
"LEPASIN!" sentak Dirga pada Ara yang sekarang sedang mengancamnya dengan menodongkan pisau pada leher Salsa. Gigi Dirga sudah gemerletuk sembari menatap tajam Ara. Dulu tatapan yang dimiliki Dirga untuk Ara adalah tatapan lembut dan penuh kasih sayang. Namun, sekarang sudah berbeda. Kini tatapan yang dimiliki Dirga untuk Ara adalah tatapan tajamnya. Tidak menyangka jika perbuatan Ara sekejam ini.
Dirga cukup mengerti jika Ara dari awal telah membohonginya. Ia juga mengerti siapa yang menghamili Ara, seseorang yang pernah di sayang oleh Dirga. Cukup sakit hati Dirga setelah mengetahui hal itu. Bagaimana mungkin seseorang yang di sayanginya telah mengkhianati dirinya. Mungkin ini tidak ia saja yang mengalami kenaikan seperti ini.
"Nggak!" sergah Ara dengan cepat sembari terus mendekatkan pisau tajamnya ke arah leher Salsa. Salsa juga sudah merasakan betapa dinginnya pisau tersebut. Ia hanya mampu menangis. Bagaimana nasib kandungan yang ada di dalam, perutnya?
Salsa tidak bisa membayangkan. Ara terlalu kejam padanya.
Ketika Ara melihat Dirga mulai maju, ia langsung berteriak, "KALAU KAMU MAJU. AKU BAKALAN BUNUH SALSA DAN JUGA JANINNYA!" teriak Ara kesetanan.
"KENAPA?! KENAPA TAKDIR BEGITU KEJAM BUAT AKU? KAMU NGGAK PERNAH TAU KALAU AKU LEBIH SAYANG KE KAMU DARIPADA PEREMPUAN SIALAN INI! AKU YANG LEBIH MEMAHAMI KAMU, GA! AKU YANG LEBIH MENGERTI KAMU. NGGAK BISA KAH KAMU LIHAT AKU?!" Ara berteriak sembari menangis. Perempuan itu cukup frustasi saat ini.
Dirga mengepalkan kedua tangannya dengan erat sembari menatap tajam Ara. Perempuan yang sedang hamil besar itu telah mengancamnya dan membuka luka masa lalu. Alih-alih Dirga ingin menanggapi Ara, ia malah berfokus untuk menyelamatkan Salsa.
Suasana kembali mencekam. Dirga terkejut dan khawatir ketika mendengar ringisan Salsa karena Ara sudah mulai melukai leher Salsa dengan pisau kecil yang cukup tajamnya. Tidak terlalu dalam memang, namun membuat Salsa kesakitan.
Namun, karena Dirga sudah terbiasa dengan gerakan yang cukup cekatan, ia langsung merebut pisau kecil itu dari Ara. Karena ia sering sekali menghadapi seseorang yang mengancam dengan menodongkan pisau pada leher. Di dunia militernya, ia cukup mahir melakukannya.
Ia langsung menarik Salsa untuk masuk ke dalam pelukannya. Membiarkan perempuan itu untuk mencari kenyamanan di dada bidang Dirga. Salsa menangis cukup sedalam-dalamnya karena Dirga, ia merasa aman berada dalam pelukan lelaki itu. Lalu dengan cekatan pula, ia langsung menodongkan pistol pada Ara dengan tangan lainnya masih memeluk Salsa dengan erat. Dirga berusaha memberikan kenyamanan untuk Salsa.
__ADS_1
"Kamu seharusnya sadar diri. Siapa kamu, sekarang? Kamu bukan Ara yang aku kenal dulu," Perkataan Dirga itu cukup untuk menusuk Ara saat ini. Ara menangis sembari terus menatap Dirga. Sampai saat ini, Ara masih mencintai laki-laki itu. Ia tidak pernah menyangka jika Dirga akan berubah menjadi manusia yang dingin untuknya demi seorang wanita yang sudah Dirga cintai. Ara menatap tajam Salsa yang saat ini sedang memeluk Dirga dengan erat sembari menangis.
"Kamu sendiri yang mengikhlaskan saya dengan Salsa. Dan sekarang, saya mencintai perempuan ini," katanya sembari tangannya mengelus puncak kepala Salsa dengan sayang.
"INI SEMUA NGGAK ADIL!" teriak Ara menggema di ruangan itu.
Namun, Dirga sudah tidak ingin mendengar perkataan Ara. Dengan segera, ia langsung membawa Salsa keluar dengan menggendongnya ala bridal style. Karena ia cukup mengerti, jika perempuannya sedang lemas.
Sisanya, telah di urus oleh Angga dan dan prajurit lainnya. Sebenarnya, Dirga datang kesini hanya sendirian saja. Namun, Angga telah mengerti hal ini, dan langsung menyusul Dirga.
*****†
Dirga mencium puncak kepala Salsa dengan sayang sembari mengelus rambut Salsa dengan lembut. Berusaha untuk menghilangkan rasa ketakutan pada diri Salsa.
"Kamu udah aman sekarang," kata Dirga menenangkan. Membuat Salsa langsung menarik leher Dirga untuk mendekat. Lalu, Salsa menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Dirga. Guna untuk mencari kenyamanan pada laki-laki itu.
Salsa masih menangis.
"Udah, kamu aman. Jangan nangis, Sal. Mau aku kasih, permen?" tanya Dirga untuk mengusir ketakutan Salsa.
__ADS_1
"Salsa takut," katanya dengan menangis sesenggukan di ceruk leher Dirga.
"Tapi sekarang kamu sudah aman, Sayang," kata Dirga sembari mengelus puncak kepala Salsa dengan sayang. Lalu, sesekali mencium keningnya.
Tangan Dirga yang lainnya bergerak bebas untuk menyentuh perut Salsa dengan lembut. Dirga tidak menyangka jika di dalam perut Salsa ada malaikat kecilnya. Dirga sempat terkejut bercampur bahagia ketika Ara tadi mengucapkan janin Salsa. Namun, Salsa belum mengabarinya jika dirinya hamil. Hal itu membuat Dirga menjadi khawatir.
"Terima kasih sudah menjaga dia," kata Dirga dengan lembut. Dirga masih mengelus perut Salsa dengan sayang.
Salsa semakin menangis karena Dirga berkata seperti itu. Salsa juga takut jika kehilangan janinnya. Walaupun belum membentuk bayi, Salsa sudah menyayanginya.
"Aku takut dia kenapa-kenapa," katanya sembari menangis. Dadanya sesak ketika ia teringat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Udah. Aku janji, kejadian seperti itu tidak akan terulang kembali," kata Dirga lembut sembari mengusap air mata Salsa yang terus jatuh.
"Aku jamin hal itu,"
To be continued.
Hay aku update lagi yaa. Ayooo, aku pengen kalian share cerita ini ke teman-teman kalian. Biar makin semangat aku nulisnya.
__ADS_1
Jangan lupa jaga kesehatan yaaa 😍🥰🥰