Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
oh my


__ADS_3

...


...


"GUE PUASSSSS, HAHAHA!" tawa itu menggelegar seantero rumah. Kemudian, pergi keluar rumah tanpa rasa bersalah sedikit pun. Pria itu sangat bangga dengan dirinya sendiri.


Rena bersyukur karena pria itu sudah pergi. Dengan susah payah ia bangun dan menghampiri Salsa yang sudah tidak sadarkan diri. Ia sudah tidak memikirkan badannya yang sakit bercampur perih. Karena Salsa lebih penting saat ini. Tetap saja Rena mengaduh kesakitan. Ia segera memeriksa denyut nadi Salsa. Denyut nadi itu ada, namun sangat kecil. Dengan sempoyongan, Rena bangun untuk mencari ponselnya. Ia segera menelpon ambulan untuk segera membawa Salsa ke rumah sakit. Karena Salsa yang sudah tidak sadarkan diri. Ia tidak mau terjadi apa-apa pada sahabatnya. Bahkan Salsa tidak mengetahui apa permasalahannya.


Sempoyongan dan merasakan rasa perih ia menelepon ambulance.


Sembari menunggu ambulance datang, Rena membantu Salsa untuk mendapatkan napas buatan. Gadis itu sembari menangis.


"Sal bangun," erangnya di sertai tangisan.


"Lo harus sadar!"


"Maafin gue, Sal,"


"Ini alasan kenapa gue nggak mau cerita soal masalah ini. Gue takut lo terlibat. Dan lo orangnya pasti nekatan," tuturnya sembari memberikan napas buatan untuk Salsa. Ia masih bisa merasakan denyut Salsa yang lemah.


Tak lama terdengar beberapa gerombolan masuk. Rena melihat jika beberapa tenaga medis. Salah satunya membawa tandu untuk Salsa.


Rena berdiri dengan memegang bahunya sendiri.


Rena segera memberitahu jika di kamar mandi ada Salsa.


"Ren, Ya Allah!" Pekik teman satu kerjaan Rena yang baru saja masuk. Seorang perawat teman bekerja Rena.


"Lo kenapa? Kenapa banyak luka sayatan gini. Lo harus di bawa kerumah sakit juga supaya nggak infeksi lukanya," kata perawat itu dengan panik.


"Lo harus periksa keadaan Salsa dulu, Ris,"


"Salsa? Dokter Salsa yang pindah, itu?" Tanyanya dengan panik. Rena hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab.


"Astaghfirullah, kalian berantem?"


"Bukan saatnya cerita, Ris!" tukas Rena. Risma mengangguk dengan cepat. Benar kata Rena.

__ADS_1


Rena melihat Salsa sudah di bawa masuk ke mobil ambulance. Ia segera mengikuti bersama Risma.


Mobil ambulance itu segera meleset kerumah sakit utama.


Selama di perjalanan, tenaga medis membuat napas buatan untuk Salsa yang sudah lemas. Hingga mereka tiba di rumah sakit.


***


Rena memegang kepalanya pusing. Lukanya sedikit membaik karena sudah di obati. Rena menyingkap lengan bajunya. Di sana, ada banyak bekas luka sayatan. Dan dari semua bekas luka itu dan luka baru saat ini, pacarnya sendiri lah yang memberikan pesakitan itu.


Sudah berjalan 4 tahun terakhir, Rena merasakan pesakitan seperti ini. Ia dengan lapang dadanya di siksa oleh pacarnya sendiri.


Pertama kali Rena mengenal Rio, ketika kedua orang tuanya masih hidup. Kedua orang tua Rena adalah pengusaha yang bangkrut. Kebetulan Rio adalah kolega bisnis kedua orang tua Rena untuk menutupi kebangkrutannya. Yapss! Kedua orang tua Rena berhutang banyak pada pembisnis muda itu. Hingga Rio ingin lebih dekat dengan Rena. Dan kedua orang tua Rena setuju jika Rio bersama Rena. Sebelumnya, Rio adalah pria yang baik. Murah senyum dan suka bercanda. Hingga kedua orang tua Rena meninggal.


Seiring berjalannya waktu, Rio membuat nyaman Rena. Rena merasa terlindungi jika berada di dekat Rio. Tapi entah kenapa, semakin lama, Rio semakin berubah sikapnya. Mulai kasar kepadanya. Dari cara bicaranya hingga ia mulai main fisik dengan Rena jika pria itu marah. Mulai dari itu, Rena sering di ancam oleh Rio. Jika Rena tidak boleh pergi dari hidup Rio. Rena hanya milik Rio. Rio tidak mau kehilangan Rena.


