Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
18+


__ADS_3

Setelah sepulang kerja, Salsa memutuskan pergi ke rumah Rena. Walaupun mereka beda rumah sakit, rumah mereka tidak lah jauh. Salsa bersyukur dengan hal itu.


Salsa mengendarai mobilnya dengan pelan karena jalanan sedikit macem, mengingat ini jam pulang kerja pekerja. Salsa menyeruput sedikit cokelat hangatnya yang ia beli tadi sebelum pergi. Menikmati setiap seruputan itu. Baginya cokelat adalah penghilang rasa penat dan bisa membuatnya fresh. Karena ia suka cokelat. Beda jika orang tidak suka makanan atau minuman berbasis cokelat. Hihi.


Salsa masih berhenti di perempatan lampu merah. Ia memutuskan untuk mendengarkan musik untuk menghilangkan rasa jenuhnya dalam perjalanan.


Mobilnya kembali berjalan ketika lampu merah sudah bergeser menjadi lampu hijau.


Salsa mendengar jika ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Salsa hanya melirik ke samping tempat ponselnya berada dan melihat sepertinya Dirga membalas pesannya. Sebelum berangkat kerumah Rena, Salsa memang izin bermain kerumah Rena. Karena ia sangat merindukan sahabatnya itu. Sudah hampir sebulan lamanya ia tidak bertemu dengan Rena. Ia merindukan cekcok dengan sahabatnya.


Di perjalanan, Salsa menyempatkan berhenti untuk membelikan Rena jajanan kesukaannya. Ia juga membawakan sebuah oleh-oleh dari Kalimantan Selatan untuk sahabatnya itu.


Mobil Salsa sudah memasuki kawasan perumahan Rena.


Setelah sampai, ia segera menepikan mobilnya. Komplek perumahan Rena agak jauh dari rumah tetangganya. Entah kenapa Rena malah memilih rumah yang posisinya sedikit pojok.


Salsa mengklason sebelum turun. Ia segera berjalan untuk membuka pintu gerbang Rena dan mengetuk pintunya sembari mengucapkan salam.


"Assalamu'alaykum,"


"Renataaaa, i'm come back!"


Salsa begitu senang dan menampilkan senyumannya walaupun Rena belum melihat senyuman manisnya. Salsa begitu bersemangat.


"Assalamu'alaykum, Rena. Salsa dateng nih,"


Namun belum juga ada sahutan dari dalam sana. Salsa menilik ke kendaraan matic Rena yang masih dirumah dan sendal kesayangan Rena juga masih ada di rak sepatunya. Berarti gadis itu tidak kemana-mana. Apa mungkin, tidur?


"RENAAA, INI GUE SALSA," Salsa berteriak sedikit keras. Biasanya juga jika Rena tidur, Salsa berteriak, tetap saja Rena bangun dan membukakan pintu untuknya.


PYARRRRR!

__ADS_1


Salsa spontan melotot ketika mendengar suara pecahan kaca yang bunyinya berasal dari dalam. Salsa mengetuk pintu rumah Rena dengan keras sembari memanggil-manggil nama sahabatnya. Namun, tak kunjung ada sahutan dari dalam. Salsa panik.


"RENAAA! LO DI DALAM, KAN? BUKA PINTUNYA!" Teriak Salsa sembari mengetuk keras pintu rumah Rena. Karena rumah Rena yang jauh dari tetangga, jadi tidak ada yang panik mendatangi rumah Rena.


PYARRR!!


Suara pecahan kaca itu lagi terdengar. Dan Salsa juga mendengar suara perempuan berteriak kesakitan. Salsa panik sembari mendobrak pintu Rena dengan kuat. Namun, apalah daya ia hanya perempuan yang tidak kuat mendorong pintu yang terkunci itu. Salsa terus berteriak meminta tolong, namun heninglah yang mendatangi.


"RENAA! LO DI DALAM, KAN?" teriaknya lagi dengan panik. Salsa mencari objek yang cukup untuk mendobrak pintu rumah Rena. Namun, ia tidak menemukannya. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Ia panik. Pasti terjadi sesuatu di dalam sana.


Hingga suara tangisan kesakitan semakin mendekati pintu. Salsa berteriak lagi dan mendobrak pintu yang terkunci itu.


"RENA! RENA LO KENAPA? LO KENAPA NANGIS, REN?" teriaknya dari luar sembari menggedor-gedor pintu tersebut.


Tak lama, tiba-tiba pintu terbuka. Salsa terkejut melihat apa yang di lihatnya saat ini. Cukup lama ia terkejut sampai suara gertakan menyadarkan dirinya.


"HEH LO JALANG JUGA KAN!" teriak suara bariton yang terdengar sangat garang. Salsa sedikit ngerti mendengarkan suara itu. Salsa menangis ketika melihat Rena yang menangis kesakitan dan ia melihatnya jika tangan dan kaki sahabatnya itu penuh dengan luka sayatan.


Salsa tidak menyangka jika pria itu adalah pacar Rena sendiri.


