
Dirga berulang kali merapalkan doa untuk Salsa. Ia melepas hijab Salsa dengan lembut. Ia sudah yakin jika dirinya sudah mencintai Salsa.
Dirga menurunkan Salsa di atas ranjang dengan lembut. Di dalam hatinya, ia berulang kali merapalkan doa untuk Salsa sebelum menyentuh penuh Salsa.
Mengikuti sunah Rasulullah untuk mendapatkan keturunan. Mereka akan menuju tempat dimana surga duniawi sesungguhnya berada. Dengan hal yang paling Allah halalkan setelah menikah.
Dirga memulainya dengan mengecup puncak kepala Salsa dengan sayang. Ia juga membisikkan beberapa kalimat yang membuat hati Salsa begitu nyaman dengan Dirga.
Dan sore itu, mereka melupakan perutnya yang sama-sama lapar dan melupakan mandinya. Hihi. Dan akan menjadi sore yang panjang bagi mereka berdua. Mungkin bisa jadi menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua.
***
Salsa membuka matanya dengan perlahan. Ia berusaha mengumpulkan nyawanya. Salsa menggeliat di atas ranjang kamar tidurnya dengan bergelung selimut yang lembut di badannya. Ia mengaduh kesakitan ketika menggeliat. Rasa nyeri berasal dari bagian tubuh bawahnya.
Salsa langsung melebarkan matanya setelah mengingat kejadian semalam.
Ia sudah sepenuhnya milik Dirga mulai sekarang. Dirga melakukannya!
Salsa menutupi dirinya dengan selimutnya yang tebal karena malu setengah mati. Bagaimana mungkin ia bisa terbawa dalam situasi seperti kemarin. Bukannya Salsa menolak, ia hanya malu sekali jika bertatap muka langsung dengan suaminya sendiri. Apalagi ini pertama kali untuk Salsa. Jangan di tanyakan bagaimana suasana hati Salsa saat ini. Perasaannya membuncah senang bercampur dengan rasa malu setengah mati.
Salsa mengintip dari balik selimut tebalnya. Sepi. Batinnya. Mungkin Dirga sudah berangkat dinas. Salsa mengambil ponselnya yang berada di atas nakas sebelah ranjangnya. Ia melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 11 pagi. Salsa langsung bangkit dari tidurnya sembari memegangi selimutnya agar tidak melorot. Salsa kesiangan! Bagaimana ia bekerja. Salsa segera bangkit dari ranjangnya. Namun, gadis itu mengendap-endap supaya tidak ketahuan Dirga. Siapa tau jika pria itu masih di sekitaran kamarnya.
Setelah sampai di dalam kamar mandi, ia merasa sangat lega.
Akhh!
Salsa memekik kesakitan akibat rasa nyeri itu.
"Aduh sakit banget ya Allah. Kenapa jadi sesakit ini!" Rengeknya pada diri sendiri sembari berhati-hati supaya tidak menimbulkan rasa sakit. Ia melihat dirinya sendiri di depan cermin. Berantakan sekali dirinya!
Ia langsung menyelesaikan mandinya dengan cepat. Ketika memakai baju dinasnya, Salsa sempat berpikir. Jika ia berangkat kerja dalam kondisi seperti ini bagaimana? Apa nggak tambah di hujat? Salsa bingung dengan pikirannya sendiri.
"Loh mau kemana?" Suara bariton itu mengagetkan Salsa lagi dan LAGI.
Salsa segera menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia malu melihat Dirga. Ternyata benar, jika Dirga masih di sekitaran kamarnya.
Kenapa nggak berangkat kerja aja, sih? Salsa terus saja membatin seperti itu.
"Kamu mau berangkat kerja di hari weekend begini ,Sal?"
__ADS_1
Salsa ingin sekali menabok kepalanya sendiri. Kenapa ia tidak memikirkannya. Padahal ia tadi sudah melihat di ponselnya jika hari ini adalah hari Sabtu.
"Kak Dirga pergi dong! Salsa malu liat mukanya kak Dirga!" Kata Salsa sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Keringat dingin mulai keluaran dari tubuhnya.
"Kamu malu? Kenapa malu. Lagian saya ju--"
"KAK DIRGAAAAA!" teriak Salsa karena Dirga akan membicarakan suatu hal yang vulgar. Dan Salsa tidak mau mendengarnya. Ia malah mendengar suara tawa dari Dirga.
