
Salsa berjalan menyusuri danau kecil yang berada di dekat hotel yang ia tinggali. Gadis itu tersenyum melihat langit yang begitu cerah. Namun, senyumnya pudar ketika mengingat Ara yang tiba-tiba muncul di pikirannya. Bagaimana kabar, gadis itu?
Entah kenapa, Salsa terus menerus merasa bersalah pada kakak sepupunya itu. Hatinya begitu sesak ketika mengingatnya. Ia bisa membayangkan posisi Ara saat ini. Kakak sepupunya yang begitu mencintai suaminya saat ini. Sungguh menyakitkan!
Berulang kali ia istighfar dan melafalkan nama baik Allah swt. agar hatinya menjadi tenang. Satu-satunya hal yang paling ia sukai ketika mengingat sang Maha Kuasa. Hatinya tenang. Sebenarnya, ketenangan yang sesungguhnya berada Allah swt.
Dulu ia pernah merasakan hilangnya semangat hidup karena ia sudah kehilangan arah harus kemana. Ia tidak mempunyai masa depan sama sekali karena semangat hidupnya yang sudah di ujung tanduk. Namun, ia juga tidak mau bunuh diri. Ia masih berada di batas aman langgaran Allah swt. Ia cukup tau jika bunuh diri adalah perbuatan yang keji.
Lantas, bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya dan bisa menggapai cita-citanya?
"Salsa," suara bariton mengagetkan dirinya. Spontan gadis itu menoleh pada sumber suara.
"Kamu ngapain di sini?" tanya seseorang itu.
"Lagi nyari udara seger aja, Kak. Di dalem panas," kata Salsa seadanya sembari memalingkan wajahnya.
"Kan ada AC bisa di nyalain," kata Dirga.
"Di sini lebih alami udaranya, sekalian cuci mata biar nggak tembok melulu yang di liat," sambung Salsa masih menolehkan wajahnya. Bukan enggan melihat suaminya sendiri, namun ia hanya malu dan merasa tidak enak sendiri.
"Kalo bicara liat mukanya, Sal,"
Salsa gugup.
"Aa-h itu saya tadi lupa matiin kompor. Eh iya lupa Ya Allah," kata Salsa sangat gugup. Ini hanya alasan Salsa untuk menghindari Dirga.
Ya Allah maafin, Salsa.
__ADS_1
Salsa sangat malu pada Dirga. Karena insiden kemarin yang membuatnya malu tingkat dewa. Halah! Salsa berlebihan!
Bagaimana bisa Salsa menangis meraung-raung di depan Dirga dan meminta permen pada Dirga. Ia sangat malu!
"Sal, saya kesini pengen ngobrol bareng sama kamu, tapi kenapa kamu menghindar?"
Mak deg!
Salsa berhenti berjalan.
"T-tapi k-kompornya belum mati," kata Salsa gugup tanpa menoleh. Selanjutnya, ia hanya terus berjalan mengabaikan Dirga.
Tak berakhir di situ. Dirga malah menyusulnya. Karena langkah kakinya lebih lebar dari Salsa, ia bisa mengejar langkah Salsa yang terbilang sudah cepat sekali. Salsa makin gugup.
Ya Allah, gimana ini?
Dirga berhasil melepaskan tangan kecil Salsa yang membekap mulutnya.
"Saya juga yang tau," Dirga melanjutkan perkataannya yang membuat kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
Hal itu membuat Dirga tersenyum geli.
Tersenyum geli?
Dirga melepaskan kedua tangan Salsa yang menutupi wajahnya. Sedikit memaksa karena Salsa semakin keras menutupi wajahnya. Dan berhasil. Dirga memegang kedua tangan Salsa dalam genggaman tangan kekarnya.
Hangat batin Salsa.
__ADS_1
"Kamu nggak usah malu. Karena kamu istri saya."
Mata bulat Salsa lebih tertarik menatap kebawah ketimbang menatap kedua manik mata Dirga. Dan hal itu membuat kedua tangan Dirga yang kekar mengangkat kepala mungil Salsa agar menatapnya. Salsa hanya menatap manik mata elang itu hanya sebentar kemudian memalingkan pandangannya ke samping.
"Kamu masih malu menatap mata, saya? Padahal kita udah muhrim lho kalau cuma tatap mata aja," kata Dirga yang membuat Salsa semakin memerah pipinya bak kepiting rebus. Ingin sekali gadis itu menenggelamkan dirinya ke dasar laut saat ini juga.
Salsa berusaha melepaskan kedua tangan Dirga yang berada di wajahnya yang membekap kedua pipinya hingga menggembung.
Sebenarnya, Salsa tidak tahan dengan suasana seperti ini. Tidak tahan untuk tersenyum tulus di depan Dirga. Ia sungguh mencintai lelaki di depannya saat ini. Sudah banyak tahun ia memendam perasaannya sendiri terhadap Dirga, semenjak masa sekolahnya. Namun, Salsa saat ini berada di posisi tersulit. Ia senang berada di dekat Dirga. Namun, seketika itu juga rasa bersalah itu terus muncul. Rasanya tidak adil baginya.
Salsa juga sudah tahu pasti jika hati Dirga saat ini bukan untuknya.
Mengingat hal itu, membuat Salsa ingin menangis.
Cintanya hanya sebelah tangan.
"Hey! Kok, melamun? Nggak boleh lho, nanti ke sambet setan," kata Dirga menyadarkan Salsa.
Salsa beristighfar kembali. Ia segera melepaskan tangan Dirga dan berlari masuk ke dalam hotel.
Dirga yang melihat hal itu hanya tersenyum.
Ia mengusap wajahnya pelan. Ia duduk di gazebo taman.
Ya Allah bisa kah hamba, melupakannya?
Apa maksud kalimat, tersebut?
__ADS_1