Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
Selamat jalan Angkasa


__ADS_3

Berita Salsa yang menangis histeris setelah tidak berhasil membuat pasiennya sembuh. Ini pertama kali mereka melihat Salsa menangis histeris seperti ini. Biasanya, perempuan itu jika tidak berhasil mengoperasi pasien tidak sehisteris itu. Memang belum banyak yang mengetahui apa hubungannya dengan Dirga.


Namun, Salsa sudah tidak peduli dengan mereka.


Padahal sebelum operasi di lakukan, Salsa akan menerima apapun hasil kerja kerasnya. Namun, hatinya berkata lain. Seolah-olah telah mengkhianati dirinya sendiri.


Memang kehilangan seseorang yang kita sayang itu nggak mudah.


Salsa sudah kedua kalinya kehilangan orang-orang yang ia sayangi.


Salsa tersenyum kecut sembari menatap Dirga yang sudah tak bernyawa di atas meja operasi.


"Pembohong," geram Salsa dengan air matanya yang merembes keluar lagi. Hatinya sakit dan dadanya sesak. Seolah-olah, dunia sedang tidak baik dengan Salsa.


Salsa sudah terduduk lemah sedari tadi di lantai dengan air matanya yang setia menemani perempuan itu. Dunia ini terlalu lucu. Salsa hanya bisa memiliki Dirga di dunia ini hanya sebentar saja. Bahkan belum genap setahun ia memiliki pria itu.


"Dokter Salsa!" Tiba-tiba dokter Randy menghampiri Salsa dengan perasaan panik. Pria itu ikut berjongkok di depan Salsa.


"Dokter Salsa kayaknya frustasi banget ya karena nyawanya nggak tertolongkan. Itu semua bukan salah dokter Salsa. Itu semua sudah ketentuan garis Allah swt. Itu juga bukan malpraktek kok. Jadi tenang aja nggak usah sedih. Dokter nggak bakalan di salahkan kok sama pak direktur," kata dokter Randy begitu yakin.


Salsa tetap menunduk. Dokter Randy akan memegang lengan Salsa jika Salsa lebih dulu menghindari.


Salsa bangkit dari duduknya.


Dokter Randy tersenyum menatap Salsa.


"Gitu dong, semangat lagi,"


Dokter Randy melihat kemana arah Salsa berjalan. Matanya semakin menyipit karena tindakan Salsa yang tak biasa. Dan terkejut bukan main ketika melihat Salsa malah memeluk pasien tak bernyawa itu.


Ya iyalah bang! Doi kan istrinya!


"Dokter Salsa," cicitnya sembari terkejut.


Salsa memukul dada Dirga dengan keras, "jahat banget sih kak!" Tukas Salsa sembari menangis.


Dokter Randy yang mendengarkan Salsa memanggil pasien itu dengan sebutan 'kak' mungkin itu kakak dokter Salsa. Maka dari itu dokter Salsa sangat bersedih.


Salsa memanggil nama Dirga.

__ADS_1


"Bangun dong! Jahat banget! Salsa udah masakin nasi goreng pagi tadi!" Katanya dengan memukuli dada Dirga. Air matanya masih menetes.


"Sudah dokter Salsa, ikhlaskan beliau."


Namun, Salsa tidak menanggapi Dokter Randy.


Tiba-tiba Salsa mendengarkan alat digital pengatur detak jantung yang tiba-tiba berbunyi.


Angkasanya!


Angkasanya kembali!


Angkasanya tidak berbohong!


Salsa gugup. Salsa langsung memanggil perawat untuk memasang kembali alat bantu napas untuk Dirga. Salsa sampai tidak bisa berkata apa-apa. Salsa yakin karena Dirga tidak selemah itu.


Ia sampai mengabaikan Dokter Randy yang berada di dekatnya.


Dokter Randy ikut membantu memasang kabel-kabel yang akan membantu pasien itu bernapas.


Salsa senang bukan main!


Di dalam hati Salsa, ia mengucapkankan banyak rasa syukur kepada Allah swt.


Bagi Salsa, semua akan kecewa jika karakter utama akan meninggal dunia. Dan Salsa juga membenci hal itu. Ia tidak mau jika akhir ceritanya akan berending sad. Dari sekian banyak novel yang di baca oleh Salsa, ia tidak menyukai sad ending. Baginya, itu sangat menyesakkan.


Namun, jika si penulis mengakhirkan kisah dengan sad ending, ia harus apa selain mengikutinya saja.


Salsa menangis lagi.


Kali ini bukan tangisan sedih, tangisan karena ia terharu karena Angkasanya telah kembali. Salsa segera memeriksa Dirga. Namun, ia memprediksi jika Dirga akan mengalami koma. Ia tidak tahu seberapa lamanya koma yang nantinya akan di alami oleh Dirga. Namun, ia cukup senang mendengar jika detak jantung Dirga sudah kembali.


Salsa segera memeluk Dirga yang masih belum sadarkan diri.


"Jahat banget sih!" Kata Salsa dengan memeluk Dirga yang matanya masih terpejam. Mungkin jika mata itu terbuka, Dirga dengan senang hati akan mengelus puncak kepala Salsa dengan sayang.


Salsa memukul dada Dirga.


Air mata perempuan itu masih merembes keluar.

__ADS_1


Dokter ortopedi yang memeluk Salsa tadi juga ikut masuk ke dalam ruang operasi lagi. Sebut saja namanya ibu Ningsih. Dokter ortopedi rumah sakit militer yang sudah mempercayai bu ningsih selama 10 tahun terakhir.


Beliau tersenyum melihat Salsa yang menangis bahagia. Sebelumnya, beliau ingin menangis juga melihat Salsa tadi.


"Mereka so sweet ya, dok," kata bu Ningsih dengan dokter Randy.


Dokter Randy mengangguk mantap, "adek dengan kakaknya, mereka saling menyayangi," katanya dengan percaya diri.


Bu Ningsih langsung menoleh kearah dokter Randy yang masih menatap sendu Salsa yang memeluk Dirga dengan erat layaknya tidak ada lagi hari esok. Beliau mengerutkan keningnya menatap dokter Randy. Lalu, beliau mengedikkan bahunya.


Sedangkan Salsa sudah berulang kali mengucapkan rasa syukurnya pada Allah swt. Karena Angkasanya yang kembali.


Senyuman itu tidak pernah luntur lagi merekat di bibir Salsa.


Salsa tidak jadi menuliskan kisah sedihnya di akhir cerita.


Angkasanya hidup walaupun napasnya masih di bantu oleh kabel-kabel yang tertancap di dadanya.


Tiba-tiba dari pintu, Rena datang menghampiri Salsa dan langsung memeluk gadis itu. Salsa membalas pelukan Rena. Salsa menangis lagi di pelukan Rena.


"Ren dia hidup," katanya sembari menangis.


"Iya gue ikut seneng banget dengernya," kata Rena sembari tersenyum memeluk Salsa.


"Dia nggak jadi pembohong. Dia nepatin janjinya buat pulang. Gue nggak tau harus bilang apa lagi. Intinya, gue harus banyak bersyukur sama Allah,"


Salsa menangis lagi.


Cengeng!


Harusnya ia tersenyum karena Angkasanya kembali lagi.


To be continued...


Gimana? Gimana? Komentar nya dong.


AKU PENGEN KALIAN NILAI CERITA INI. MAKASIH BANYAK YAA. ❤️


Ketipu judul nggak?

__ADS_1


__ADS_2