
Open PO untuk Angkasa Dirgantara. Gimana? Udah siap belum peluk Abang Dirga nya?
Harganya 84. 000 yak. Yuk yuk peluk Abang Dirganya.
Kalian bisa langsung DM aku di Instagram @meigasellaap atau WA aku +62 857-5410-6973
***
Salsa duduk di halaman belakang rumahnya dengan di sampingnya terdapat segelas susu cokelat hangat dan juga permen cokelat kesukaan Salsa. Namun, segelas susu tersebut masih belum tersentuh oleh Salsa. Perempuan itu malah asik dengan melamunnya. Udara sore telah membuatnya begitu terasa nyaman.
"Belum di minum?" suara bariton yang membuat Salsa tetap dengan kegiatan melamunnya. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu, membuat Salsa banyak diam dan berakhir Dirga yang kewalahan menghadapi sikap Salsa yang banyak diam.
Seperti sekarang, Dirga bertanya saja, perempuan itu enggan untuk menjawab pertanyaannya.
Membuat Dirga mengacak puncak kepalanya dengan pelan, barulah perempuan itu mendongakkan kepalanya untuk menatap Dirga sembari memasang wajah ekspresi datar. Dirga berjongkok di depannya, membuat Salsa mengalihkan perhatiannya ke lain. Entah kenapa, ketika Dirga terlihat di mata Salsa, membuat Salsa ingin marah.
"Kamu kenapa diam, aja? Tenang, sekarang kamu udah aman sama aku," kata Dirga untuk meyakinkan Salsa yang masih terlihat ragu karena kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya trauma.
Salsa ingin bangkit dari tempat duduknya. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman berada di dekat Dirga. Apa ini bawaan dari efek, hamilnya?
Namun, Salsa tidak bisa pergi dari bangkunya Karen Dirga dengan cepat langsung menahan perempuan itu. Kedua tangan Dirga beralih untuk memegang bahu Salsa.
"Kamu kenapa, Sal? Semenjak beberapa hari yang lalu, kamu terus menghindariku? Ada apa sebenarnya? Apa aku membuat kesalahan yang membuat kamu jadi sefrustasi gini deket, aku?" akhirnya, Dirga berhasil menanyakan hal ini karena beberapa hari yang lalu, ia sempat menahannya. Karena jika dirinya bertanya seperti itu ketika keadaan hati Salsa tidak baik, akan membuat Salsa semakin tertekan. Jadi, Dirga memutuskan untuk menunggu suasana perempuan itu menjadi lebih tenang.
Salsa menggeleng sembari mengatakan, "Salsa juga nggak tau kenapa jadi uring-uringan kayak gini. Rasanya, Salsa mual dekat-dekat sama kakak," kata Salsa sembari menundukkan kepalanya. Tidak berani untuk sekedar menatap kedua manik mata elang milik Dirga. Dengan memainkan kuku-kuku tangannya, Salsa terus saja menundukkan kepalanya.
Dan perkataan Salsa itu mampu membuat Dirga melebarkan matanya dan mulutnya sedikit menganga karena tidak menyangka dengan jawaban yang di berikan oleh Salsa.
"Kamu mual kalau dekat sama, aku?" Dirga tidak percaya jika dirinya harus menanyakan hal itu dengan ekspresi kagetnya.
Salsa menganggukkan kepalanya tanpa dosa dan membuat Dirga semakin menatap Salsa dengan tidak percaya.
Salsa tiba-tiba mual di depan Dirga dan membuat harga diri laki-laki itu jatuh seketika.
__ADS_1
"Mual banget liat wajah kakak," kata Salsa lagi setelah memijat kepalanya yang tiba-tiba pening.
"Aku merasa terhina lho, Sal. Masa kamu mual melihat wajah suamimu sendiri. Sungguh, aku terhina banget dengan perkataan kamu," kata Dirga dengan sok puitis yang di buat-buat. Seolah-olah cukup teraniaya batinnya. Haha lebay!
"Bukan gitu maksud aku," kata Salsa karena merasa tidak enak dengan Dirga.
"Terus maksud kamu, gimana?"
"Ya nggak tau. Jangan tanya-tanya ah kak," tiba-tiba Salsa menjadi tidak jelas. Perempuan itu langsung bangkit dari duduknya namun, lagi dan LAGI, Dirga menahannya.
"Jangan pergi, biar kamu makin mual lihat aku," goda Dirga yang membuat Salsa memaksa ingin pergi.
"Kamu istri yang tega emang, Sal," kata Dirga dengan senyuman yang jahil. Dan membuat Salsa semakin mual melihat Dirga.
