Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
happy


__ADS_3

Salsa berjalan menuruni tangga rumahnya setelah melakukan sholat subuh. Ia melihat jam yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Kakinya terus berjalan menuju kamar bundanya. Tanpa mengetuk, ia memasuki kamar bundanya. Salsa tersenyum melihat bundanya yang sedikit demi sedikit mau berbicara dengannya. Ada perubahan yang bagus bagi Salsa.


Sekarang wanita paruh baya itu sedang berbaring dengan membuka matanya. Salsa tersenyum lagi karena bundanya sudah bangun dan membalas senyuman Salsa. Walaupun tidak terlalu lebar senyuman itu, Salsa sangat menyukai senyuman itu.


Salsa berjalan menghampiri bundanya.


"Bunda, waktunya sholat subuh," Salsa berkata dengan lembut. Bundanya merespon dengan anggukan dan sedikit senyuman untuk Salsa. Tentu saja hal itu membuat Salsa sumringah senang.


Salsa membantu bundanya untuk berwudhu. Wanita paruh baya itu juga sudah sedikit demi sedikit belajar berjalan. Selain menyembuhkan traumanya, Salsa juga menerapi kaki bundanya yang lumpuh akibat kecelakan itu.


Setelah semuanya selesai, Salsa membantu duduk bundanya di ranjang. Karena belum sepenuhnya sembuh, bundanya sholat dengan duduk.


Salsa tersenyum.


Ia melihat bundanya sholat dengan khusyuk. Ia juga memperhatikan bundanya yang semakin keriput dan kurus. Hati Salsa seperti teriris. Wanita itu yang merawatnya hingga Salsa bisa berdiri di sini. Wanita yang mau mengalah demi anaknya. Seorang ibu yang Salsa sayangi. Wanita yang melindungi Salsa jika terjadi apa-apa. Suatu hari Salsa pernah bertanya pada ibunya, apa keinginan bundanya. Namun, bundanya malah menjawab ketenangan di dunia dan di akhirat. Bundanya hanya ingin itu saja. Memang sederhana, namun namanya juga manusia pasti Allah menguji untuk kesabaran kita. Namun, di balik itu semua pasti Allah berikan yang terbaik untuk kita.


Setelah bundanya selesai sholat, Salsa membantu membereskan mukenanya.


"Bunda, Salsa mau masak dulu ya," kata Salsa setelah selesai melipat mukenanya.


Bundanya berbicara dengan pelan, bahkan sangat pelan, "ikut," kata bundanya dengan senyuman. Dan satu kata itu membuat Salsa menggelengkan kepalanya.


"Jangan bunda. Bunda istirahat aja. Bunda harus sembuh," kata Salsa dengan gelengan kepala pelan. Oh iya, untuk kabar soal Dirga kritis kemarin, Salsa sengaja tidak memberitahu bundanya. Tentu saja! Ia tidak mau membebankan pikiran bundanya. Apalagi kondisinya yang belum pulih total.


Bundanya menggeleng pelan tanda tidak mau mengikuti perkataan Salsa.


"Bunda di sini saja," kata Salsa lagi.


"Biar Salsa yang masak. Lagian di luar dingin," katanya lagi.

__ADS_1


"Nggak apa-apa," kata Bundanya dengan pelan. Namun, Salsa masih berusaha keras agar bundanya tidak ikut.


Dan karena tidak TEGA, Salsa akhirnya mengiyakan permintaan bundanya. Ia membantu bundanya untuk menaiki kursi roda dan keluar kamar menuju dapur.


Salsa mendorong kursi roda bundanya dengan perasaan yang membuncah senang. Hati perempuan itu sangat bahagia. Bahkan bahagia sekali. Karena kondisi bundanya yang semakin hari semakin membaik kondisinya. Di tambah Dirga yang sudah sadar dari tidur panjangnya.


"Udah bunda di sini aja duduk manis. Biar Salsa yang masak ya," kata Salsa dengan senyuman manisnya.


"Emang sekarang sudah bisa masak, ya?" Bundanya bertanya dengan senyuman. Senyuman itu yang di rindukan oleh Salsa. Senyuman seorang ibu yang membuat hatinya menjadi tenang.


