Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
dalil angkasa


__ADS_3

Alhamdulillah saya update lagi. Apa kabar kalian, semua?


Jangan lupa vote dan komen yaaa ❤️


***


Sudah lebih dua hari setelah kepergian kedua orang tua Salsa ke Makassar. Jika, kedua orang tuanya sudah sampai di Makassar, seharusnya telepon Salsa sudah di angkat. Atau bundanya sudah mengabarinya jika beliau sudah sampai. Namun hasilnya nihil. Bolak-balik Salsa memegang ponselnya, berharap ada balasan pesan dari orang tuanya. Namun, tetap nihil!


Salsa duduk di bangku teras rumahnya menatap nyalang hujan yang sedang turun tidak terlalu deras. Sembari memegang tasbih di tangan lentiknya.


Melihat halaman kebunnya yang basah karena air hujan membuat Salsa mengerti jika hujan adalah berkah. Berkah bagi makhluk hidup.


"Jangan melamun," tiba-tiba suara bariton terdengar di telinga Salsa.


Dirga menyodorkan segelas cokelat panas pada Salsa. Di cawan minuman Salsa, Dirga menambahkan permen untuk Salsa. Salsa masih belum menanggapi Dirga.


"Manusia yang hidup bakalan meninggal. Kita sebagai makhluk hanya bisa berserah diri kepada Allah swt," kata Dirga setelah berhasil duduk di bangku sebelah Salsa. Laki-laki itu sangat mengerti kondisi Salsa saat ini.


Dan Salsa masih dalam posisinya.


"Guru ngaji saya pernah berkata kepada saya seperti ini Sal--" kata Dirga menghentikan kalimatnya sebentar untuk menatap Salsa sebelum melanjutkan perkataannya,"--hati menentukan laku tiap perbuatan. Bila hatinya baik, ucapannya pun menyejukkan. Namun, bila hati keruh, hawa nafsu merusak perkataan," lanjut Dirga dengan lembut sembari masih menatap Salsa yang masih tetap berada di posisinya. Semenjak dua hari yang lalu, Salsa tidak ada makan sama sekali. Dirga harus memaksa Salsa untuk memakan makannya agar tubuhnya selalu mendapatkan energi. Namun, perempuan itu menolak.


"Saya ingin kamu tetap tenang dan tidak terbawa hawa nafsumu. Selalu berpikir positif kepada Allah swt. Kita kehilangan seseorang yang kita sayang, maka itu sudah takdir Allah swt. Dan di balik itu semua, pasti ada rencana Allah swt. yang luar biasa. Yang tidak bisa kamu duga. Saya yakin, Allah selalu menyiapkan segala sesuatu hal luar biasa untuk hamba-Nya yang sudah melewati masa sulit," kata Dirga sembari mengulurkan tangannya untuk menarik Salsa mendekat ke arahnya. Salsa menurut, perempuan itu menyandarkan kepalanya pada bahu hangat Dirga.


Dirga mengelus-elus puncak kepala Salsa dengan lembut. Ia tahu pasti jika Salsa membutuhkan bahu yang kokoh untuk bersandar.


"Allah tak akan membiarkan hamba-Nya yang mengingat dan meminta pada-Nya. Tetap tenang dan sabar, hingga Allah selesaikan segala masalah dan urusanmu. Belajarlah yakin," Dirga kembali berujar.


Hati Salsa sedikit meleleh karena ucapan Dirga yang benar. Ia hampir saja meragukan Allah swt. Terhinalah Salsa jika ia berbuat sesuai kehendak nafsunya.

__ADS_1


"Kak Angkasa," panggil Salsa lirih. Entah mendapat nyali dari mana, saat ini tangan lentik Salsa menggenggam erat tangan besar Dirga. Jari mereka saling menautkan. Seolah-olah, Salsa sedang mencari kekuatan pada tangan kekar dan hangat itu.


"Iya, Salsa?" Tanya Dirga lembut sembari mengeratkan tangannya untuk memberikan kekuatan pada istrinya.


"Kakak mau nganterin, saya?"


Dirga mengernyitkan dahinya.


"Kemana?"


"Anterin saya," kata Salsa lagi. Kemudian, perempuan itu bangkit dari duduknya. Salsa mengambil tangan Dirga untuk menyuruhnya bangun. Dirga menurut.


Salsa menyeret Dirga menuju garasi mobil. Ia menyuruh Dirga mengemudikan mobilnya. Dirga sudah beberapa kali menanyakan tujuan perempuan itu, namun Salsa tetap diam dan hanya menunjukkan jalan saja. Dirga pasrah dan mengikuti apa kata Salsa. Di dalam mobil, keheningan yang menjadi soundtracknya. Tanpa menyalakan musik, mereka lenyap dalam keheningan.