"LO NGGAK PUNYA, OTAK?!" kata Salsa dengan amarah yang luar biasa. Ia tidak menduga jika di balik hubungan Rena dan pacarnya ada kekerasan. Pantas saja, jika setiap Salsa memeluk Rena pasti gadis itu sedikit melenguh kesakitan. Ternyata ini alasannya.


"INI WANITA! DASAR MANUSIA NGGAK PUNYA HATI!!" seru Salsa dengan marah. Sepertinya selama ia hidup, baru kali ini Salsa menemukan seseorang yang kejam seperti ini. Dan baru kali ini juga Salsa benar-benar di buatnya marah. Walaupun selama ini ia terkesan diam dan tidak pernah marah. Tentu saja ia tidak terima jika sahabatnya di siksa seperti ini.


"TERNYATA SELAMA INI LO PYSCHO!" Teriak Salsa lagi. Tangan Salsa di tarik mundur oleh Rena yang saat ini masih merasakan kesakitan yang luar biasa. Banyak luka sayatan di tubuhnya.


Pria itu maju selangkah mendekat kearah Salsa sembari menatap tajam Salsa yang lebih pendek darinya.


Pria itu mendorong Salsa hingga perempuan itu jatuh ke lantai. Rena berusaha menolongnya dengan badannya yang perih semua. Salsa meringis kesakitan. Tentu saja tenaga pria itu lebih besar ketimbang Salsa.


"Sal udahh," kata Rena dengan suara yang lemah di serta tangisan.

__ADS_1


"LO MAU SOK JADI PAHLAWAN KESIANGAN?!!" gertak suara itu menggila.


Tanpa di duga, pria itu malah menarik paksa Salsa yang masih terduduk di lantai dingin rumah Rena. Hingga Salsa terseret. Pria itu membawa Salsa masuk ke dalam kamar mandi. Tiba-tiba mencengkeram kerah baju belakang Salsa dan menenggelamkan kepala Salsa di air. Salsa gelagapan di dalam air tidak bisa bernapas. Salsa sudah meronta namun tenaganya kalah kuat dengan pria mengerikan itu. Kepala Salsa di angkat ke udara dan kemudian di tenggelamkan lagi ke dalam air. Rena yang tau hal itu langsung menarik tangan pria itu dengan badan yang sakit akibat luka sayatan. Dengan sekuat tenaganya, namun tidak berhasil. Rena menangis sembari berteriak meminta tolong walaupun itu hal yang sebenarnya sangat percuma karena tidak akan ada yang mendengarkan.


Cukup lama Salsa berada di dalam air. Salsa sudah sangat lemas sekali.


"Tolong..." Kata Rena dengan lemah.


"Tolong siksa gue aja! Jangan sahabat gue. Gue mohon, jangan siksa diaa. Dia nggak tau apa-apa," katanya sembari menangis memohon pada pria itu. Suaranya terdengar sangat lemah sekali karena ia sepertinya ingin mati saja daripada di siksa seperti ini.


Sebenarnya, apa salah Rena hingga jadi seperti, ini?


Pria itu menarik kepala Salsa lagi yang sudah lemas. Napasnya sudah tersengal-sengal seakan-akan pasokan udara sudah sangat tipis. Salsa hanya mampu berdzikir dalam hatinya. Jika ini adalah garis kehidupannya, maka ia akan pasrahkan semuanya pada Allah. Dan jika tidak, dengan cara apapun Allah akan menyelamatkannya. Salsa sudah pasrah. Ia dapat mendengar suara isak tangis sahabatnya yang memohon pada pria itu untuk Rena saja yang di siksa. Hati Salsa teriris. Ternyata, dibalik tawa Rena, ada luka yang tak bisa di sembuhkan. Namun, kenapa selama ini Rena tidak pernah bercerita dengannya?


"Makanya jadi orang jangan sok-sok an jadi pahlawan kesiangan!" Sentak pria itu dengan kasar. Telinga Salsa juga sudah tersembuat oleh air. Maka dari itu, ia dapat mendengarkan suara di sekitarnya dengan kecil. Bahkan kecil.


Salsa sudah menangis sedari tadi.


Rena kembali memberontak agar Rena terlepaskan dari pria itu. Namun, tenaganya sangat kuat.


Kak Angkasa, Salsa takut!


Pria itu tertawa dengan lantang seolah-olah ia bangga dengan apa yang di buatnya sekarang. Ia senang melihat Salsa tidak bisa bernapas. Tawa pria itu pecah menggelegar seluruh kamar mandi.


Kemudian, kepala Salsa kembali di tenggelamkan ke dalam air. Salsa gelagapan. Pasokan udaranya sudah sangat sedikit.


Kepalanya di angkat lagi ke udara, dan di masukkan lagi ke dalam air.


Rena sudah berusaha melepaskan cengkraman tangan pacarnya pada kerah baju Salsa. Namun, pria itu malah menendang Rena hingga gadis itu terpental dan kesakitan.


To be continued....

__ADS_1


Haduh 😭😭😭


__ADS_2