"Kak Dirga nggak punya perasaan!" Kata Salsa lagi dengan masih menutupi wajahnya.
"Loh kenapa?"
"Badan Salsa jadi sakit semua!"
"Loh bukannya kamu yang lebih semangat ya Sal tadi malem. Sampai kamu cakar-cakar punggung saya," kata Dirga sembari menyingkap kaos belakangnya untuk menunjukkan ada bekas cakaran kuku yang memanjang ke bawah di punggung Dirga. Bekas cakaran itu memerah. Salsa melihatnya di balik celah-celah jarinya yang sedikit terbuka. Bertambah malu lah dia pada Dirga.
"Kamu yang kayak harimau, Aumm," kata Dirga sembari mendekat dan kebetulan Salsa ingin menaboj Dirga dan KENA KAU!
"sakit Sal," ringis Dirga sembari mengelus lengannya.
"Pokoknya kak Dirga yang salah!"
"Maaf dan terima kasih ya, Sal."
Kata itu di ucapkan Dirga dengan tulus. Salsa juga bisa melihat jika ucapan itu tulus.
"Saya udah bikinin kamu sarapan. Ayo kita sarapan setelah kita bekerja keras tadi malam," kata Dirga sembari tersenyum jahil. Salsa langsung mencubit pinggang Dirga dan pria itu tertawa. Ia segera menggandeng Salsa menuju meja makan untuk mengisi tenaganya. Haha!
Dirga menyuguhkan sepiring nasi goreng untuk Salsa dan seporsi untuk dirinya.
"Makan yang banyak biar kuat,"
Salsa sedikit membanting sendoknya, "kak bisa diem nggak sih! Lama-lama, kakak yang Salsa panggang sendiri,"
"Kalo kamu manggang saya ntar nyesel lo!"
"Nggak lah! Ngapain nyesel," kata Salsa setelah itu memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya yang mungil. Dirga tertawa melihat kekesalan Salsa. Padahal, Salsa tadi malam yang paling semangat. Haha!
"Laper ya, Neng?"
__ADS_1
"Nggak!"
"Selowww dong sayang. Ntar keselek lho,”
Makin bertambah blushing Salsa ketika Dirga memanggilnya dengan sebutan Sayang. Salsa segera memakan nasi gorengnya dengan cepat tanpa memedulikan Dirga yang berusaha menggodanya terus-terusan.
Setelah nasi gorengnya habis, Salsa meminum dengan banyak. Entah kenapa Salsa jadi makan banyak seperti ini.
Salsa kaget melihat Dirga bersendawa sekeras itu. Ia pikir jika seorang Dirga akan menjaga imagenya di depan orang, walaupun orang itu adalah Salsa, istrinya sendiri. Ternyata, Dirga yang sok berwibawa bisa bersendawa sekeras itu di depan istrinya.
"Itu bekas luka, apa?" Tiba-tiba Dirga menanyakan hal yang tidak Salsa mengerti.
"Bekas luka?" Cicitnya, "dimana, kak?"
"Di lehermu,"
"Oh bukannya bekas luka merah ini made in kak Dirga ya. Kok masih nanya?!" Kata Salsa sewot.
Dirga bangkit dari kursinya dan duduk di samping Salsa. Tanpa aba-aba lagi, ia membuka hijab Salsa dengan lembut. Spontan saja, Salsa langsung menutupi lehernya karena ia malu banyak bercak merah di lehernya.
Dirga mengambil tangan Salsa yang berusaha menutupi lehernya. Tentu saja Salsa kalah dengan Dirga.
"Ini bekas luka apa?" Kalimat Dirga ini menggunakan nada yang serius dan tatapan yang mengintimidasi Salsa hingga Salsa sedikit ketakutan.
Dirga melihat bekas luka merah yang melingkar di leher Salsa. Sebenarnya, ia melihat bekas luka ini tad malam. Namun, Dirga belum membahasnya. Dirga yakin jika itu bekas cekikan seseorang. Namun, siapa yang mencekik istrinya?
"Kamu mau ngaku sama saya, apa saya cari informasi sendiri?"
Mudah baginya mencari informasi kenapa ada bekas cekikan di leher istrinya ini.
Salsa ketakutan setengah mati.
Ia bingung harus berbuat apa. Apa ia harus mengaku pada, Dirga?
To be continued...
YANG MAU GABUNG GC CERITA INI BISA CHAT AKU DI INSTAGRAM YAA. ATAU WA AKU.
SEMANGATNYA DONG
__ADS_1