
Salsa mengakhiri teleponnya. Air matanya sudah jatuh membasahi pipi Salsa. Rena yang melihat hal itu langsung memeluk Salsa erat. Rena sempat mendengar Salsa bergumam dengan menumpahkan air matanya. Rena semakin mendekap Salsa sembari membisikkan kata istighfar. Baru saja Salsa mendapatkan telepon yang mengabarkan kebahagiaan beserta duka.
Rena mendudukkan Salsa dan segera masuk untuk mencari keberadaan Dirga. Rena berteriak keras memanggil nama Dirga, hingga ia melihat Dirga turun dari tangga. Cepat-cepat ia memberitahu Dirga.
Laki-laki itu berlari menuju ruang tamu dimana tempat Salsa berada. Ia melihat perempuan itu menangis sesenggukan. Dan Dirga langsung mendekapnya. Sebelumnya, Dirga sudah di beritahu Rena soal kabar yang di terima Salsa melalui telepon. Rena yang melihat Salsa menangis di pelukan suaminya, ingin ikut menangis karena ia tidak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi Salsa.
**
Tertancap bendera kematian di depan rumah ibunda Salsa. Semua orang sedang mengenakan baju serba berwarna hitam melambangkan kedukaan seseorang.
Sedari tadi, Salsa sudah di dekap hangat oleh ibunda Dirga. Mereka duduk di sebelah ibunda Salsa yang menatap kosong mengarah ke suaminya yang sudah di tutup oleh kain kafan. Ternyata, mereka bukan korban dari salah satu pesawat yang jatuh beberapa hari yang lalu. Kemarin malam, ibunda Salsa menelepon Salsa menggunakan nomor telepon baru. Karena beliau mengalami kecelakaan yang menewaskan suaminya saat perjalanan menuju rumahnya yang ada di salah satu kota Makassar. Beruntung ibunda Salsa selamat dari kecelakaan maut tersebut. Taksi yang di kendarai kedua orang tua Salsa menabrak sebuah truk besar yang berlawanan akibat menghindari lubang yang ada di jalan di tambah supirnya yang mungkin sedang mengantuk. Supir taksi tersebut juga meninggal. Luka yang di alami ibunda Salsa membuatnya lumpuh kedua kakinya beserta rasa trauma yang cukup berat. Di tambah dengan kehilangan suaminya.
Salsa salah menduga jika pesawat yang jatuh itu bukan pesawat yang di tumpangi oleh kedua orang tuanya.
Almarhum ayahnya baru di pulangkan subuh tadi. Setelah Salsa menyelesaikan sholat subuh nya bersama Dirga, ia langsung segera menghampiri rumah kedua orang tuanya beserta Rena yang ikut.
Banyak orang sudah mengucapkan belasungkawa pada Salsa yang sedari rumahnya tadi meneteskan air matanya yang tak terbendung. Salsa ikut dalam membacakan surah Yasin untuk mendiang ayahnya. Salsa belum berani menanyakan banyak hal pada bundanya.
Salsa bangkit dari duduknya untuk pergi ke dapur. Tenggorokannya kering karena kebanyakan menangis sedari tadi malam.
Perempuan itu mengambil minuman di dalam kulkas dan duduk di kursi. Tatapannya masih nyalang. Beberapa orang yang ada di dapur memberikan semangat untuk Salsa.
__ADS_1
Kemudian, seseorang telah menyodorkan segelas cokelat panas dan ada sebuah cokelat.
"Kamu lebih tenang kalau kamu minum ini," suara bariton itu mengalihkan perhatian Salsa. Salsa sudah hapal pemilik suara tersebut. Tanpa menunggu, Salsa menyeruput cokelat hangat itu. Minuman kesukaannya jika hatinya sedang tidak baik. Ia mengucapkan terima kasih pada Dirga setelah menyeruput cokelat tersebut.
Dirga mengacak puncak kepala Salsa dengan gemas sembari menganggukkan kepalanya.
"Nyawa manusia, cuma Allah aja yang tau. Saya juga nggak menyangka kalau mertua saya meninggal secepat ini. Padahal, kemarin baru bercandaan bareng," kata Dirga setelah mengacak puncak kepala Salsa.
