
"Hei kenapa kamu, menangis?" tepat pertanyaan ini di lontarkan ketika ia selesai bercerita. Dirga dapat melihat jika air mata Salsa merembes banyak membasahi pipi gadis itu.
Salsa tidak menjawab perkataan Dirga, melainkan gadis itu terisak. Jika posisinya berada di Ara. Hatinya sudah pasti akan sesak. Tapi satu pertanyaan di benaknya. Mengapa Ara melakukan hal konyol ini? Sampai ia rela bunuh diri jika Dirga tidak menikahi Salsa.
Salsa menyibak selimutnya sembari mengusap air matanya dengan kasar. Kedua kakinya mengarah turun, tapi Dirga menahannya.
"Mau kemana?"
"Salsa harus ketemu Mbak Ara, Kak. Tolong minggir,"
"Keadaan kamu belum pulih, Sal."
"Salsa nggak peduli, rasa sakit di tubuhku masih bisa di tolerir. Sedangkan hati Mbak Ara sudah hancur," kata Salsa sembari menepis tangan kekar berotot itu.
"Percuma,"
Salsa mengernyit bingung.
"Ara sudah pergi ke Los Angeles,"
"Tap--"
Dirga tidak akan membiarkan Salsa protes lebih lama lagi. Ia kembali menggendong gadis itu untuk di baringkannya lagi ke ranjang rawat. Salsa terpekik kaget. Tapi seluruh badannya seperti kaku tak bernyawa. Ada aliran listrik yang menyetrum seluruh tubuhnya hingga membuatnya sangat bergetar. Baru kali ini ia begitu intim dengan seorang pria. Ini semua terlalu sulit untuk di tebak. Salsa masih menyebut ini semua dengan mimpi. Tapi tetap saja ketika mengingat Dirga menikahinya hanya karena "terpaksa" membuat hatinya sakit. Seperti sebuah pisau yang menusuk hatinya lalu di remas-remas dan hancur.
"Walaupun pernikahan kita terpaksa, saya akan belajar untuk mencintai kamu, Sal. Karena saya nggak menganggap pernikahan sebuah permainan belaka. Ini sunah Rasul, kan? Dan sunah Rasul bukanlah permainan."
Entah kenapa rasa hangat menelusup masuk keseluruh badan Salsa ketika mendengar perkataan Dirga yang begitu lembut untuknya. Tapi, tetap saja tidak menghilangkan luka yang bersarang pada Ara. Gadis itu pasti tersiksa. Lalu, bagaimana Salsa bersikap? Senangkah atau sedikah?
"Kamu harus banyak istirahat, supaya cepat pulih. Dan siap-siap setelah keluar rumah sakit nanti," kata Dirga yang membuat Salsa mengernyit bingung. Gadis itu belum sama sekali melakukan eye contact dengan Dirga.
"Saya boleh minta satu permintaan, padamu?" tanya Dirga tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa?"
"Berjanjilah juga untuk belajar mencintaiku, Sal. Walaupun hati saya masih ada Ara, kita akan menghapusnya bersama-sama. Saya janji, akan membahagiakanmu,"
Salsa telah melupakan rasa sakit hati yang sedari tadi bercokol di dalam hatinya karena perkataan Dirga. Tanpa sadar, Salsa mengangguk lemah dan berkata, "Iya, Kak," bahkan, Salsa sudah menyimpan rasa ini selama tujuh tahun, Kak. Salsa sudah mencintai Kakak....tentu saja kalimat ini di teruskannya di dalam hati.
Dirga tersenyum. Salsa sampai terpekik karena senyuman mendadak Dirga yang begitu manis. Selama ini, ia tidak pernah melihat senyum itu. Wajah Dirga selalu menampakkan raut otoriter.
"Sekarang makan ini dulu, ya. Kamu belum makan, kan? Saya suapin, mau?"
Jantung Salsa berdetak lebih kencang. Semoga jantungnya tidak keluar. Perkataan Dirga membuat Salsa gelagapan.
Salsa menggeleng, " Salsa makan sendiri," seketika suasana mendadak menjadi canggung.
"Dua permintaan, boleh?" tanya Dirga tiba-tiba yang membuat kunyahan roti di mulut Salsa mendadak berhenti.
"Jangan pernah berpikir jika saya akan ninggalin kamu. Sekali kamu masuk dalam lingkar hidup saya, selamanya kamu akan tetap di sana dan tidak bisa keluar," kata Dirga sembari membuka tutup botol susu putih yang ia beli di minimarker dekat rumah sakit lalu di serahkan pada Salsa.
Ia dapat melihat kekehan Dirga di sebelah kursi samping ranjangnya. Pipi Salsa sudah memerah karena malu. Dapat keberanian dari mana tadi dirinya?
"Pipi kamu merah, Sal."
