
Salsa berjalan bolak-balik di depan meja kerjanya. Perempuan itu sedang bingung karena masalah ia akan menjadi relawan. Sekali lagi, ia mengelus perutnya dengan lembut. Malaikat kecilnya dengan Dirga sedang berada di dalam perutnya. Tiba-tiba, perempuan itu menangis karena teringat perkataan Ara yang beberapa hari yang lalu. Perkataan yang membuat Salsa sakit sekaligus perih. Entah perkataan seperti apa sehingga membuat Salsa menjadi sakit. Sebuah fakta yang benar-benar mengejutkan Salsa.
Salsa berhenti berjalan dan terduduk di lantai yang dingin. Perempuan itu menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya. Menangis adalah cara paling mudah yang di lakukan Salsa untuk saat ini. Ia menyebutkan nama Allah berulang kali. Sebenarnya, ujian seperti apa yang di terima Salsa saat ini. Perempuan itu memang sekarang berada di titik terbawah. Salsa yang biasanya tidak pernah putus asa, sekarang menjadi perempuan yang mudah putus asa. Ia memaklumi karena mungkin efek dari hormon kehamilannya. Mungkin saja! Iya, itu hanya kemungkinan yang Salsa duga.
Dengan menangis, mungkin hati Salsa setelahnya akan menjadi tenang. Iya, itu hanya sebuah kemungkinan lagi.
Tiba-tiba ruangan Salsa terbuka dan menampilkan sesosok dokter tampan dan muda. Siapa lagi jika bukan dokter Randy. Dokter Randy terkejut melihat Salsa yang menangis di bawah. Rasa khawatirnya langsung muncul begitu saja. Apalagi melihat orang yang di sayang secara diam-diam telah menangis.
Sayang?
Yups! Dokter muda nan tampan itu telah menyukai Salsa. Karena Salsa yang lembut telah mampu menarik hatinya. Perasaan suka terhadap seseorang memanglah menjadi hal yang wajar. Namun, jika di pikirkan terus menerus akan membuat zina pikiran.
Pria itu bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin jika ia memegang Salsa yang jelas-jelas bukan muhrimnya sama sekali.
Salsa mendongak tanpa sadar dan menangis dengan keras. Perempuan itu juga menatap Randy yang berdiri cemas di depannya yang memandang Salsa dengan khawatir. Perempuan itu sudah tidak memperdulikan Randy yang ada di ruangan itu.
Tangisan Salsa semakin keras hingga membuat Randy takut. Takut jika orang-orang yang berada di luar mengira jika dokter Randy telah membuat Salsa menangis.
"Dokter Salsa kenapa?" Tanyanya dengan khawatir di tambah kebingungannya. Ia bingung karena tangisan Salsa semakin keras.
"Saya bingung dokter Randy," kata Salsa dengan menangis keras. Nada itu terdengar serak.
"Bingung kenapa? Jangan menangis ya. Nanti di kira saya menganiaya kamu," kata Randy sembari berjongkok di depan Kejora namun tetap saja menjaga jaraknya.
Salsa semakin menangis setelah Randy mengatakan hal seperti itu. Entah kenapa Salsa menjadi seperti ini. Biasanya Salsa yang kalem, dan sekarang menjadi Salsa yang--ekhemm-- bagaimana ya? Sulit di jelaskan. Salsa yakin jika itu karena hormon kehamilannya.
Randy semakin frustasi karena tangis Salsa semakin keras.
__ADS_1
***
Mata Salsa sekarang menjadi membengkak akibat menangis lama di ruangan kerjanya. Di tambah lagi hal yang memalukan. Dokter Randy ada di ruangannya. Membuat Salsa ingin menghilang saja ke laut.
Sekarang perempuan itu sedang mengelap ingusnya yang terus keluar. Tiba-tiba, ia ingin menangis lagi. Dan pada akhirnya, turunlah air mata Salsa membahasi pipinya. Matanya yang bengkak, sekarang bertambah bengkak.
Suara tangis Salsa mampu menarik perhatian bundanya yang kebetulan lewat di depan kamar Salsa. Bundanya yang sekarang di nyatakan sehat, sudah tidak memakai kursi roda lagi. Dengan rasa khawatir, beliau masuk ke dalam kamar Salsa dan langsung mendekap anak perempuan satu-satunya sembari bertanya kenapa Salsa menangis.
"Kamu kenapa, Sal?"
Salsa menggeleng dan terus menangis. Sembari memeluk bundanya dengan erat, Salsa semakin keras menangis.
Tentu saja seorang ibu pasti akan sangat khawatir jika anaknya menangis.
"Inget Allah, Sal!" Kata bundanya yang di angguki oleh Salsa.
Salsa menggeleng untuk menanggapi bundanya. Hari ini Salsa ingin menangis terus menerus. Yang pertama karena ia frustasi karena Dirga yang sekarang ia tidak mengetahui posisinya. Yang kedua karena ia menangis keras di hadapan dokter Randy. Dan yang ketiga, ...
Entahlah! Untuk yang ketika Salsa tidak mengakuinya karena terlalu sakit.
"Salsa ya Allah! Kamu kenapa, sih?" Kini sekarang rasa khawatir yang ada pada bundanya sudah menghilang di gantikan dengan rasa yang sedikit geregetan karena Salsa.
"Bunda mau nanya,"
Salsa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kamu di pilih jadi relawan, lagi? Kamu yakin?" tiba-tiba bundanya bertanya seperti itu. Yang membuat Salsa malah menangis bertambah keras hingga telinga bundanya menjadi sakit karena Salsa.
__ADS_1
"Astaghfirullah!" kata bundanya sembari mengelus dada beliau dengan sabar.
"Bundaaaaaa," Salsa merengek seperti anak kecil yang tidak di belikan balon oleh ibunya.
"Salsa kangen," kata Salsa sembari menangis.
"Kangen siapa? Dirga?" kata Bundanya memastikan. Hal itu membuat Salsa mengangguk mantap. Yaps! Yang ketiga adalah Salsa merindukan pria itu. Namun, ia tidak mau mengakuinya karena terlalu sakit. Tapi karena hati itu tidak bisa berbohong. Salsa harus mengakuinya.
Bundanya menabok kepalanya sendiri.
"Dedek kangen ayah, kan?" Kata Salsa menangis sembari mengusap perutnya dengan sayang.
"Ya kan dek? Dedek kangen sama, ayah kan?"
Hal itu membuat bundanya terkikik geli karena tingkah Salsa yang lucu. Padahal, Salsa adalah orang yang kalem dan tipikal orang yang tidak menangis di depan orang. Tapi sekarang?
"Ya udah lah, bunda keluar dulu,"
"Bunda, Salsa kangen kak Angkasaaaaa!"
"Terus bunda harus gimana, Sal?"
Tangis Salsa semakin keras. Sembari menggeleng, ia mengelap ingusnya yang keluar semakin turun.
To be continued
Hay guyss. Aku udah nemuin sedikit alur ceritanya buat cerita selanjutnya. Masih di jalur genre islami kok. Hehe. Kalo ada saran dari kalian nggak papa kok.
__ADS_1
Oh iya. Untuk casual cerita cowok yang cocok siapa ya kira-kira? Rekomendasi cowok yang cocok buat casualnya dong. Yang cool gitu yaaa. Makasih banyak.