Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
attetion


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Salsa di buat baper oleh pasangan sah nya sendiri. Apalah daya Salsa yang selalu terpesona oleh laki-laki yang di sukai nya ketika jaman sekolahnya dulu. Sudah lama ia memendam perasaanya sendiri terhadap Dirga.


Setelah sholat subuh berdua dengan Dirga, Salsa berjalan menuju ke dapur untuk memasak sarapan pagi. Salsa tidak bangun jika subuh tadi Dirga tidak membangunkannya untuk sholat. Badannya terlalu lelah. Sedikit sakit ketika bangun tadi.


Salsa membuka kulkasnya untuk melihat isinya. Kulkas itu masih penuh dengan kebutuhannya karena ia kemarin baru saja belanja bulanan.


Menu yang di pilih Salsa pagi ini adalah sup ayam. Di cuaca yang hujan sepagi ini sangat cocok sarapan dengan makanan yang berkuah. Ia sedang memotong kecil-kecil bawang merah untuk bumbu pelengkapnya. Namun, dengan tidak sengaja, jari telunjuknya terkena pisau tajam itu.


"Astaghfirullah, aw!" kata Salsa pelan namun mampu mengundang perhatian Dirga yang kebetulan sedang berjalan di belakangnya hendak mengambil minuman di kulkas.


"Kenapa, Sal?" tanya Dirga sedikit panik.


"Nggak papa kak."


"Nggak papa gimana, Sal? Berdarah gitu, kok," kata Dirga sembari mengambil kotak P3K untuk Salsa.


Salsa sedang menahan rasa perih di ujung jarinya. Entah kenapa, tangannya bergetar hebat. Napasnya semakin sesak ketika darah itu mengucur keluar. Memang luka itu tidak lebar, namun hal itu membuat sesak napas Salsa. Seakan-akan pasokan udara tidak mau bersahabat dengannya. Hal itu membuat Dirga semakin panik karena melihat wajah Salsa yang tiba-tiba pucat pasi dan kesulitan mengambil pasokan udara.


Dirga segera berlari setelah mengambil kotak P3K nya. Segera ia membopong Salsa keluar menuju garasi mobilnya. Tanpa mengunci pintunya terlebih dahulu, ia segera meninggalkan pekarangan rumahnya untuk segera menuju rumah sakit.


Tentu saja Dirga khawatir dengan kondisi Salsa!


Salsa segera di larikan ke UGD. Dirga menunggu di luar dengan wajah panik. Ia memilih untuk tidak mengabari orang tua Salsa terlebih dahulu karena belum mengetahui kondisi pasti Salsa. Daripada membuat panik kedua orang tua Dirga dan berpikiran macam-macam.


Setelah beberapa saat, dokter yang memeriksa Salsa keluar untuk mencari wali pasien. Dirga langsung bergegas menyapa dokter itu.


"Bagaimana kondisi istri saya, dok?"


"Istri anda tidak apa-apa, pak. Hanya saja mengalami trauma tajam," kata dokter itu pada Dirga.


Dirga mengernyitkan dahinya sembari bergumam lirih, "trauma tajam,"


Jadi, Salsa mempunyai trauma.


"Trauma tajam adalah sebuah cedera yang timbul saat sebuah benda menembus kulit dan memasuki jaringan tubuh, menimbulkan luka terbuka. Dan hal seperti itu terkadang membuat seseorang mengalami trauma. Orang yang mempunyai trauma benda tajam akan lebih sensitif tubuhnya. Seperti sesak napas karena membayangkan benda tajam tersebut,"  dokter itu menjelaskan pada Dirga.

__ADS_1


Setelah mengobrol beberapa saat, Dirga memasuki ruangan Salsa. Salsa sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sangat baik. Dirga menyodorkan sebuah permen kiss di hadapan Salsa. Ia ingat, jika dalam keadaan menangis atau pun tidak baik, Salsa selalu membutuhkan permen.


Salsa menerimanya dan memakan permen tersebut.


"Kamu udah boleh pulang. Mau di rawat di sini dulu, apa pulang aja?" Tawar Dirga pada Salsa.


Salsa menggeleng, "pulang aja kak."


