
Katanya benar jika waktu bisa merubah perasaan seseorang. Katanya waktu bisa merubah segalanya. Tapi memang benar adanya begitu yang di rasakan oleh seorang Angkasa Dirgantara. Baginya, waktu adalah sebuah proses. Hingga waktunya tiba, waktu akan menjawab semua kegundahan yang ada di dalam hati kita.
Dirga menghela napasnya pelan. Ia menatap beberapa objek yang ada di sekitarnya. Hari ini, langit begitu cerah tanpa awan mendung yang menghiasi. Dirga bersyukur dalam hatinya. Ia mengamati alam disekitarnya lagi. Ia melihat burung-burung yang berterbangan di atas langit dengan lincahnya. Seolah-olah, burung itu memang sangat senang dengan cuaca hari ini yang begitu cerah.
Dirga menghirup udara yang belum tercemar polusi udara itu dengan sebanyak-banyaknya. Menikmati setiap hembusan napas yang keluar dari hidungnya yang mancung. Di sini, begitu tenang. Jauh dari keramaian seperti suara mesin pabrik atau suara kendaraan bermotor.
Dirga beralih menatap langit yang biru lagi. Di dunia ini ada banyak objek apapun yang berkaitan. Seolah-olah, Allah telah mengatur alam semesta nya dengan prosedur yang sangat sempurna. Bahkan kata sempurna saja tidak cukup untuk mendefinisikan semuanya.
Di dunia ini ada penyakit dan ada dokter yang menyembuhkan penyakit itu dengan seizin Allah swt. Di dunia ini ada udara untuk makhluk hidup bernapas. Dan banyak lagi objek lainnya yang saling berkaitan. Bahkan di dunia ini ada banyak skandal maupun alibi yang di ciptakan oleh manusia. Manusia yang mempunyai akal sehat.
Entahlah!
Menurut Dirga, kita hidup di dunia ini sebenarnya apa yang, dicari?
Apa kita hanya mencari seorang pasangan dan menikah dengan ending yang, bahagia? Atau kita hanya mencari popularitas saja, di dunia? Apa tujuan sebenarnya kita hidup di dunia, ini? Mengapa kita di ciptakan lalu kembali lagi ke Maha Pencipta?
Ada banyak pikiran yang berkecamuk di pikiran Dirga. Namun, ia hanya mempunyai tujuan hidup yang ia pegang selama ia berubah menjadi orang baik.
Orang baik?
Yapss! Sebelumnya, Dirga adalah seorang berandal yang nggak tau untung! Namun, seiring berjalannya waktu, waktu telah menyembuhkan Dirga dari sikap buruknya. Sebelum mengenal betapa nikmatnya rasa syukur yang Allah berikan padanya, Dirga adalah seseorang yang tidak pernah bersyukur dalam hidup. Ia tidak pernah memedulikan jika di luaran sana, ada banyak saudara-saudaranya yang memiliki kekurangan fisik yang selalu bersyukur dalam hidupnya. Sedangkan, dia yang di beri fisik yang lengkap malah suka mengeluh.
Waktu terus membantu Dirga untuk menjawab semua yang berkecamuk di otaknya.
Setelah itu, ia menjadi tahu, bahwa hidup di dunia ini menjadi manusia yang baik. Menjadi orang baik tidak semudah yang di pikirkan. Ada banyak hasutan-hasutan setan yang mengelilingi kita. Menjadi hamba Allah yang patuh. Memang tidak lah mudah. Manusia terlalu banyak kalah oleh kemunafikan yang di ciptakan manusia sendiri.
Dirga hanya perlu berjalan di garis yang Allah tentukan untuknya. Walaupun ia tidak bisa menjadi orang baik, setidaknya ia bermanfaat bagi orang lain.
"Kapten angkasa?" Tiba-tiba seorang dari belakang memanggil namanya.
"Saya boleh duduk, disini?" Kata seseorang yang mengenakan baju seragam seperti Dirga.
Dirga melempar orang itu menggunakan ranting kering sembari tertawa.
"Sok banget sih lo, Ga!" Serunya setelah tertawa. Orang itu adalah Angga. Temannya sendiri.
Kemudian Angga tertawa.
"Doi pulang, ya? Kasian di tinggal bini," kata Angga sembari ikut menyeruput kopi Dirga. Dirga biasa saja. Karena hal seperti ini memang sudah biasa di lakukan Angga.
