanpa rasa bersalah yang membuat Salsa semakin gemas ingin menabok Dirga saat ini juga. Namun, jika itu terjadi, bukan Salsa namanya.
Salsa hanya diam sembari menatap tajam Dirga. Dirga suka melihat mata sipit Salsa melotot seperti itu. Melotot atau tidaknya, mata Salsa sama saja karena sipit. Dirga suka karena Salsa sudah bangun dari rasa terpuruknya. Toh tidak bagus jika tidak segera bangkit dari rasa terpuruknya.
"Kenapa atuh, neng?" Kata Dirga sembari meraih tangan Salsa untuk mengajaknya melanjutkan jalannya.
"Jalannya pelan-pelan aja!" Kata Salsa lagi dengan kesal.
Dirga malah tertawa.
"Pendek sih," gumam Dirga yang terdengar Salsa.
"Kakak menghina makhluk ciptaan Allah, ya?" Tanya Salsa bertambah kesal dengan matanya yang menatap tajam Dirga. Seakan-akan tidak ada ampun lagi untuk Dirga.
Dirga tersenyum dan menarik Salsa untuk berjalan pelan. Sangat pelan bahkan membuat Salsa ilfeel.
"Kakak ini apaan, sih?!" Kata Salsa kesal LAGI.
"Loh kok, ngamuk?" Kata Dirga menoleh kebelakang, "apa mau saya gendong, aja?" Tawarnya yang membuat Salsa menatap tajam dirinya dan berjalan lebih dulu meninggalkan Dirga.
Dirga tersenyum jahil menatap langkah Salsa yang di hentak-hentakkan pada lantai putih rumah sakit. Istrinya benar-benar kesal. Terkadang, perempuan itu sangat membingungkan bagi Dirga. Hal itu lucu saja. Terkadang laki-laki juga tidak tau apa maksud sebenarnya perempuan ini. Perempuan sulit di tebak.
Dirga berlari menyusul langkah Salsa.
__ADS_1
"Mampir di warung pecel lele mbok surti dulu, ya? Soalnya saya laper banget," kata Dirga setelah membuka pintu mobilnya. Entah kenapa Dirga suka sekali menawari Salsa agar makan pecel lele sedari kemarin. Salsa hanya mengangguk. Dirga segera keluar dari halaman parkiran untuk menuju warung pecel lele Mbok Surti. Tempat tidak terlalu jauh.
Dirga memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Mereka sudah sampai di tempat warung penjual pecel lele tersebut.
Dirga melepaskan sabuk pengamannya sembari berkata, "jangan melihat dari bentuk covernya ya, Sal," kata Dirga yang membuat Salsa kebingungan apa maksud Dirga. Laki-laki itu banyak teka-tekinya.
Tanpa bertanya lagi kenapa Salsa memasang wajah bingung, Dirga lebih dulu menjelaskan maksudnya, "maksud saya, jangan melihat tempatnya yang sedikit kumuh, tapi pecel mbok Surti ini paling mantap yang pernah saya rasakan. Belum tentu restoran mewah memiliki rasa yang mantap. Ya pokoknya, jangan melihat sesuatu dari covernya dulu," kata Dirga sembari mengajak Salsa turun dari mobilnya. Mereka segera masuk ke warung kecil pinggir jalan itu.
Dirga memilih kursi tengah di ikuti Salsa yang duduk di depannya.
"Saya teh anget ya, kak," kata Salsa sembari menaruh tas kecilnya di samping. Dirga menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu segera memesan dua porsi pecel lele tersebut.
"Gimana, Sal? Udah suka sama saya, belum?" Tiba-tiba Dirga berkata seperti itu setelah memesan makanannya dan duduk di depan Salsa. Spontan saja, Salsa langsung memelototi Dirga dengan tatapan paling tajam yang ia punya. Sedangkan yang di tatap tajam malah tidak merasa terintimidasi sama sekali. Malahan, Dirga tersenyum.