"Apaan sih?! Nggak jelas," rutuk Salsa kesal tiba-tiba. Mungkin karena efek hamil, sehingga membuat Salsa lebih sensitif.
"Loh,"
Kemudian, Dirga duduk di sebelah Salsa dan mengambil segelas minuman susu cokelat milik Salsa sembari berkata, "ada minuman nganggur. Eman-eman kalau nggak di habisin. Bisa mubazir," katanya sebelum menghabiskan susu cokelat tersebut hingga tandas dan hanya tersisa setetes saja. Sedangkan, Salsa sudah menatap tajam Dirga karena sudah menghabiskan minumannya.
Dirga melirik Salsa sembari meringis, "nggak di minum kan dari, tadi? Mending aku minum aja. Ketimbang mubazir," katanya dengan santai setelah mengelap mulutnya yang basah.
"Itu milik Salsa," Salsa berkata dengan masih menatap tajam Dirga.
Sedangkan Dirga malah meringis tanpa dosa sama sekali sehingga membuat Salsa ingin mencekik leher Dirga saat ini juga.
"Nanti aku buatkan lagi," kata Dirga dengan santai.
"Kakak ini tipe orang yang menggampangkan suatu hal banget, ya? Bukan masalah kakak mau membuatkan lagi atau tidak. Masalahnya terletak, karena kakak ceroboh banget ngambil punya orang. Gimana kalau tiba-tiba Salsa jadi haus seketika dan di detik itu, Salsa pengen nyeruput susu cokelat, itu? Kakak nggak pernah mikir perasaan Salsa,"
Perkataan itu membuat Dirga ingin tertawa bercampur dengan terkejut karena Salsa yang berubah 180 derajat celcius. Eh salah! Ia menatap Salsa dengan tidak percaya. Ada apa dengan perempuan, itu? Dirga hanya mampu menahan tawanya. Jika ia meledakkan tawanya saat ini juga, ia bisa memastikan jika Salsa akan mengamuk saat ini juga. Seperti memang karena efek kehamilan perempuan itu sehingga membuatnya lebih sensitif.
Sekali lagi, Dirga benar-benar menahan tawanya. Jelas-jelas dimana hubungan antara perasaan dan meminum susu cokelat milik Salsa. Hubungan itu terlihat sangat jauh sekali bagi Dirga.
__ADS_1
Dirga menarik Salsa agar mendekat dengan dirinya. Salsa sempat menolak, namun Dirga tetap memaksanya.
"Emak-emak lagi hamil emang mengerikan, ya?" Dirga malah berkata seperti itu membuat tangan Salsa yang bebas langsung menonjok perut Dirga. Namun, tidak berimbas apa-apa untuk Dirga karena pukulan Salsa seperti angin yang berlalu.
Dengan matanya yang tajam, Salsa terus menonjok perut Dirga beberapa kali. Namun, malah membuat perut Dirga menjadi geli.
"Sal, ada apa denganmu?" tanyanya begitu santai setelah Salsa menyudahi aksinya.
"Kakak jahat banget!" sergah Salsa dengan sedih.
Dirga semakin melongo.
Ya sudahlah, laki-laki memang dermaga tempatnya salah. Sekalipun laki-laki benar, tetap saja salah di mata seorang perempuan.
Dirga semakin gemas dengan Salsa. Tanpa aba-aba, Dirga langsung menggendong Salsa ala bridal style sehingga membuat Salsa terpekik.
"Kakak mau ngapain?" tanya Salsa sembari meronta ingin di turunkan. Namun, apalah daya karena Dirga lebih kuat darinya.
"Aku pengen membawa kamu ke sebuah tempat yang nyaman," kata Dirga santai.
"Lepasin! Kakak jahat! Salsa mual kalau liat kakak. Lepasin!"
"Oh tidak bisa. Seorang pengabdi negara harus melindungi masyarakatnya sampai ke tempat tujuan," begitulah kata Dirga sebelum ia benar-benar membaringkan Salsa di atas tempat tidurnya yang besar. Lalu, mengunci pergerakan tubuh perempuan itu. Tentu saja Salsa mengerti maksud Dirga. Sehingga Salsa meronta ingin lepas. Namun, sekali lagi jika Dirga lebih kuat darinya.
Dan kapal mereka sekarang sedang berlayar untuk menyusuri laut dan menemukan sebuah kenikmatan.
To be continued..
Author kambekkk. Ayok yok share cerita ini ke temen kalian. Biar aku makin semangat nulisnya.
Jangan lupa jaga kesehatan yaa. Karena di musim pandemi seperti ini kalian harus lebih ekstra jaga kesehatan tubuh.
Kalian udah makan belum?
__ADS_1