Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
5. palestina


__ADS_3

PART 5


Jakarta, Indonesia


Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta)


Tiga hari berlalu, dan hari ini adalah hari keberangkatan Salsa beserta relawan lain. Ada banyak relawan yang dari daerah-daerah lain. Seperti dari pulau-pulau besar, Kalimantan, Sumatra, Papua, Sulawesi, dan Jawa. Salsa tidak menyangka jika relawan yang ikut sebanyak ini. Ia mengira jika akan sedikit yang ikut. Di hati Salsa, ia sangat senang. Karena rasa peduli mereka cukup tinggi.


Salsa selalu berdoa dalam hati, agar ia di permudah urusannya ketika di sana. Tentunya, ia di bekali doa oleh kedua orangtuanya dan sahabatnya beserta orang-orang terdekatnya. Mereka mengantar Salsa sampai bandara


Setelah adegan perpisahan dengan kedua orangtuanya, Salsa segera menyusul rombongannya untuk segera masuk ke dalam awak kabin pesawat yang akan membawanya ke Palestina. Salsa berjalan masuk ke awak kabin sembari mengusap air matanya yang menetes. Ia tidak boleh selemah ini. Tidak!


Ia mencari tempat duduknya yang ada di sisi jendela. Ia melihat keluar jendela, jemarinya ia tempelkan pada kaca jendela. Sadar atau tidak, setetes air matanya kembali menembus keluar. Tapi, Salsa tidak segera menghapusnya.


Semoga jadi keluarga yang samawa. Happy wedding Kak Dirga dan Mbak Ara. Maaf, Salsa nggak bisa datang. Salsa bakal nggak bisa bangun pas liat ijab kabulnya...batin Salsa miris. Ketika sadar, ia segera menghapus air matanya yang dengan lancang menyerobok keluar. Ia menghapus cepat, karena takut ada yang melihat jika dirinya menangis.


Salsa menoleh ketika di sampingnya telah duduk seorang perempuan manis yang telah menyapanya.


"Hai, dari mana kamu?" tanya wanita itu sopan.


"Aku dari Jakarta," jawab Salsa.


"Kenalkan, aku Aurin dari Lombok,"

__ADS_1


"Aku Salsa," jawab Salsa.


Salsa hanyut dalam obrolan seru dengan Aurin. Ketika salah satu pramugari mengingatkan pesawat akan berangkat, mereka segera bersiap-siap.


****


"Alhamdulillah," kata Salsa lirih.


Setelah berjam-jam duduk di pesawat, akhirnya mereka sampai tujuan. Salsa bernapas lega karena Allah Swt. Telah memberi kelancaran keberangkatannya ini. Mereka langsung di jemput oleh lima mobil Tentara Nasional Indonesia. Tentu saja mereka di sambut dengan sangat baik.


Tak lupa ia mengirim pesan pada bundanya yang ada di Indonesia. Agar bundanya tidak khawatir. Ia juga sekalian memberi tahu jika di sini bakal susah sinyal karena tempatnya yang dalam.


Ketika mobil anti peluru itu mulai meninggalkan bandara, mereka mulai mendengar suara dentuman kecil dari luar. Seperti suara bom yang meledak dari jarak kejauhan. Hati Salsa bergetar, merasa sedikit takut. Tak hanya Salsa, para relawan lain pun juga begitu takut. Suasana begitu mencekam di perjalanan menuju base camp. Salsa memilih untuk berdzikir untuk mengurangi rasa takutnya. Sembari mendengarkan salah satu tentara telah menenangkan mereka agar tidak takut.


Setelah satu jam berlalu, akhirnya mereka sampai base camp milik TNI angkatan darat. Para relawan masuk untuk pembagian tugas. Salah satu Jenderal TNI telah membagikan kertas putih ke setiap para relawan. Kertas putih itu berisi tempat tugas mereka.


Salsa membacanya, ia mendapat tugas di rumah sakit pusat, berarti akan dekat dengan kejadian pengeboman. Hatinya berteriak takut, tapi segera ia hilangkan. Ia tidak boleh takut, ada Allah Swt yang selalu menemaninya. Salsa tidak protes dalam penugasan ini. Toh, bukan hanya Salsa saja.


"Kamu dapet jatah mana, Sal?" tanya Aurin.


"Rumah sakit pusat, kamu?"


"Yahhh kita beda, aku rumah sakit daerah," katanya mendesah. Salsa hanya tersenyum ramah.

__ADS_1


Ada empat pembagian tugas. Masing-masing rumah sakit di huni tujuh relawan. Kecuali rumah sakit pusat ada 13 orang diantaranya enam dokter dan sebagiannya perawat. Setelah itu, mereka langsung berangkat menuju rumah sakit masing-masing. Tentunya di antar oleh mobil anti peluru TNI angkatan darat.


Ketika Salsa akan memasuki mobil tentara, tak sengaja ekor matanya melihat seseorang yang di kenalinya. Ketika Salsa menoleh, tentara itu membalikkan badan dan berjalan menjauh. Salsa mengendikkan bahunya dan langsung masuk ke dalam mobil.


Perjalanan menuju rumah sakit pusat lebih mengerikan lagi. Banyaknya suara bom yang meledak dari kejauhan. Alhasil sepanjang jalan, Salsa hanya berdzikir untuk menghilangkan rasa takutnya. Ia kesini sudah bertekad hidup dan matinya ia serahkan pada Allah Swt. Maka dari itu, ia harus mengusir rasa takut yang lancang sekali hinggap di hatinya.


DUARRR !!!


Suara dentuman terdengar semakin keras dari kejauhan. Dalam hati Salsa, gadis itu ingin berteriak dan menangis karena memikirkan nasib anak-anak yang tak berdosa telah berlumuran darah.


"Saya minta agar tenang, jangan merasa takut. Ada kami yang akan melindungi kalian. Kami korbankan nyawa kami," kata salah satu tentara di samping kemudi.


Akhirnya mereka kembali tenang. Keadaan begitu tambah mencekam. Suara tembakan juga terdengar sana sini. Sampai mereka sampai di rumah sakit pusat yang terlihat banyak orang kesakitan di sana. Entah kakinya luka, entah tangannya hilang karena ledakan bom. Melihat hal itu, pasti penjaga rumah sakit ini kewalahan. Alhasil mereka langsung turun dan ikut membantu dokter-dokter lain.


Mereka belum mengenal tempat ini, tapi mereka cukup tau di mana ruangan untuk mengobati.


Salsa sudah menggendong anak kecil yang kakinya sobek hingga mengeluarkan banyak darah. Ibu si anak kecil telah mengikutinya. Dalam keadaan seperti ini, ia tidak boleh panik. Karena panik akan membawa pekerjaannya berantakan.


Ia menurunkan anak kecil pada ranjang. Ia segera menyari kotak P3K. Mengobati luka anak kecil itu dengan teliti. Anak itu terus menangis kesakitan. Salsa sungguh tak tega. Ia segera membungkus kaki kecil itu dengan perban.


"Terima kasih banyak, Dok," kata sang ibu anak itu.


Salsa tersenyum ramah.

__ADS_1


***


__ADS_2