Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
seriously?!


__ADS_3

Ketika memperhatikan Salsa yang sedang mengamati kerumunan tersebut, tepat suara dering ponsel Dirga berbunyi. Sebuah panggilan darurat yang ia terima.


"Sal, saya harus segera kembali ke base camp saya. Ada kecelakaan pesawat," kata Dirga setelah memutuskan sambungan teleponnya. Salsa masih belum fokus menanggapi Dirga. Namun, Dirga memegang kedua bahu Salsa serta menatap kedua manik mata Salsa.


"Saya harus kembali ke base camp," kata Dirga lembut namun tegas. Salsa hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah Dirga pergi dari hadapannya, Salsa segera mengambil ponselnya. Ia mencoba menelepon kontak bundanya. Salsa melirik arlojinya. Seharusnya kedua orang tuanya sudah sampai di Makassar, bukan? Namun, kenapa bundanya tidak mengabarinya. Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Salsa. Hatinya kalang kabut harus berbuat apa.


Tangannya dengan lincah mencari kabar di sosial media. Ternyata benar ada kecelakaan pesawat yang menjadi tranding topik di sosial media. Jantung Salsa seperti mencelos keluar ketika membaca salah satu nama maskapai penerbangan yang sama dengan pesawat yang di tumpangi kedua orang tuanya.


Salsa berlari ke kamar mandi, kepalanya pusing. Pasokan udara semakin menipis. Sesak itu datang kembali. Salsa mengeluarkan beberapa pil yang ia bawa dalam kantong jas putihnya. Ia menelan sekali dua pil tersebut untuk meredakan rasa sakitnya.


Berulang kali Salsa menyebutkan nama Allah swt. sembari menepuk-nepuk dadanya agar rasa sakit itu hilang. Namun bukannya hilang, air matanya malah menetes. Dadanya sesak. Ia meremas bajunya sendiri seakan-akan itu bisa menguatkan hatinya walaupun hasilnya nihil. Salsa berusaha bangkit dari tempat duduknya. Setelah berhasil berdiri, ia mengusap air matanya dengan kasar lalu mencuci mukanya.


Ia menghela napas panjang dengan kuat lalu membuang napasnya. Ia berusaha berpikir positif sembari menghadap cermin di depannya.


"Pikiran lo nggak boleh aneh-aneh, Sal."


Perempuan berhijab itu berusaha membangkitkan semangatnya sendiri.


"Orang tua lo sedang baik-baik aja, Sal," gumamnya lagi sembari menatap pantulan dirinya di depan cermin. Kemudian, Salsa tersenyum untuk mengusir rasa khawatirnya.


Ia keluar dari kamar mandi dengan kuat seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Toh, berita yang Salsa baca belum lengkap kebenaran. Namun, ketika ia berjalan untuk menuju ruangannya, banyak orang-orang di sekitarnya yang membahas topik pesawat jatuh.


Hati Salsa goyah, bagaimana jika berita itu benar adanya. Ia kembali mengambil ponselnya untuk menelepon bundanya, namun sambungan telepon itu tidak tersambung.

__ADS_1


"Please, bunda. Angkat telepon Salsa," katanya sembari menahan bendungan air matanya.


Salsa melihat berita lagi di sosial media.


Ia membaca ulang berita di salah satu artikel yang sedang membahas berita tersebut. Namun, isinya tetap sama. Hati Salsa sesak.


Ia mencoba menelepon Dirga, namun suaminya tidak menjawabnya. Salsa mencoba menenangkan hatinya sendiri dengan berdzikir saja.


Tiba-tiba dering ponselnya berbunyi, seseorang menelepon Salsa.


"Assalamualaikum, Salsa."


***


"Lo udah, makan?" Tanya seorang pria berjas hitam yang duduk di kursi pengemudi tersebut. Tampaknya, pria itu seperti CEO sebuah perusahaan.


Perempuan berhijab maroon itu mengangguk seraya menjawab, "iya. Gue udah makan,"


"Bagus deh," kata pria itu angkuh.


Tangan pria itu terulur untuk memegang pergelangan tangan perempuan yang ada di sebelahnya. Baru saja menyentuh tangan tersebut, perempuan itu mengaduh kesakitan.


"Sakit," gumamnya.


Lalu, pria itu sedikit menyingkap lengan panjang tangannya. Ternyata luka sayatan yang sedikit mengering penyebab rasa sakit itu. 

__ADS_1


Pria di sebelahnya malah tersenyum.


Perempuan itu tidak kaget dengan ekspresi pria itu. Menurutnya, hal ini sudah biasa. Tidak hanya di pergelangan tangan saja luka sayatan itu ada. Namun, di kedua kakinya juga ada luka sayatan dan bekas sayatan yang sudah mengering.


Pria itu menjalankan mobilnya meninggalkan pekarangan gedung besar itu untuk mengikuti hiruk pikuk kota Jakarta. Jalanan agak sedikit macet karena jam sore seperti ini waktu orang-orang pulang dari kerja.


Hanya keheningan yang berpendar di dalam mobil tersebut. Perempuan itu memilih untuk diam dan lebih memperhatikan jalanan yang sedikit terlihat macet.


"Setelah ini, lo ikut gue," celetuk pria itu tiba-tiba. Tangannya yang besar sembari meremas pelan pergelangan tangan perempuan di sebelahnya. Walaupun meremas tangan itu dengan pelan, tetap saja menimbulkan rasa sakit karena luka sayatan itu belum sepenuhnya mengering.


"Pelan-pelan!" seru gadis itu.


"It's okay. I'm sorry."


Sebenarnya, siapa mereka berdua?


To be continued...


PENGUMUMAN!


Hay! Beberapa hari ke depan aku bakalan update sehari satu kali ya guyss. Karena aku ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan dahulu.


Setelah selesai, aku bakalan up sehari dua kali.


Terima kasih pengertiannnya. Sayang kalian semua. ❤️

__ADS_1


__ADS_2