Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
firts kiss


__ADS_3

"oh pantes ngasih izin," kata Salsa sewot sembari memalingkan wajahnya. Ia enggan melihat laki-laki berseragam loreng yang sedang tersenyum jahil melihatnya. Saat ini, mereka sedang berada di salah satu penginapan yang ada di kota seribu sungai tersebut. Yaps! Kalimantan Selatan memang di juluki dengan kota seribu sungai.


Oke sudah cukup!


Kembali ke topik!


Mereka berada di balroom penginapan tersebut. Ada sebuah sebuah kafe kecil untuk sedikit Salsa beristirahat karena hari juga sudah menjelang malam. Sebenarnya, Dirga yang mengajak dirinya kesini untuk bermalam. Walaupun sudah di sediakan posko untuk penginapan para relawan, tetap saja sebagai suami yang baik (hihi) Dirga harus mencari tempat yang terbaik untuk Salsa.


Terkesan lebay! Tapi Dirga tidak perduli!


"Kamu kesal karena saya nggak nganter kamu ke, bandara?" Tanya Dirga sembari tersenyum jahil. Dirga memang sengaja tidak mengantar Salsa ke bandara karena ia sudah lebih dulu di tugaskan ke sini. Perihal Dirga tidak tidur di rumah semalam, karena anggota TNI sudah lebih dulu menaiki pesawat malam kemarin. Dirga sengaja tidak memberitahu Salsa, karena ia tahu jika Salsa akan ikut terpilih menjadi relawan. Sengaja laki-laki itu tidak memberitahu istrinya. Ya, sebenarnya itu keterlaluan, ia hanya ingin melihat bagaimana ekspresi istrinya sendiri. Haha! Dasar kapten jahil!


Dirga melihat Salsa yang terlihat kesal. Dirga tersenyum jahil lagi. Ada sedikit perubahan pada Salsa. Ada sedikit kepedulian yang tidak tampak untuk Dirga. Begitulah menurut penilaian Dirga. Sedikit demi sedikit, Dirga bisa membuat Salsa menjadi nyaman kepadanya. Namun, ia juga tidak boleh egois memikirkan perasaannya sendiri. Semakin berjalannya waktu dan atas petunjuk Allah swt. Dirga sudah memantapkan hatinya sendiri. Mungkin seminggu yang lalu, perasaan itu mulai muncul untuk Salsa.


Salsa tetap diam pada posisinya.


"Diminum, saya sudah pesankan minuman kesukaan kamu. Supaya badmood kamu hilang," kata Dirga sembari menyodorkan cokelat hangatnya.


"Kok kamu bete terus ya, Sal? Bawa dzikir aja," Kata Dirga lagi yang membuat Salsa menyeruput cokelat hangatnya. Benar, rasa badmoodnya hilang walaupun tidak sepenuhnya.


"Sal," panggil Dirga.


"Kenapa, kak?"


"Gimana? Sudah mulai suka sama saya, belum?" Tanya Dirga lagi dan LAGI membuat Salsa tersipu malu. Bagaimana ia harus menjawabnya.


Ayo Sal! Lo pasti bisa! Lo bisa kok ngelawan rasa bersalah itu. Angkasa Dirgantara itu suami sah lo!


"Apaan sih, kak?! Nanyanya gitu terus," tanya Salsa setelah menyeruput cokelat hangatnya lagi.


"Kak Angkasa," panggil Salsa.


"Iya, Sal?"

__ADS_1


Pandangan Salsa menatap keluar dari balik kaca putih. Di luar sedang hujan lebat. Membuat Salsa gelisah karena volume air akan naik. Bagaimana nasib mereka yang sedang kedinginan, kelaparan? Bahkan masih banyak lagi orang-orang yang ada di pelosok pedalaman yang belum mendapatkan bantuan. Di karena akses jalan utama yang sulit di tembus. Hanya helikopter dan beberapa kapal yang bisa masuk ke pelosok pedalaman. Dan itu pun jumlahnya yang terbatas.


Dan pada akhirnya, Salsa mengalihkan topik pertanyaan yang di tanyakan Dirga beberapa menit yang lalu.


"Di luar hujan," kata Salsa sembari menatap nyalang segerombolan air hujan yang menghantam bumi.


"Iya saya tau," kata Dirga.


"Maksud saya, bagaimana nasib mereka?"


"Dari kalimat pertanyaan seperti itu, seharusnya kita lebih introspeksi diri dan bersyukur. Bersyukur karena Allah tidak memberikan musibah kepada kita," kata Dirga kemudian menyeruput kopi hangatnya.


"Hari sudah larut malam, saya antar kamu ke kamar," kata Dirga lagi. Salsa menganggukkan kepalanya. Mereka bangkit dan meninggalkan balroom hotel setelah membayar minumannya. Mereka berjalan menaiki lift untuk menuju lantai 2.