Masya Allah, gergaji mesin mana sih? Buat gorok leher aku. Meleleh hati aing, Ya Allah....
Dirga mengulurkan tangan kekarnya menuju pipi Salsa yang memerah. Tapi malah mengambang di depan wajah Salsa. Dan tadaaaaaa!
Mata bertemu dengan mata. Ini adalah pandangan pertama mereka dari Allah Swt. Subhanallah, begitu indahnya momen seperti ini. Dirga tertegun menatap manik mata Salsa yang sendu. Ini pertama kalinya Dirga menatap manik mata perempuan. Apalagi perempuan di depannya ini sudah sah menjadi istrinya.
"Boleh?" tanya Dirga ragu.
"Jangan, Kak."
__ADS_1
"Kenapa?" Dirga tampak kecewa dan menurunkan tangannya.
Salsa menunduk dengan wajah merah seperti tomat.
"Salsa malu..." cicitnya pelan. Dirga semringah dan terkekeh geli melihat wajah Salsa yang semakin memerah pipinya. Tanpa bisa di tahan, ia memegang kedua pipi Salsa dan di bawanya menghadap wajahnya. Mata bertemu dengan mata kembali. Dirga tersenyum. Ia menantikan momen seperti ini untuk bisa menyentuh wajah Ara setelah sudah menjadi mahram. Tapi Allah telah menakdirkan semua ini. Ia hanya boleh menyentuh wajah Salsa, bukan Ara yang notabene gadis di sayanginya.
Walaupun di hatinya masih bercokol nama Ara, ia akan berusaha belajar mencintai Salsa. Karena Salsa istri sahnya. Demi apapun, Dirga sebenarnya tidak mau menikahi Salsa. Ia takut menyakiti gadis itu. Pernikahan terpaksa. Apalagi ini permintaan Ara. Ara akan bunuh diri jika ia tidak menikahi Salsa. Saat itu Dirga begitu bingung. Ia mencintai Ara, tapi di paksa menikah dengan Salsa. Posisi terumit yang pernah Dirga alami. Sampai ia memutuskan mrnceritakan keluh kesahnya pada Allah Swt. Tentu saja, ia salat istikharah. Setelah salat istikharah, secercah wajah Salsa muncul. Pikir Dirga itu adalah jawaban dari sang Maha Kuasa. Dan inilah jalan yang membawanya untuk menikahi Salsa.
Sumpah demi Allah, ia akan berusaha mencintai istrinya saat ini. Dan tentu saja berusaha melepas Ara. Karena sudah menjadi tugasnya saat ini, membahagiakan istrinya. Ia tak pernah menganggap pernikahan adalah sebuah permainan. Ia hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidup.
Dirga bangkit dari duduknya dan mendekat keranjang Salsa. Justru membuat gadis itu kelimpungan sendiri di atas ranjangnya.
"Ka-kak, mau, ngapain?" tanya Salsa gugup setengah mati. Salsa berani bersumpah, jika ia sudah seperti orang yang habis berlari sejauh 50 kilometer. Mungkin jantungnya sudah ikut berlari di sampingnya.
Dirga memeluk Salsa erat. Gadis itu tampak terkejut bukan main. Ritme jantungnya berpacu lebih cepat.
Ini udah nggak haramkan, pelukan sama suami sendiri? Seseorang tolong katakan jika kami sudah mahram....
Salsa masih terdiam tidak membalas pelukan Dirga. Ini pertama kalinya ia di peluk begitu erat oleh seorang pria selain ayahnya. Tapi, ini yang memeluknya adalah suaminya sendiri. Cinta pertamanya! Cinta yang ditunggu-tunggu selama tujuh tahun! Ia senang sekali bisa menjadi seorang istri Dirga. Tapi bukan seperti ini caranya untuk mendapatkan Dirga.
"Welcome to my hearth, my princess," bisiknya di telinga Salsa yang terlindung hijab berwarna purple.
Salsa beristighfar dalam hati. Tubuhnya lemas mendengar Dirga memanggilnya dengan sebutan princess.
Dirga masih memeluknya erat dan menggumamkan beberapa lantunan ayat suci Al-quran tepat di telinga Salsa. Membuat rasa gugup Salsa perlahan memudar. Dirga mencium dahi Salsa sebentar, lalu mengusap puncak kepala Salsa lembut.
Jika Dirga keluar saat ini, Salsa berani bersumpah jika air matanya ini akan berdesakan keluar. Bukan tangisan sakit hati, tapi sebuah tangisan keharuan.
Semua wanita pasti memimpikan calon imam yang baik untukknya. Kelak nanti akan menuntun dirinya sampai jannah-Nya. Harapan sederhana tapi indah.
Ya Allah, hati Salsa meleleh ini...hehe
__ADS_1