Dirga menuruti perintah Salsa. Sebelumnya Dirga menawarkan tubuhnya untuk menggendong Salsa. Dan hal seperti itu jelas di tolak keras oleh Salsa, apalagi ini rumah sakit tempat dirinya bekerja. Ia tidak mau menjadi sorotan. Alhasil, ia memilih untuk di dorong menggunakan kursi roda menuju parkiran rumah sakit.


Dengan santai Dirga mendorong kursi roda itu sembari mengobrol ringan. Sedangkan Salsa berada di posisi yang tidak nyaman saat ini. Malu dan MALU yang ia rasakan. Tak hanya itu, rasa bersalah pun masih bercokol di hatinya. Ia sudah menyulitkan suaminya.


"Lusa kamu udah mulai pindah ke rumah sakit militer ya, Sal?" Tanya Dirga tiba-tiba membahas topik tersebut.


Salsa menganggukkan kepalanya saja.


"Wah, bisa ketemu tiap hari dong," kata Dirga santai.


Pipi Salsa memerah mendengar kalimat itu. Yang Salsa lihat dulu, Dirga adalah orang yang dingin dan ketus. Tapi, setelah menikah dengannya, Dirga jadi suka menggombalinya. Padahal, waktu sekolah menjadi kakak tingkatnya dahulu, watak cowok itu emang dingin.


"Eng-enggak kok, kak."


"Memang dulu saya seketus dan sedingin itu. Tapi seakan berjalannya waktu, hal seperti itu nggak berguna sama sekali. Saya terlihat lebih sombong," kata Dirga tiba-tiba. Sembari mendorong kursi roda menyusuri lorong rumah sakit yang masih tampak senggang.


Salsa hanya diam mendengarkan.


"Dulu saya suka mabuk-mabukan, Sal. Saya manusia bejat yang paling ada di dunia. Lagi dan lagi, saya mendapatkan teguran dari Allah swt. supaya menuju ke jalan lurus-Nya. Saya menyesal. Bahkan sangat menyesal," kata Dirga sembari menatap ke depan. Sebentar lagi, mereka akan sampai di parkiran rumah sakit.


Salsa hanya diam.


"Ibadah saya juga nggak sebagus saat ini," katanya lagi.


Memang benar ya, seseorang yang dahulu terlihat sangat buruk ibadahnya maupun kelakuannya, jika berniat ingin menjadi orang baik pasti akan terwujud walaupun di dalam prosesnya selalu ada rintangan yang selalu hadir. Karena di dunia ini nggak instan. Mie goreng instan saja butuh di rebus untuk di makan. Sama halnya dengan kehidupan.


Kunci hidup memang satu, berniat. Berniat melakukan hal yang positif tentunya.

__ADS_1


Kadang Allah swt mengubah jalan hidup manusia untuk lebih menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Entah itu Allah swt. menegur kita dengan cara antimainstream atau justru sebaliknya. Itu semua ada hikmahnya untuk diri kita sendiri.


Dirga menggendong Salsa untuk masuk ke dalam mobilnya dan Dirga menyusul masuk.


"Sal," Panggil Dirga yang membuat Salsa menoleh.


Dirga mendekatkan tubuhnya ke arah Salsa yang membuat istrinya gelagapan dibuatnya. Dirga hanya ingin memasangkan sabuk pengaman untuk Salsa.


Jangan di tanya bagaimana kabar jantung Salsa!


Tentu saja sudah seperti orang yang sedang habis melakukan lari marathon 100 kilo.


"Sabuk pengamannya belum di pasang."


Namun, Salsa menghiraukan kalimat Dirga. Salsa malah menikmati aroma maskulin dari tubuh Dirga.


Salsa tidak dosa, kan?


"Sal, kenapa bengong?" ujar Dirga yang membuat Salsa gelagapan bercampur malu. Salsa hanya menggeleng.


"Sal, diem aja dari tadi? Kamu marah sama, saya?"


"Enggak kak. Enggak."


"Sal," panggil Dirga lagi yang membuat Salsa semakin gerogi dalam situasi seperti ini.


Kenapa Dirga tidak segera menjalankan mobilnya, saja?


"Saya ingin kamu mendukung saya untuk menjadi imam yang terbaik bagi kamu,"


Apa yang di lakukan Salsa setelah mendengar kalimat manis, itu?


To be continued...


Hai gimana? Ada yang penasaran nggak? Salsa seneng nggak nih kira-kira?

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YAA.


__ADS_2