"Kehilangan seseorang yang kita sayang itu memang nggak enak, Sal. Seakan-akan, separuh semangat hidup itu ilang gitu aja. Saya percaya, Allah sedang merencanakan yang terbaik," lanjut Dirga sembari menarik Salsa mendekat ke arahnya dan mendekapnya. Salsa kembali menangis lagi dan LAGI di pelukan Dirga. Seperti tadi malam, Salsa juga menangis di pelukan Dirga sampai perempuan itu tertidur. Sedangkan Dirga masih terjaga dalam tidurnya. Tidak tidur semalaman itu sudah biasa bagi seorang kapten seperti Dirga. Sepanjang malam ia memeluk Salsa agar tidur Salsa tidak terganggu.
Memang benar, setelah hamba-Nya menangis, pasti Allah memberikan rasa kantuk yang luar biasa. Supaya hamba-Nya tidak menangis terus menerus.
Jangan di tanya soal mata Salsa yang saat ini sudah sembab karena menangis semalaman. Salsa sudah bahagia mendengarkan kabar jika kedua orang tuanya bukan korban dari pesawat yang jatuh beberapa hari lalu, namun ia masih kehilangan ayahnya.
Berulang kali Dirga memberikan semangat untuk Salsa. Agar perempuan itu kembali bersemangat.
"Ayah kamu bakalan sedih kalo liat putri cantiknya menangis kayak gini. Saya pernah bilang kan kalau kamu itu cantik jika tersenyum," kata Dirga lagi sembari mengelus puncak kepala Salsa dengan lembut.
Kata-kata yang di ucapkan Dirga selalu benar. Pelan-pelan Salsa menghapus air matanya di bantu dengan tangan Dirga. Di saat bersamaan, suara Rena terdengar dari pintu.
Rena berjalan masuk ke dapur bersama seorang pria. Salsa tahu jika pria itu adalah pacar Rena. Mereka sudah cukup lama berpacaran. Sering sekali Salsa menggoda Rena untuk segera menikah agar tidak menimbulkan zinah yang berlamaan. Namun, ia juga tidak berhak terlalu mengurusi masalah pribadi orang lain.
__ADS_1
"Sal gue turut berduka cita atas meninggalnya bokap lo," kata Rena ikut duduk di salah satu kursi meja makan itu. Salsa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pacar Rena juga mengucapkan belasungkawa pada Salsa.
Rena juga memberikan motivasi pada Salsa supaya sahabatnya lebih tabah lagi. Memang tidak mudah mengikhlaskan kepergian orang yang kita sayang. Namun, apa boleh buat, itu semua jalan terbaik Allah. Salsa yakin itu!
Salsa sedikit membaik. Perempuan itu terlihat berantakan. Hidungnya merah karena kebanyakan menangis. Matanya sembab karena terus-menerus mengeluarkan air matanya. Beberapa kali perempuan itu mengucapkan istighfar supaya hatinya semakin longgar dan tidak sesak lagi.
Rena pamit untuk pulang lebih dulu, karena ia ada jadwal operasi nanti siang.
Dirga membawa Salsa keluar ke taman kecil belakang rumah Salsa. Ia menuntun Salsa pelan. Ia sengaja membawa Salsa keluar mencari udara yang sejuk. Karena semakin lama Salsa di dalam dan melihat mendiang Ayahnya, perempuan itu semakin sedih. Alhasil Dirga membawanya kesini.
"Sal saya boleh nanya, sesuatu?" Tanya Dirga sembari mendorong ayunan yang di duduki oleh Salsa.
"Kakak mau nanya, apa?" Tanya balik Salsa.
"Gimana, Sal? Kamu sudah mulai menyukai saya, belum?"
To be continued...
Tadaaa. Aku sempatin update 2 kali sehari ini yaa.
Semangatin terus akunya. Supaya lebih semangat nulisnya.
__ADS_1
VOTE DAN KOMEN YAA
JANGAN LUPA FOLLOW IG AKU @meigasellaap