Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
re-sign


__ADS_3

Salsa menatap nyalang kearah hujan yang sedang turun dengan deras. Bajunya sedikit basah karena terkena guyuran air hujan. Saat ini Salsa mampir di salah satu kedai kopi yang cukup terkenal. Kebetulan karena jalanan juga macet karena genangan air hujan yang meluap mengakibatkan air hujan meninggi. Karena banyaknya sampah yang menyumbat selokan membuat perihatin Salsa. Salsa tidak menyalahkan hujan. Karena hujan adalah salah satu keberkahan dari Allah swt.


Salsa menyeruput cokelat panasnya. Pikirannya kembali segar karena minuman kesukaannya itu. Badannya yang tadi kedinginan sekarang menjadi hangat karena perutnya terisi dengan minuman panas sehingga perutnya menjadi hangat.


Sembari menunggu hujan, Salsa memutuskan untuk membaca ayat suci Al-Qur'an yang ada di ponselnya dengan suara yang pelan agar tidak menganggu pengunjung lain.


Hatinya kembali tenang ketika mulutnya mulai melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan fasih. Pikirannya menjadi segar. Nikmat yang di berikan Allah memang sederhana, namun itu justru yang membuat hati manusia menjadi nyaman karena mengingat Allah swt.


Cukup lama Salsa membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an tersebut. Hingga di layar ponselnya memunculkan sebuah panggilan dari Dirga. Salsa bimbang ingin mengangkatnya atau tidak. Setelah kejadian kemarin, Salsa menjadi sedikit takut dengan suaminya sendiri.


Dan, Salsa telah menceritakan semuanya pada Dirga.


Mata sipit Salsa kembali menoleh ke layar ponselnya. Ternyata panggilan itu sudah lebih dulu mati ketika Salsa ingin menggeser tombolnya untuk mengangkat telepon tersebut.


Salsa menunggu, kalau saja Dirga akan menelponnya lagi. Namun, tak ada panggilan sama sekali.


Apa Dirga marah dengannya?


Salsa ingin mengirim pesan untuk Dirga. Namun ia takut. Dan Salsa sedang berada di fase ketik hapus pada pesan tersebut.


Hatinya bimbang.


"Kamu nggak angkat telpon, saya?" Tiba-tiba suara bariton itu mengagetkan Salsa. Rupanya, lama kelamaan itu akan menjadi hobi Dirga untuk mengagetkan Salsa.


"Kakak tau Salsa ada, di sini?"


"Saya lacak nomor telepon kamu," jawab Dirga santai sembari menurunkan bokongnya di kursi kosong depan Salsa. Bajunya sedikit basah.


Tunggu?


Dirga naik apa? Bukannya jalanan, macet?


"Kakak kesini gimana? Jalanan kan macet,"


"Saya terbang,"


Salsa menatap jengkel Dirga sehingga membuat Dirga tertawa.


"Saya naik motor, terus make jas hujan," katanya santai.

__ADS_1


Dirga melihat Salsa yang hanya diam saja. Ia bisa melihat jika Salsa kesal dengannya.


"Loh kenapa nggak nanya lagi?" Kata Dirga.


"Udah nggak kepo,"


"Ya iya lah nggak kepo. Kan udah saya kasih tau,"


"Tau ah kak!" Kata Salsa kesal lalu menyeruput minumannya lagi dengan sedikit cepat.


"Gitu aja ngambek," kata Dirga sembari bangkit dari duduknya. Ia ingin memesan minuman untuk menghangatkan tubuhnya. Bajunya juga sedikit basah. Karena memakai jas hujan tidak menjamin baju akan tetap kering.


Salsa dapat melihat jika baju seragam loreng yang dikenakan suaminya sedikit basah karena air hujan.


Tak lama Dirga kembali dengan 2 cangkir cokelat panas. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Salsa. Salsa menolak, namun, Dirga tetap memaksanya dengan embel-embel mubazir kalo di buang.


Dirga memperhatikan Salsa cukup lama sehingga membuat Salsa gugup setengah mati.


Salsa sedikit menggebrak meja dengan pelan, "kak kenapa sih liatin aku terus?"