Mereka menempuh perjalanan lumayan jauh. Namun, Dirga curiga dengan arah yang di tuju istrinya. Seperti arah ke pelabuhan.


"Ingin apa ke pelabuhan?"


Salsa hanya diam. Hingga mereka sampai di tempat yang leluasa untuk melihat langit yang sedang mendung di sertai hujan. Tempat yang luas. Bisa memandang langit sepuas mungkin karena tidak ada gedung tinggi yang menutupi langit mendung itu. Mereka bisa melihat ombak laut dengan puas. Salsa menyuruh Dirga menepikan mobilnya di pinggiran laut yang di beri batas pagar. Cuaca saat itu hujan.


Salsa membuka pintu mobilnya. Ketika ingin keluar dari mobil, tangan Salsa di cekal oleh Dirga.


"Sal, kamu masih waras, kan?" Tanya Dirga sembari mencekal pergelangan tangan Salsa.


Salsa hanya. Menganggukkan kepalanya. Ia melepaskan cekalan tangan Dirga dan keluar tanpa payung. Salsa mengambil sesuatu di bagasi belakang mobil. Ada sebuah ban kecil di dalam bagasi tersebut.


Sedangkan Dirga yang khawatir, segera ikut turun menembus hujan bersama dengan Salsa. Ia bingung melihat Salsa yang membawa sebuah ban untuk berenang.


Salsa berjalan ke pinggiran pagar pembatas laut itu sembari membawa ban tersebut. Dirga mengikuti langkahnya. Laki-laki itu hanya mengawasi Salsa.

__ADS_1


Salsa menjatuhkan ban tersebut ke laut dengan berkata, "ini untuk ayah sama bunda. Cepat pulang dengan memakai ban itu. Salsa tunggu di sini, ya," kata Salsa sembari tersenyum miris. Mata perempuan itu menatap ban tersebut yang terombang-ambing karena ombak laut yang sedikit besar.


Dirga yang menyaksikan hal itu, terhenyak seketika. Hatinya miris melihat istrinya seperti itu. Ia mendekati Salsa dan memeluknya erat di bawah guyuran air hujan.


Perempuan itu belum membalas pelukan Dirga dan tetap di posisi awalnya.


"Ayah bunda cepet pulang kesini ya! Salsa udah bawain ban renang, supaya ayah sama bunda bisa kembali!" Kata Salsa sedikit mengeraskan suaranya. Yang membuat Dirga semakin memeluk perempuan yang sudah basah kuyup seperti dirinya.


"Salsa nungguin di sini sampai ayah sama bunda kembali make ban renang itu. Jangan lama-lama, nanti Salsa kangen! Ayah sama bunda bisa renang, kan? Ya udah cepat pulang! Jangan lama-lama mainnya, nanti Salsa kangen!" Kata Salsa. Perempuan itu sudah tidak kuat. Ia meneteskan air matanya dengan deras di tambah guyuran air hujan.


"AYAH BUNDA CEPET PULANG!!! MAINNYA JANGAN LAMA-LAMA!" Salsa kembali berteriak sembari menangis tersedu. Ia memukul-mukul dada bidang Dirga dengan keras. Dirga hanya diam, jika hal itu bisa memuaskan Salsa, Dirga rela di pukuli perempuan yang sedang menangis saat ini.


"Kak Angkasa, kenapa semua ini bisa terjadi?!" katanya sedikit keras. Ia terus menangis di pelukan Dirga yang hangat. Dirga terhentak melihat istrinya yang terpukul karena kecelakaan pesawat tersebut.


"Itu beritanya hoax kan, kak?" tanyanya lagi dengan menangis sesenggukan.


Jangan di tanya bagaimana perasaan Salsa saat ini. Hancur berkeping-keping layaknya sebuah kaca yang jatuh.


"Tidak ada cinta yang tulus selain cinta Ibu kepada anaknya. Tidak ada do'a yang terhalang kecuali do'a Ibu kepada anaknya. Maka bagi seorang anak taati ucapannya selagi ada, sayangi dirinya, dan jaga dirinya. Sebab, bila wajahnya telah pucat dingin tak ada darah yang mengalir, engkau akan sadar. Betapa menderitanya Ibu mu di atas sana ketika kamu menangisi kepergiannya," kata Dirga di bawah guyuran air hujan itu.


Dirga mendekap Salsa dengan erat, berusaha menyalurkan energi positif pada istrinya. Sesekali ia mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang.


Dengan sayang?


To be continued...


Alhamdulillah, saya up.


Author bakal usahain sehari update 2 kali. Tapi nggak janji yaaa. Terima kasih yang sudah menghargai ❤️

__ADS_1


__ADS_2