Salsa mengangguk dengan semangat, "bisa bunda. Salsa sekarang bisa apa aja. Nggak manja kayak dulu lagi,"


Bundanya tersenyum manis sembari mengelus rambut Salsa dengan lembut.


"Menantu bunda, dimana?"


"Kak Angkasa lagi lembur. Mungkin sebentar lagi pulang," kata Salsa tepat di akhir kalimatnya, ekspresi Salsa berubah menjadi muram. Ia teringat kejadian beberapa hari minggu yang lalu. Tepat di mana Dirga mengalami koma di hari itu karena luka tembakan.


Pulang pagi.


Hal itu membuat trauma Salsa. Apalagi setelah keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu, Dirga langsung ingin sekali masuk dinas lagi. Padahal Salsa sudah mencegahnya karena demi kepulihan laki-laki itu. Tetapi, namanya juga Angkasa Dirgantara. Manusia ngeyel yang pernah Salsa temui.


"Kamu kenapa?" Bundanya telah menyadarkan Salsa dari lamunannya.


Salsa menggeleng, "nggak papa kok bun. Bunda mau di masakin, apa?"


"Assalamu'alaykum," tiba-tiba terdengar suara bariton yang mengalihkan perhatian Salsa dan bundanya. Mata Salsa berbinar ketika melihat sesosok laki-laki dengan gagahnya memakai seragam loreng, telah tersenyum kepadanya setelah mengucapkannya salam.


"Salam itu harus di jawab, nggak malah di jawab dengan senyuman," sewot Dirga sembari menaruh ponselnya di atas meja makan dekat ibu mertuanya duduk.

__ADS_1


"Wa'alaykumsalam," kata Salsa sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Salsa sedikit menyesal karena ia tidak langsung menjawab salam dari Dirga. Ia malah asik terpesona dengan laki-laki itu.


Dirga langsung mencium punggung tangan ibu mertuanya, "gimana kondisi ibu, sekarang?" Dirga bertanya dengan sangat lembut.


Wanita paruh baya itu tersenyum menatap Dirga, "Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesehatan,"


"Alhamdulillah syukur,"


"Kak mandi dulu dong! Baru ngobrol sama bunda," sela Salsa.


Dirga menatap manik mata Salsa dengan rasa sayangnya.


"Wangi saya harum begini kok. Iya nggak, bun?" Kata Dirga sembari mencari musuh. Respon bundanya malah memberikan jempol untuk Dirga sehingga membuat Salsa kesal karena dirinya tidak punya teman.


"Ya udah serah! Salsa mau masak!"


"Gaya dia bun. Sekarang udah bisa masak sendiri," Dirga mencibir Salsa dengan ibu mertuanya yang membuat wanita paruh baya itu tertawa karena menantunya yang lucu.


Salsa ingin sekali melemparkan panci ke wajah Dirga namun tidak jadi karena rasa sayangnya lebih besar. Haha!


"Kakak nih apaan sih?! Jangan coba-coba racunin bunda ya!" Kata Salsa dengan kesal.


Dirga bangkit dari duduknya dan menghampiri Salsa yang berdiri sembari membawa panci kecil. Dirga yang melihat hal itu langsung tertawa hingga membuat Salsa kebingungan.


Dan tanpa aba-aba lagi, Dirga menggendong Salsa dan mendudukkan Salsa di meja kitchen island. Bundanya yang melihat kedua anaknya menjadi merasa senang.


Salsa memekik kaget karena perlakuan Dirga yang tiba-tiba.


"Udah saya aja yang masak. Tuan Putri supaya menunggu Pangerannya yang sedang memasak," kata Dirga setelah mengelus puncak kepala Salsa dengan sayang. Jangan di tanyakan lagi bagaimana perasaan Salsa saat ini.

__ADS_1


Salsa harus banyak bersyukur karena Allah memberikan nikmat yang cukup banyak pada dirinya. Terkutuklah dirinya jika tidak bersyukur. Allah selalu menjawab doa-doanya. Lewat sepertiga malam, Salsa selalu berdoa. Selalu mencurahkan isi hatinya kepada Allah. Karena Allah adalah tempat terbaik untuk mencurahkan isi hati. Salsa berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. 


__ADS_2