
Suasana kembali mencekam karena Dirga sendirian yang mendatangi sarang musuhnya.
Dirga tersungkur sembari memegangi perutnya yang terus mengucur darah segar akibat tembakan tersebut. Berulang kali ia menyebutkan nama Allah swt. untuk mengumpulkan kekuatannya.
Dirga bangkit sembari menahan rasa sakit perih di perutnya. Dirga tertawa menatap Rio yang menertawakan Dirga dengan ejekan.
"Nggak semudah itu!" Geram Dirga sembari maju dengan pasti. Emosionalnya telah melupakan rasa sakit yang ada di perutnya. Ini bukan pertama kali Dirga mendapatkan luka tembak. Sebelumnya, ia pernah mendapat luka tembak ketika masih bertugas di perbatasan. Namun, karena izin Allah swt. yang begitu besar, Allah masih memberikan nyawa untuknya. Sekarang, yang di rasakan Dirga hanya memasrahkan semua hidupnya pada Allah swt. dengan luka tembak yang ada di perutnya. Bukan berarti pria itu menyerah. Membasmi penjilat seperti ini adalah tugasnya untuk melindungi negara tercintanya.
Dirga dengan emosinya, ia menonjok Rio dengan keras sehingga cowok itu meringis dan tersungkur ke bawah. Menggeliat kesakitan akibat tonjokan dari Dirga.
Beberapa anak buah Rio telah menggunakan pistolnya kembali untuk di arahkan pada Dirga, namun Dirga mampu menghindar dengan cepat. Sekali lagi Dirga akan berkata, hal ini akan menjadi sebuah layaknya permainan yang harus Dirga menangkan.
Suara tembakan begitu memekakkan telinga di ruangan tidak terlalu besar itu.
Dirga bersembunyi di belakang meja yang di bawahnya seperti lemari kecil.
Dirga menahan rasa sakitnya. Ia melihat ke bawah dimana tangannya sudah berlumpuran darah segarnya yang merembes keluar karena Dirga menutupinya dengan telapak tangannya. Keringat dingin juga mengucur di wajah tampannya.
Dengan satu tangannya lagi, Dirga mengeluarkan pistol yang ada di saku jaket hitamnya. Dengan mengendap-endap, ia menembakkan tepat sasaran. Salah satu anak buah Rio terluka di kakinya. Dirga sengaja menembak kaki agar musuhnya tidak meninggal. Karena harus di tindak lanjuti. Untuk membuat efek jera.
Suara tembakan semakin bergemuruh. Dirga harus tetap menahan rasa sakitnya.
Dirga menembak tepat sasaran lagi.
Ia keluar dari tempat persembunyiannya. Dengan masih tangannya menutupi darah yang mengucur di perutnya. Ia tidak boleh sampai kehabisan darahnya.
Dengan cekatan Dirga menembak anak buah Rio satu persatu. Namun, salah satu anak buahnya berhasil membuang pistol Dirga. Dengan sisa kekuatan Dirga, ia menonjok dengan tangannya yang terkepal kuat hingga membuat lelaki itu tersungkur.
Dirga tersenyum kecut. Saat ini, kondisi Dirga sangat berantakan.
Ketika ia ingin berbalik, Rio malah menancapkan pisau kecil ke kaki Dirga. Dirga meringis untuk menahan rasa sakitnya untuk kedua kalinya. Kini, kain celana yang di pakai Dirga sudah sobek dan mengeluarkan darah yang mengucur. Dengan perlahan dan meringis kesakitan menahan sakit, Dirga mengambil pisau yang menancap di kakinya. Dan dengan cepat ia mengambil pisau yang terjatuh di bawahnya. Segera ia menembak Rio.
Dirga masih menahan rasa sakitnya. Dengan berjalan pincang akibat rasa sakit yang berada di kakinya.
Dirga terduduk di bawah karena ia merasa tenaganya sudah semakin menipis untuk menahan rasa sakit. Benar-benar sakit.
Ia melihat banyak darah yang mengucur di tubuhnya. Bibirnya semakin pucat. Matanya memaksa ingin menutup. Tapi, ia tidak boleh menutup matanya.
__ADS_1
Pyarr!
Kepala Dirga di lempar sebuah guci keramik hingga guci itu pecah. Kepala Dirga mengeluarkan darah segar. Matanya sudah bertambah berkunang-kunang. Namun, ia segera menembak anak buah Rio yang sudah melemparinya guci hingga pecah itu.
Dan sekarang tidak ada yang tersadar kecuali Dirga sendirian dengan rasa sakit itu. Iya! Dirga sudah memenangkan permainan game ini. Walaupun keadaan dirinya buruk, namun ia sudah menang.
Ia merasakan jika darah segar kembali mengalir di pelipisnya. Matanya bertambah berkunang-kunang. Dirga tersenyum dalam rasa sakit yang ada di tubuhnya.
Senyuman itu tulus.