"Pertanyaan saya salah, Sal? Oke! Saya rubah pertanyaan su--" Salsa langsung membungkam mulut Dirga yang suka nyeplos begitu saja.
Dirga melepas tangan Salsa.
Tak lama sebuah wanita paruh baya menyodorkan dua gelas minuman teh hangat dan dingin. Dirga melihat ternyata itu Mbok Surti.
"Uluh-uluh Mas Angkasa selalu jadi pelanggan setia saya," kata wanita paruh baya tersebut sembari tersenyum menatap Dirga. Kebiasaan Mbok Surti memanggil nama Dirga dengan sebutan Angkasa. Dulu, pernah mbok Surti memanggil Dirga dengan sebutan Kapten Angkasa, namun Dirga tidak menyukainya karena terlalu menonjol. Mata mbok Surti melirik ke sebelah melihat Salsa yang ikut tersenyum lembut.
Mata mbok Surti langsung berbinar menatap Dirga sembari berkata, "ini teh siapa, Mas Angkasa? Adiknya Mas Angkasa, ya? Geulis pisan euy. Cantik sekali," kata mbok Surti yang membuat Salsa tersenyum miris.
Adiknya Mas Angkasa, ya?
Maklum saja mbok Surti tidak tahu tentang pernikahan dadakan Dirga dengan Salsa. Karena Mbok Surti juga tahu jika pacar Dirga dulu adalah Ara. Dirga sering mengajak Ara makan di tempat ini.
"Istri saya, mbok," kata Diega tanpa ragu yang membuat hati Salsa menghangat seketika. Salsa juga sadar diri.
__ADS_1
Mbok Surti terlihat terkejut. Ingin menanyakan lebih lanjut itu juga tidak baik terlalu mencampuri urusan orang lain. Alhasil mbok Surti meminta maaf pada Salsa. Beliau semakin tidak enak pada Salsa yang beliau kira adik Dirga.
"Iya bu, tidak papa," kata Salsa sembari tersenyum ramah.
Dirga tersenyum melihat hal itu.
Mbok Surti pamit untuk kebelakang. Tak lama pesanan mereka datang.
Dirga segera mengambilkan sendok untuknya dan Salsa.
"Saya yakin, kamu bakal ketagihan kalau makan di sini," setelah berbicara, Dirga langsung menyantap nasinya dengan lahap. Sedangkan, Salsa pelan-pelan memakannya. Salsa ingin menahan senyumnya ketika melihat Dirga makan dengan begitu lahap. Layaknya anak ayam yang tidak di beri makan seminggu.
"Pelan-pelan dong, kak!" Kata Salsa sembari menyodorkan es teh Dirga, "makan itu di nikmatin. Nggak malah kayak di kejar polisi," lanjut Salsa. Tak bisa dipungkiri, jika Salsa selalu merasa nyaman di dekat Dirga.
Dirga menelan makanannya sebelum berbicara, "makan tidak boleh berbicara," kata Dirga yang membuat Salsa menghela napas kasarnya dan memakan nasi pecelnya dengan kesal. Kesal karena Dirga selalu menang dalam berkata.
Dirga tertawa dan mengacak puncak kepala Salsa dengan lembut. Salsa terlihat sangat menggemaskan di mata Dirga.
Mereka menikmati makanannya dengan tenang dan tidak berbicara sama sekali.
To be continued...
Kalo aku bikin grup WA khusus orang-orang yang mau curhat (mengeluarkan keluh kesahnya masing-masing, supaya hatinya sedikit tenang dengan menceritakan masalah kita ke orang lain)
Biasanya kan sedikit enteng kalo kita punya masalah terus curhat.
Yang mau bisa KOMEN DI SINI YA. MAKASIH YANG UDAH HARGAIN AKU.
ATAU BISA CHAT WA AKU. ADA DI LINK BIO ******* YAA. NOMOR WA AUTHOR 🤗
__ADS_1