Memang benar jika Salsa pulang hari ini. Setelah mengantarkan Salsa ke bandara pagi tadi, Dirga langsung menuju ke tempat ini. Ada rasa yang hampa ketika melihat Salsa pulang lebih dulu.
"Nggak nyangka gue," celetuk Angga.
"Kenapa?"
"Lo jadi orang yang lurus sekarang," kata Angga sembari menyeruput kopi Dirga lagi.
"Lurus, gimana? Emang gue tiang bendera lurus, lempeng gitu,"
__ADS_1
"Ya enggak lah bro! Maksud gue, lo kan dulu jadi berengseknya sekolahan SMA Arwana," kata Angga sembari tertawa ketika mengingat masa-masa sekolahnya dulu. Angga memang teman Dirga sedari dulu. Namun, mereka hanya berbeda kelas saja.
"Ya nggak berengsek banget sih, dulu kan jadi berengsek sewajarnya aja," tersenyum setelah mengatakan hal itu. Ia teringat sekali ketika sekolah dulu, walaupun wajah Dirga terlihat sangar dan terkesan dingin. Sebenarnya, dulu Dirga suka membuly teman-temannya. Pergaulan bebas sudah menjadi temannya sehari-hari. Dulu prinsipnya juga ngapain hidup susah selagi hidup satu kali harus di nikmatin.
Ia teringat sekali jika dirinya sering sekali mengunci teman-temannya yang masuk ke dalam toilet untuk sekadar membuang air kecil. Ruangan BP sudah menjadi ruangan favorit Dirga ketika ia SMA. Setiap hari kalau tidak membuat onar rasanya kurang afdol hidup Dirga. Yah walaupun Dirga terkesan pendiam namun diam-diam malah biang keroknya SMA. Guru BP nya sampai hafal setiap jengkal wajah Dirga. Saking hafalnya sampai muak. Guru BP pun geleng-geleng kepala, harus bagaimana lagi menghadapi Dirga. Sudah sering kali Dirga membuat onar.
Dulu ia senang sekali membolos di warung pojok sekolah. Di situ memang tempat momoknya para pembolos berkembang biak. Walaupun cuma beli gorengan 500 rupiah namun nongkrongnya berjam-jam. Dan pemilik warung juga tidak masalah.
Dan Dirga ingat sekali jika setiap ia mengambil barang-barang di lokernya, pasti ia menemukan secarik kertas yang bertuliskan namanya dengan huruf arab. Entah siapa yang mengirimkan kertas itu. Sampai sekarang Dirga tidak mengetahuinya sama sekali. Bahkan ia pernah membuat tantangan sendiri. Jika ia menemukannya gadis itu, maka ia akan menjadikannya istri. Terlalu naif. Tapi Dirga memang seperti itu. Dan akhirnya sampai ia bertemu dengan Ara dan secara otomatis tantangannya itu terhapus otomatis.
"Sewajarnya?" Angga sembari menaikkan satu alisnya. Pasalnya ia heran dengan perkataan Dirga yang katanya nakal sewajarnya.
"Iya lah," kata Dirga sembari menyeruput kopinya yang habis. Spontan ia langsung menilik ke gelasnya yang ternyata kosong melompong. Dan menoleh pada Angga yang menyengir kuda sembari jari tangannya membentuk huruf V.
"Wah kopi gue lo habisin. Parah sih. Kopi aja di embat. Apalagi doi," kata Dirga sembari tertawa yang langsung mendapat timpukan kepalanya dari Angga.
"Enak aja lo bilang! Gue orangnya alim ya. Jangan ngadi-ngadi deh," kata Angga setelah menimpuk kepala Dirga.
"Heleh sok alim!"
"Paan sih lu! Sekarang rese' banget deh! Semenjak udah punya pasangan halal jadi banyak omong," sewot Angga sembari tertawa.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan, kopi gue lo habisin,"
"Yah lo kan udah jadi orang baik. Apa susahnya lo beli lagi. Anggep aja lo lagi amal sama gue," alibi Angga.
Dirga menghadap Angga dan menatap mata Angga. Angga malah jadi takut di tatap seperti itu.
"Lo cepetan nikah. Rasanya ahh mantap," kata Dirga lalu tertawa sembari menatap Angga. Angga yang melihat itu hanya bisa berdoa untuk kebaikan Dirga. Siapa sangka jika Dirga kerasukan setan hutan. Angga bergidik ngeri.
"Sumpah lo nyeremin banget!" Kata Angga.
"Serem, gimana?"
