
Dirga mengenakan pakaian serba hitamnya lengkap dengan topi hitamnya. Ia memasukkan sebuah pisau kecil dan pistol dalam baju hitamnya.
"Lo yakin?" Kata Angga pada Dirga yang sudah siap.
Dirga menganggukkan kepalanya dengan mantap. Karena tekadnya sudah kuat, Dirga akan segera pergi.
"Gue yakin karena selalu ada Allah di hati gue," katanya dengan mantap.
Angga menepuk bahu Dirga dengan bangga, "gue selalu yakin sama sahabat gue sendiri,"
Dirga tersenyum. Setelahnya, ia langsung pergi meninggalkan Angga yang masih menatapnya.
Dirga memasuki mobilnya dan meninggalkan pekarangan rumah usang tersebut. Jalanan terlihat sepi, tidak ada satu pun kendaraan yang memasuki daerah sini. Daerah yang penuh dengan pohon-pohon besar. Cukup mengerikan jika malam seperti ini. Tadi, sebelumnya ia sudah meminta izin istrinya untuk menyelesaikan dinas malamnya. Padahal ia sedang tidak ada jadwal kerja lembur dinas.
Dirga mempercepat gas mobilnya. Lokasinya lumayan jauh. Tak jauh berbeda dari tempatnya tadi, lokasi yang di tuju oleh Dirga juga seperti hutan.
Sebenarnya, Dirga melakukan hal ini tidak di ketahui oleh siapapun kecuali sahabatnya, Angga.
Hingga setengah jam berlalu, Dirga sudah sampai ketujuannya. Namun, ia berhenti di jarak terjauh dari lokasi yang ia tuju. Dirga melihat jika di kanan kiri jalan sepi ini di tumbuhi pohon-pohon besar yang lebat.
Dirga juga mendengar suara serigala yang mengerikan di malam hari seperti ini. Namun, dalam situasi-situasi yang mencekam seperti ini, Dirga sudah bersahabat dengan situasi seperti ini. Bahkan, ia sering kali seperti ini. Ketika ia masih di tugaskan di perbatasan-perbatasan Indonesia.
Dirga turun dari mobilnya. Beruntung, karena mobilnya berwarna hitam jadi tersamarkan oleh kegelapan malam. Sebelumnya, mobilnya berwarna putih. Salsa juga sempat menanyakan, kenapa mobilnya di cat hitam. Namun Dirga saat itu tidak menjawab banyak.
Ia berjalan dengan perlahan dan hati-hati supaya ia tidak menginjak ranting yang kering. Sebelumnya, Dirga membaca situasi di sekitarnya agar ia tidak ceroboh.
Sebenarnya, ia sering sekali melakukan tugas seperti ini hingga ia cukup mahir dalam mengendalikan situasi. Memang ia di latih untuk cekatan tanpa harus mengambil keputusan tercepat dan merugikan diri sendiri. Dirga selalu menghindar pemikiran pendek tanpa harus memikirkan endingnya seperti apa. Sebenarnya, seseorang seperti Dirga penuh pertimbangan dalam melakukan hal apapun.
Dirga berjalan menjauhi mobilnya dengan pelan-pelan. Karena ia tahu pasti, jika tempat seperti ini akan banyak penjaganya. Dirga mulai dekat dengan objeknya. Sebuah rumah besar yang usang adalah incarannya. Bukan! Lebih tepatnya, manusia yang ada di dalam rumah itu yang akan menjadi sasarannya.
Siapa sebenarnya incaran, Dirga?
Dirga mengisi pistolnya dengan peluru sebelum bergerak maju.
Ia melihat ada seorang penjaga dan dengan cepat, Dirga membuat penjaga itu pingsan seketika. Ketika ia bersekolah militer, ia juga di ajari dimana titik kelemahan manusia untuk membuatnya tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Ia langsung segera masuk pintu gerbang itu yang telah usang sekali. Ia segera merapat pada jendela samping untuk mencari celah dimana ia bisa memasuki rumah besar usang ini.
Dirga melihat lagi jika ada 2 penjaga lagi yang berkeliaran di pelantaran depan rumah itu. Layaknya sebuah bermain game, Dirga harus memenangkan game ini. Suasana cukup mencekam. Namun, situasi seperti ini Dirga juga sering sekali mengalaminya.
Dirga mengawasi sekitarnya.
Otaknya berpikir keras untuk menemukan ide.
Matanya yang jeli melihat ke arah dinding di sebelahnya. Dengan cekatan ia segera menaiki celah yang berlubang untuk menuju ke lantai atas. Beruntung ia menemuka sebuah tali tambang yang besar. Mudah baginya untuk naik ke atas. Namun, dengan tetap hati-hati, Dirga terus memanjat dengan pasti.