"Kamu tidur, saya mau balik ke posko pengungsian. Supaya badan kamu tetap fit. Lucu aja, nanti kalau relawan sakit, apalagi dokternya," kata Dirga sembari berjalan di samping Salsa menuju kamarnya.


Salsa mengernyit, "kakak nggak, tidur?"


Dirga menggeleng, " enggak, Sal. Saya jaga di sana,"


Kini mereka sampai di kamar yang mereka sewa. Dirga ikut masuk ke dalam.


"Nggak mandi, dulu?" Tawar Salsa.


"Nggak deh kayaknya, Sal,"


"Kak Angkasa bawa baju ganti kan?"


"Bawa kok, besok saya bawa kesini, sekalian jemput kamu,"


Salsa setuju. Lokasi hotel ini tidak jauh dari posko pengungsian. Awalnya, Salsa tidak mau menginap di sini karena tidak enak saja relawan lain. Namun, Dirga memaksanya agar tetap di menginap di sini dengan embel-embel, kamu harus nurut sama suami, Walaupun kamu belum menyukai saya.


Hati Salsa hanya berkata miris! Ingin sekali ia menjerit keras jika dirinya sudah mencintai Dirga selama tujuh tahun lamanya! Bayangkan saja!

__ADS_1


Dirga mengelus puncak kepala Salsa dengan lembut sembari menatap manik mata Salsa yang terlihat damai. Dirga mendekat kearah Salsa.


"Sudah 4 bulan lamanya kita menikah, saya nggak pernah melihat rambut indah kamu," kata Dirga dengan serius. Terlihat dari ekspresinya yang memperhatikan Salsa dengan seksama. Salsa gelagapan.


"Boleh saya membuka hijab, ini?" Dirga meminta izin Salsa yang sudah gugup sejak awal. Salsa harus menjawab, apa?


Tangan kekar Dirga beralih mengelus pipi Salsa dengan lembut sembari menyusuri wajah Salsa. Mengelus kedua mata sipit Salsa dengan sayang. Salsa merasakan titik kenyamanan yang Dirga timbulkan. Laki-laki itu menatap matanya dengan tulus. Salsa mencoba mencari-cari kebohongan yang di pancarkan mata Dirga, namun Salsa tidak menemukannya selain ketulusan itu. Apa Salsa salah melihat?


Pelan-pelan Dirga, melepas hijab Salsa dengan lembut. Salsa menutup matanya karena perempuan itu sudah gugup karena perlakuan Dirga.


Hijab itu sudah terbuka bebas dan memperlihatkan rambut indah Salsa yang di gelung manis. Dirga tersenyum tulus sembari mengalihkan tangannya untuk mengelus rambut Salsa dengan lembut. Kemudian, menarik Salsa lebih mendekat untuk mencium puncak kepala Salsa dengan sayang. Salsa semakin tegang bersamaan dengan kenyamanan yang di berikan Dirga. Cukup lama Dirga mencium ubun-ubunnya. Dan Salsa menikmatinya. Salsa sudah melawan rasa bersalah itu. Iya! Salsa pasti bisa!


Dirga beralih mencium dahi Salsa dengan sayang. Kemudian, Dirga tersenyum lembut menatap Salsa.


Salsa merasakan betapa senangnya jika seseorang yang ia sukai dari dulu ternyata menjadi suaminya sendiri. Dan saat ini mencium dahinya dengan sayang.


Dirga memeluk Salsa sembari membisikkan, "Saya sayang kamu, Sal," bisik Dirga dengan tulus yang membuat hati Salsa terenyuh. Air mata Salsa sudah mengalir begitu saja tepat Dirga mengatakan kalimat itu.


Dirga menghapus air mata Salsa dengan kedua jarinya. Kemudian Dirga mencium dahi Salsa lagi. Tak lama, ciuman itu turun ke bawah dan berhasil mencuri firts kiss Salsa.


Air mata Salsa semakin deras!


Dirga mencuri firts kiss nya!


Dirga menghapus air mata Salsa dengan sayang dan mencium dahinya sekali lagi. Hal itu akan menjadi hobi baru yang Dirga sukai.


"Tidur yang nyenyak, subuh saya akan kesini bangunin, kamu. Kunci pintunya," kata Dirga sembari pergi meninggalkan Salsa yang masih menangis. Kali ini bukan tangis kesedihan, namun tangis kebahagiaan!


**"


Pliss aku nggak kuat nulis adegan romantis Salsa sama Dirga. Jujur aku baper banget ih! Pengen deh kayak Salsa.


YANG JOIN GRUP BISA CHAT AKU DI WA ATAU INSTAGRAM @meigasellaap Yaaaa

__ADS_1


VOTE DAN KOMEN!


__ADS_2