Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
14


__ADS_3

"kamu kenapa?" kata Dirga yang melihat Salsa dari kaca. Mereka saling pandang sejenak melalui kaca besar bersih itu.


"Aku nggak apa-apa, Kak. Udah selesai mandinya? Kalo gitu gantian aku, ya?" kata Salsa sembari terburu-buru berjalan memasuki kamar mandi. Tentu saja ia tidak mau Dirga melihat mata bengkaknya sehabis menangis tadi. Cukup lama Dirga mandi, sehingga Salsa bisa menangis sedikit puas.


"Jangan bohong," dengan cepat, Dirga menangkap pergelangan kecil milik Salsa. Dibawanya mendekat ketubuhnya dan menangkup wajah mungil Salsa dengan kedua tangan kekarnya.


"Apa yang membuatmu, menangis?" tanyanya begitu lembut sembari menatap manik mata Salsa yang kembali berair mendapat pertanyaan seperti itu dari Dirga. Katakan jika Salsa sangat lebay! Tapi, ini memang kenyataan jika dirinya sedang tidak baik-baik saja dan bukan lebay!


Salsa menggeleng lemah. Tanpa bisa di tahan lagi, air matanya kembali jatuh membasahi pipinya. Luntur sudah alat make up-nya. Dirga menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.


"Cerita sama saya, Sal."


Salsa melepaskan tangan Dirga dari pipinya dan melangkah mundur.

__ADS_1


"Nggak usah lebay deh, Kak. Hehe, Salsa nggak apa-apa kok. Salsa cuma nggak nyangka kalo nanti malam dan seterusnya udah nggak tidur di rumah bunda lagi, makanya Salsa sedih gitu," dustanya.


Dirga mengernyit, tercetak senyum jail di bibirnya yang sukar di lihat.


"Emang kamu yakin kalo kamu bakal saya boyong kerumah, saya?" candanya. Dan candaan ini mampu menampar hati Salsa dan terjatuh dalam jurang.


Emang benar kata Dirga. Salsa seperti percaya diri jika Dirga akan membawa dirinya tinggal bersamanya di rumah laki-laki itu. Memangnya, Salsa siapa? Walaupun Salsa istrinya, ini adalah pernikahan paksaan. Bukan atas dasar cinta. Maka dari itu, hati Salsa tertampar sampai berdarah.


Melihat raut wajah Salsa yang berubah muram, Dirga merutuki perkataannya sendiri. Bisa-bisanya ia berbicara seperti itu.


"Udah lah kak, emang benar kok kata Kakak. Aku ini emang siapanya kakak?" potong Salsa cepat dan segera masuk cepat ke dalam kamar mandi. Tentu saja gadis itu akan menangis lagi dan LAGI.


***

__ADS_1


"Kamu masih marah karena perkataan saya tadi, malem? Sungguh Sal, saya nggak berma--"


"Enggak kok. Salsa mau ke minimarket dulu, ya? Beli persediaan makanan, soalnya kulkas dapur kosong melompong," potong Salsa cepat sembari bangun dari duduknya. Mengambil tas kecilnya dan bergegas pergi meninggalkan Dirga yang hanya berasumsi jika Salsa masih marah padanya. Seharusnya ia tidak berkata seperti itu.


Setelah melamun lebih dari satu menit, Dirga bangun untuk membasuh piringnya setelah sarapan sendirian. Kemudian, ia merogoh kertas putih yang berada di kantongnya. Kertas itu lecek banyak sobekan di pinggirnya.


Ia menemukan kertas itu di kamar hotel ini semalam. Tentu saja ia sedikit bingung.


Kenapa bisa kertas itu bisa ada, disini?


Kalian pasti penasaran kertas apa itu? kertas itu bertuliskan namanya dengan rangkaian hurup arab yang cantik. Sama persis dengan kertas yang Dirga simpan selama ini. Apakah penulis nama itu berada di sekitarnya? Lalu, siapa? Apakah, Salsa? Dirga rasa itu tidak mungkin jika pelakunya Salsa. Mustahil baginya gadis secantik Salsa menyukainya di masa lalu. Lalu, siapa?


to be continued....

__ADS_1


follow ig saya @meigasellaap


JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YAA


__ADS_2