Hingga ia sampai di teras sebuah kamar. Sepertinya, Dirga tepat sasaran.
Di dalam kamar tersebut, berdiri seorang pria dengan baju yang acak-acakan.
Dirga memasuki kamar itu dan membuat empunya terkejut setengah mati.
"Hai," sapa Dirga.
"Bangsat! Siapa lo?!" Tanya seseorang itu dengan marah.
"Manusia," kata Dirga dengan santai di selingi senyuman devilnya.
Orang itu bernama Rio.
Siapa lagi jika bukan mantan pacar Rena.
Rupanya, Dirga berkunjung kesini hanya untuk sekedar menyapa Rio saja.
Rio sudah mengeluarkan pisau kecilnya yang di tujuan pada Dirga. Dirga hanya tersenyum kecut melihatnya.
"Gue denger, lo bandar narkoba terbesar, ya?" Tanya Dirga dengan santai. Tidak ada rasa takut sedikitpun pada diri pria itu. Malah terlihat sangat santai.
Memang benar apa yang di katakan oleh Dirga jika Rio ini adalah bandar narkoba terbesar. Dirga diam-diam mencari informasi tentang pria psikopat gila itu. Setelah mendengar pengakuan dari istrinya sendiri, hatinya panas. Sebelumnya, Dirga sudah mengetahui lebih dulu jika Salsa masuk rumah sakit dengan keadaan kritis. Ia juga mengetahui penyebab Salsa kritis itu. Jangan di sangka jika Dirga jauh dan tidak mengetahui kabar Salsa. Ia mempunyai informan pribadi untuk memata-matai Salsa walaupun ia berada di luar pulau sekaligus. Karena ia yakin, banyak musuhnya yang berkeliaran di luar sana sehingga membuat Dirga harus menjaga Salsa. Namun, Dirga sengaja tidak bertanya kabar Salsa. Ia ingin tahu saja jika Salsa akan jujur padanya atau tidak. Namun, setelah di tunggu-tunggu pengakuan gadis itu tak kunjung muncul dari mulutnya. Alhasil karena Dirga sudah geram, ia menanyakannya langsung dan membuat Salsa gelagapan dengan pertanyaan tersebut.
"Bangsat!" Kata Rio maju sembari menjulurkan pisau kecil tajamnya ke arah Dirga. Namun, dengan sigap, Dirga menghindar dan menendang punggung Rio dengan keras. Rio tersungkur ke bawah sembari mengeluh. Jangan di tanyakan lagi seberapa marahnya Rio saat ini.
__ADS_1
Karena Dirga, identitasnya jadi terbongkar.
Mereka berkelahi. Sama-sama unggul.
Rio sudah mendapatkan luka di sudut bibirnya akibat tonjokan Dirga. Pisau yang di pegang Rio sudah terjatuh sedari tadi.
Dirga juga bisa mendengarkan suara dobrakan pintu dari luar yang bila mana anak buah Rio ingin membantu bosnya.
Hingga dobrakan pintu itu berhasil terbuka, dengan cekatan Rio langsung mengambil pisau kecil milik Rio dan di todongkan ke leher Rio bilamana akan menjadi ancaman untuk Rio dan anak buahnya.
"Lo gerak gue tusuk leher bos lo!" Kata Dirga dengan menatap tajam anak buah Rio. Dirga sudah tertutup oleh emosinya. Dirga marah. Bahkan sangat marah karena psikopat gila ini.
Rio berusaha meronta namun Dirga sudah mendekat ujung pisau ke lehernya. Bahkan ujung pisau sudah menyentuh leher Rio.
Rio diam tak berkutik di dekapan Dirga yang kuat.
"Beraninya ko nyiksa Salsa!"
Dirga ingat sekali. Rio adalah pacar sahabat Salsa. Ia juga sering bertemu dengan Rio sebelum sifat bejat Rio terbongkar. Pantas saja ia sering mendengarkan Salsa bercerita jika tubuh Rena banyak luka sayatan. Dari itu, kecurigaan Dirga mulai tumbuh.
Ternyata pacarnya Rena sendiri dalangnya!
Dirga sudah benar-benar geram.
Hingga suara tembakan telah memekakkan telinga.
Dirga melepaskan cengkeraman eratnya pada Rio hingga Rio bisa terbebas. Dirga meraba perutnya yang penuh dengan darah. Rasa sakit itu tiba-tiba datang.
Apa kah Dirga?
To be continued...
IKUTAN GRUP WHATSAPP YOOOKK. WA KU ADA DI BIO ******* YA.
JANGAN LUPA FOLLOW IG KU @MEIGASELLAAP BIAR MAKIN SEMANGAT UPDATE HAHA.
__ADS_1