"Wah kayaknya lo bahagia banget karena udah nikah."
"Iya lah. Jangan kelamaan jomblo. Nggak baik buat jiwa laki lo. Memikirkan perempuan yang bukan mahram kita itu zina lho, Ga. Makanya cepet nikah," Dirga malah mengejek Angga yang langsung mendapatkan timpukan ke dua dari Angga. Hey! Yang di timpuk itu atasan Angga. Mereka sudah biasa seperti ini.
"Emang menghidupi anak orang itu segampang membalikkan telapak, tangan? Enak lo ya tinggal ngomong aja. Mentang-mentang lo udah nikah,"
"Loh gue serius."
"Gue juga dua rius,"
Apaan sih? Kenapa mereka jadi tidak jelas seperti ini? Kenapa jadi malah retceh begini? Bukankah ada tugas lebih penting daripada mereka retceh, begini?
Dirga bangkit dari duduknya, "gue mau cabut dulu," kata Dirga yang membuat Angga juga bangkit dari duduknya.
"Mau kemana elah, bang? Gitu aja ngambek," tutur Angga.
__ADS_1
"Saya nggak mau ada gosip kita berduaan di sini," kata Dirga sembari tertawa.
Angga bergidik ngeri, "sorry ya bang, saya masih waras," celetuk Angga sembari pergi meninggalkan Dirga lebih dulu.
***
Sedangkan di waktu yang beda satu jam, Salsa baru saja turun dari taksi. Setelah ia turun dari pesawat, Salsa langsung mencari taksi dan menuju rumah bundanya. Sedari turun dari pesawat tadi, Salsa bimbang dengan hatinya sendiri. Hatinya ingin sekali mengabari Dirga jika dirinya sudah sampai. Namun, otaknya menolak karena ia malu dan belum mempunyai nyali. Sampai diperjalanan pun, Salsa juga masih bimbang. Ia takut jika Dirga ilfeel padanya.
Sisi baiknya mengatakan jika Dirga tidak akan ilfeel dan malah menyukai kabar dari Salsa tersebut jika dirinya selamat sampai tujuan. Namun, sisi buruknya mengatakan sebaliknya.
Langkah Salsa menuju pintunya setelah membayar taksi tersebut.
"Assalamu'alaykum," salamnya sembari mengetuk pintu. Tak lama, ia mendapatkan sebuah balasan salam dari dalam.
"Wa'alaykumsalam, siapa ya?" Tanya suara itu dan langsung membuka pintunya, "wah mbak Salsa sudah dateng, masuk mbak," kata adik sepupunya. Adik sepupunya yang bernama Dila itu membantu Salsa membawakan kopernya masuk ke dalam.
"Gimana mbak, disana? Saya liat di berita banjirnya besar banget ya. Saya nggak tega liat yang lansia sama anak kecil-kecil. Saya nggak bisa bayangin berada di posisi mereka. Semoga mereka tetap berada di lingkaran lindungan Allah," kata Dila dengan ekspresi sedih.
Salsa tersenyum melihat Dila yang khawatir seperti itu. Berarti, tingkat kepedulian gadis itu tinggi.
"Alhamdulillah, di sana banyak bantuan. Kita doakan yang terbaik untuk banjir di Kalimantan Selatan."
"Kabar bunda gimana, dek?"
"Alhamdulillah tante baik-baik aja. Tapi tante masih nggak mau ngomong, makannya juga susah. Sudah saya hibur berbagai cara supaya tante makan, tapi tetep nggak mau," kata Dila dengan sedih.
Salsa menghembuskan napasnya panjang. Ia mengerti, bundanya pasti mengalami trauma yang berat sehingga masih membungkam mulutnya untuk sekedar mengatakan sekalimat saja.
"Mbak," panggil Dila.
"Iya, dek?"
"Mbak udah kabarin suami mbak kalau mbak sudah, sampai?" Entah kenapa Dila tepat sekali bertanya seperti itu.
Salsa mengangguk ragu.
"Kok kayak ragu gitu, mbak?"
Ya Allah, Dila!
"Mbak capek banget, mau istirahat sebentar ya. Oh iya, di tas koper ada oleh-oleh khas Kalimantan, ambil aja," kata Salsa sembari bangkit dari duduknya untuk segera menuju kamarnya.
Saya udah sampai rumah bunda.
Send!
To be continued...
FOLLOW IG AKU DUNGSSS @meigasellaap
__ADS_1
Kasih semangat akuuu ✨✨