"Ya Allah, jika ini akhir dari hidup saya, maka tolong jagalah Salsa di dunia ini untuk saya," kata Dirga sembari tersenyum tulus menatap nyalang ke depan. Pria itu sudah mencintai Salsa hingga berani mengorbankan nyawanya untuk seseorang yang di sayanginya.
Perasaan Dirga sangat senang saat ini, karena ia tidak menyangka jika akan mengorbankan nyawanya untuk Salsa. Ia akan menjadi cinta sejati Salsa.
Dengan rasa percaya diri jika ia mencintai perempuan itu, Dirga terdorong untuk datang kesini. Bukan berniat untuk membalas dendam. Karena hal seperti ini juga sudah menjadi tugasnya. Apalagi masalah menjaga Salsa sudah menjadi bagian prioritasnya.
Dirga tersenyum lagi.
Betapa enaknya nikmat Tuhan yang di berikan untuk Dirga. Menjadi cinta sejati seseorang yang di sayanginya, Salsa. Ia berharap jika dirinya tidak ada di dunia ini, akan ada penggantinya untuk melindungi Salsa.
Kenapa perasaan Dirga saat ini menjadi saat bahagia sekali, padahal kondisinya yang buruk akan membawa ke penghujung kematiannya.
***
Dan di jam yang sama di tempat yang berbeda. Salsa sedang ingin sekali makan buah-buahan. Ia membuka kulkasnya dan menemukan apel merah menggoda. Salsa mengambilnya.
Salsa mengambil pisau yang berada di meja makan. Ia mengupasnya dengan pelan-pelan dengan pisau tersebut. Entah kenapa, ia ingin sekali makan buah-buahan dimalam hari seperti ini. Padahal, jika malam seperti ini Salsa akan tidur hingga esok pagi.
Ia melihat jam dinding yang menggantung manis di atas kulkas. Menunjukkan pukul setengah satu dini hari.
Ia membuka ponselnya dan menaruh apel tersebut di piring kecil. Belum selesai ia mengupasnya.
Ia melihat pesan Dirga tadi. Suaminya itu berpamitan jika Dirga harus lembur malam ini. Salsa melihat pesan itu dengan perasaan yang salah tingkah dan perasaan yang membuncah bahagia.
Salsa tertawa sendiri di tengah malam itu seperti orang gila. Mengingat kemanisan Dirga yang di berikan kepadanya. Apalagi mengingat dimana Dirga telah mengambil--ekhemm--kevirginannya. Salsa malu sekali jika mengingat ha itu.
Kaki Salsa jingkrak-jingkrak tidak jelas di bawah meja karena Dirga. Ah ini semua salah Dirga. Kenapa pria itu membuat Salsa terpesona sedari dulu.
__ADS_1
Salsa telah melupakan apelnya yang setengah terkupas teronggok melas di meja.
Setelah sadar, Salsa kembali menegakkan tubuhnya dan berdehem.
"Stop Sal! Lo harus sadar!" katanya pada diri sendiri. Setelah mengatakan hal itu, Salsa terkikik lagi. Malam itu Salsa bukan lagi Salsa yang biasanya. Bukan lagi Salsa yang kalem seperti biasanya. Entah kerasukan apa, Salsa menjadi gila seperti ini.
"Ya Allah, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?" Kata Salsa dengan lirih. Ternyata seperti ini nikmatnya pacaran setelah menikah. Apalagi dengan orang yang kita sayang. Dan bonusnya yang membuat terkejut adalah, sekarang Dirga sudah mencintainya.
Salsa melanjutkan mengupas apelnya tadi. Namun Salsa kurang berhati-hati karena pisau kecil itu mengenai ujung jari Salsa hingga membuatnya berdarah.
Salsa meringis kesakitan.
Ia mengakui jika dirinya ceroboh.
Perasaan Salsa jadi tidak enak. Ia segera mengambil kotak P3Knya untuk mengobati lukanya.
"Miris banget sih, pengen makan apel aja kena pisau begini," katanya dengan lirih.
Ia memberi handsaplash untuk ujung jarinya.
"Besok pengen masakin Kak Dirga ah," Salsa tiba-tiba berujar seperti itu. Entah kenapa rasanya ia merindukan Dirga malam ini. Padahal baru di tinggal malam ini. Haha, lebay dah Sal!
Namun, ia mengakui jika dirinya merindukan Dirga malam ini.
***
To be continued...
Author : "Mas Dirga jangan mati dong. Nanti authornya nggak semangat nulis. Author mohon jangan mati dong yaaa. Plisssss. Pokoknya Mas Dirga harus selamat,"
Dirga hanya tersenyum lembut sembari menatap author yang memohon padanya.
"Kalau Allah udah garisin hidup saya, saya bisa apa?" kata Dirga sembari tersenyum lembut menatap author.
***
Yok ikutan Grup WA. WA ku ada di bio ******* ya.
__ADS_1
Jangan lupa folllow ig ku yaa @meigasellaap