Dan Rio juga berubah menjadi orang yang sangat pencemburuan. Jangankan dekat dengan teman cowok-cowoknya, berkumpul dengan teman cewek-ceweknya saja membuat Rio marah pada Rena. Hingga pria itu sering menyiksa Rena jika dirinya marah. Sifat lembut Rio yang di milikinya dulu sudah tidak ada lagi. Rio juga gila kerja semenjak itu.


Rena ingin keluar dari lingkar siksaan itu. Namun, Rio sudah lebih dulu mengancamnya. Bahkan, pernah suatu hari Rena diam-diam memesan tiket keluar negeri guna untuk menghindari Rio dan keluar dari lingkaran kekejaman itu. Namun, ia gagal karena Rio lebih mengetahui hal itu.


Disitu, Rena memulai merasakan pesakitan batin. Ingin sekali ia bercerita masalah ini dengan sahabatnya, namun ia tidak bisa. Karena ia tahu, Salsa tidak akan membiarkan sahabatnya seperti Rena tersiksa karena pacarnya sendiri. Dan jika Salsa mengetahui hal ini, dengan otomatis Rena telah menyeret masuk Salsa ke dalam lingkaran kejam itu. Dan melibatkan sahabatnya sendiri.


"Dokter Rena sudah sedikit, membaik?" Kata salah satu perawat teman Rena.


Rena menganggukkan kepalanya.


"Ris, keadaan Salsa, gimana?"


"Alhamdulillah, baik-baik aja. Tapi dokter Salsa belum membuka matanya,"


Rena turun dari ranjangnya dengan memegangi bahunya. Badannya masih sangat sakit semua.


"Mau kemana, dok?"


"Saya mau liat Salsa," katanya pelan.


"Ya udah saya bantu jalannya,"

__ADS_1


"Nggak usah, Ris. Makasih banyak, ya,"


Rena berjalan menuju ruangan Salsa. Ia melihat jika tubuh Salsa masih di beri beberapa alat bantu untuk bernapas. Rena menitikkan air matanya. Ia masuk ke dalam namun masih bisa menjaga jaraknya dengan Salsa.


"Bukan salah lo!”


"Kenapa lo jadi begini?"


"Bangun, Sal!"


Katanya dengan menangis. Tadi, ketika perjalanan menuju ruangan Salsa, Rena sempat bertemu dengan dokter yang menangani Salsa. Kata dokter tersebut, Salsa akan segera membaik.


Rena melupakan suatu hal. Karena terlalu fokus dengan keadaan Salsa, ia sampai lupa memberitahu keadaan Salsa pada Dirga. Ia harus memberitahu suami Salsa.


Ia segera keluar dari ruangan Salsa. Berjalan sembari merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Ia menghubungi nomor Dirga.


Beberapa kali ia menghubungi nomor Dirga, namun tak kunjung di angkat juga. Rena memakhlumi jika pria itu pasti sibuk karena tugasnya di luar pulau.


Dirga memang masih berada di Kalimantan Selatan.


Rena panik, karena Dirga tidak bisa di hubungi. Ia harus berbuat, apa?


Sebenarnya, Rena juga takut memberitahu Dirga soal keadaan Salsa. Karena Salsa terluka karena dirinya. Ia takut jika Dirga marah besar padanya. Namun, mau tidak mau ia harus memberitahu suaminya, bukan?


Rena duduk termangu di salah satu kursi panjang yang ada di koridor itu. Sudah berapa kali ia meneteskan air matanya dari kemarin. Ia menyingkap kembali lengan bajunya.


Rena benar-benar ingin keluar dari lingkaran siksa itu. Namun, bagaimana caranya?


Mungkin karena sifat yang di miliki Rio adalah sifat overprotektif, sehingga membuatnya jadi seperti itu.


Entahlah Rena tidak mengerti.


Namun, Rena benar-benar ingin hidup bebas seperti dulu. Atau ia ingin Rio nya yang dulu kembali. Rio yang hangat dan selalu melindungi dirinya. Bukan Rio yang tertawa lebar ketika melihat seseorang yang terluka.


Rena menangis!


To be continued....

__ADS_1


Maaf banget updatenya dikit. Karena aku lagi hilang semangat aja hihi ✨🤗🤗🤗


__ADS_2