"Loh kamu istri saya. Terserah saya dong mau liatin kamu seberapa lama,"


Entah sejak kapan Salsa menjadi perempuan yang sedikit nge-GAS jika bicara. Padahal, dulu ia adalah orang yang tidak suka banyak bicara, lemah lembut. Pokoknya feminim sekali.


Cukup lama mereka menunggu hujan reda dan jalanan kembali lancar. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali pulang. Karena Salsa juga harus mengurusi bundanya lagi. Salsa dengan telaten mengurusi bundanya. Ia mengajak ngobrol bundanya dan menghibur beliau.


Dirga dengan setia membuntuti mobil Salsa dari belakang. Karena jam dinasnya juga sudah berakhir.


Tidak terlalu jauh jarak yang di tempuh karena jalanan tidak macet.


Salsa memasuk pekarangan rumahnya dan di ikuti dengan Dirga. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, mereka berdua masuk ke dalam rumah.


"Mandi dulu Sal. Setelah itu kita sholat Maghrib dulu," kata Dirga. Memang waktunya untuk beribadah sholat Maghrib karena mereka cukup lama terjebak hujan dan macet. Dan sebenarnya yang terjebak macet adalah Salsa sendiri. Dirga mah bisa saja pulang lebih dulu karena ia memakai sepeda KLX nya. Dan rasanya tidak mungkin jika Dirga meninggalkan Salsa begitu saja.


Salsa menuruti permintaan Dirga.


Salsa mengambil handuknya dan memakai kamar mandi bawah agar Dirga memakai kamar mandi atas.


Setelah tak lama mereka keluar dengan keadaan sudah berwudhu. Salsa mengenakan mukenanya setelah menata rapi dua sajadah.

__ADS_1


Kegiatan yang paling Salsa impikan dan kini sudah tercapai dengan orang yang Salsa sukai selama tujuh tahun lamanya. Kegiatan seperti ini akan menjadi kegiatan termanis yang pernah Salsa lakukan. Sholat berjamaah dengan Dirga yang menjadi imamnya.


Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?


Hati Salsa kembali tenang karena duduk bersimpuh menghadap Allah swt untuk meminta pengampunan atas kesalahan yang pernah ia lakukan.


Setelah selesai sholat, Dirga menghadap ke belakang dan memegang puncak kepala Salsa sembari merapalkan doa untuk Salsa. Salsa mencium punggung tangan suaminya di balas oleh Dirga dengan mencium puncak kepala Salsa dengan sayang.


Setelah selesai, Salsa memutuskan untuk pergi ke kamar bundanya dengan di temani Dirga. Dirga juga ikut menghibur ibu mertuanya yang masih mengalami trauma pasca kecelakaan.


Dengan telaten Salsa menyuapi ibunya dengan bubur ayam yang sempat ia pesan online tadi. Salsa menyewa pembantu dari pagi hingga ia pulang kerja untuk menjaga bundanya jika ia bekerja.


"Kak,"


"Kenapa, Sal?"


"Kayaknya, Salsa pengen berhenti kerja aja," katanya sembari menyuapi bundanya dengan lembut.


Dirga menatap Salsa.


"Ada apa? Kamu merasa terikat?"


"Salsa pengen ngurusin bunda aja sampai sembuh. Nanti bisa aja Salsa buka jam praktik sendiri di rumah,"


"Selagi itu nggak memberatkan kamu, saya izinkan. Tapi apa kamu ikhlas?"


"Ikhlas gimana, kak?"


"Ya kan cita-cita kamu pengen jadi Dokter,"


"Nggak papa kok. Salsa re-sign aja gimana? Nanti Salsa buka jam praktik sendiri di rumah. Boleh, ya?"


"Itu terserah kamu aja. Gimana enaknya kamu,"


Salsa tersenyum menatap Dirga. Dirga memang sesosok suami yang ia idamkan. Suami yang bisa di andalkan. Dan suaminya ini adalah pria yang ia sukai sejak lama.


To be continued....


GABUNG GRUP WA YUKSS.

__ADS_1


__ADS_2