
Sudah empat hari berlalu. Dan kini kondisi Salsa semakin membaik. Salsa juga sudah di pindah ke ruangan rawat biasa.
"Maafin gue ya," cicit Rena berulang kali yang membuat Salsa ingin membungkam mulutnya. Pasalnya sudah berulang kali Rena meminta maaf padanya.
Salsa hanya diam. Malas menanggapinya. Jelas-jelas Salsa udah memaafkan sahabatnya itu.
"Gue nggak enak. Lo hampir mati karena gue," kata Rena sembari menyuapi Salsa dengan bubur hangat. Khas orang sakit makan bubur yang lembut.
"Gue harus berapa kali bilang iya terus? Gue maafin lo Rena. Gue maafin lo. Tenang aja. Toh lagian kalo gue mati juga udah garis Sang Maha Kuasa. Karena hidup gue cuma Allah yang bisa ngatur kapan kita mendapatkan maut,"
"Ya jangan ngomong gitu dong Sal,"
"Gue juga nggak mungkin menentang Allah,"
"Berdoa aja yang baik,"
"Tugas lo sekarang nyuapin gue buburnya sampai habis. Jangan ngomong macem-macem, makin pusing kepala gue, kita bahas nanti kalau gue udah sembuh," kata Salsa.
Rena mengangguk dan menyuapi Salsa. Mereka mengganti topik pembicaraannya dengan hal-hal yang menarik untuk di ceritakan.
Hingga buburnya hampir habis, Salsa membuka pembicaraan.
"Lo udah hubungin kak Angkasa?" Katanya.
Rena mengangguk, "udah. Udah empat hari terakhir gue hubungi suami lo. Tapu tetep aja nggak di angkat,"
"Mungkin dia ada tugas lagi,"
"Kenapa lo pulang bareng doi, aja?"
Salsa menggeleng, "enggak,"
"Eh Ren, gue pengen ngomong sesuatu,”
Rena mendekat, "apa?"
"Tapi jangan bilang kak Angkasa, ya,"
__ADS_1
"Kenapa emangnya? Lo nyembunyiin sesuatu dari, dia? Dasar istri nggak baik!"
"Bukan gitu, masalah ini jangan bilang ke Kak Angkasa. Karena gue nggak mau ngerepotin dia,"
"Ya enggak lah. Kan lo istrinya,"
Salsa memohon pada Rena agar kejadian ini, Dirga tidak mengetahuinya. Rena tidak mau menyembunyikan sesuatu dari Dirga. Karena ia takut, jika Dirga malah mengetahuinya sendiri dari mulut orang lain. Dan Salsa tetap memaksa jika Rena harus bungkam mulut. Akhirnya Rena menyetujui walaupun sebenarnya berat untuk ia lakukan. Salsa bersyukur karena hingga empat hari terakhir ia di rawat di rumah sakit, Dirga juga belum menampakkan batang hidungnya. Dan hari ini adalah hari kamis yang panjang, semoga ia lekas membaik dan segera kembali seperti biasanya.
Ia mengingat betapa mengerikannya waktu itu. Ketika ia merasakan seperti malaikat pencabut nyawa telah datang kepadanya untuk mencabut nyawanya. Salsa merasakan sekaratul mautnya. Namun, ia bersyukur karena Allah mengembalikan hidupnya.
"Lo ngelamun?"
"Enggak!" Salsa menggeleng.
"Yaudah nih tinggal dikit, habisin. Jangan buang makanan,"
Salsa mengangguk.
Setelah menyuapi Salsa hingga habis. Rena berjalan keluar untuk membelikan Salsa minuman. Bukan Salsa yang menyuruhnya namun ia hanya ingin membelikan Salsa.
Mengingat kejadian kemarin sangat menyakitkan bagi dirinya dan Salsa. Sekarang Salsa sudah mengetahui. Namun, Salsa belum mengetahui letak kebenarannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menceritakan semuanya pada Salsa. Karena Salsa sudah terlanjur mengetahuinya. Namun, Salsa juga tidak menanyakan letak kebenarannya. Rena yakin jika Salsa sudah sembuh total pasti akan menginterogasinya.
Dan Rena sebenarnya takut untuk menyembunyikan kabar buruk ini pada Dirga. Bagaimana pun juga sebenarnya Dirga juga berhak mengetahui hal ini.
Rena terpekik ketika tiba-tiba seseorang telah menarik tangannya dengan paksa menuju kamar mandi perempuan. Seorang laki-laki yang memakai kaos panjang hitam dengan topi hitam yang menutupi rambutnya. Laki-laki itu membungkam mulut Rena. Rena berusaha memberontak dari laki-laki itu. Namun, ketika satu tangan laki-laki itu membuka topinya, Rena begitu terkejut melihatnya.
Siapa lagi dalangnya?!
Rena meronta dan menjerit. Namun, sayang sekali jeritannya terendam tangan besar laki-laki itu.
"Hai sayang," cicit laki-laki itu dengan lembut seringaian sutra.
"Apa kabar? Sudah sembuh, sakitnya? Gue bener-bener kangen sama lo!" Tukasnya dengan memasang wajah yang di benci oleh Rena.
Rena terus meronta. Tapi kenapa toilet ini begitu sepi sekali.
"Lo bingung ya kenapa toiletnya, sepi? Karena gue udah masang papan kalau toiletnya rusak," kata pria itu kemudian tertawa pelan. Suara itu yang Rena benci.
__ADS_1
"Jaga kesehatan terus yaa. Karena gue sayang sama lo. Nanti kalo lo sakit, gue yang repot!" Tukasnya lagi yang membuat Rena semakin meronta. Rena sudah mengalirkan air matanya. Ia takut. Bahkan sangat takut jika ia akan mendapatkan luka sayatan lagi. Ia takut pada pria yang ada di depannya saat ini. Mungkin sebutan pria itu tidak cocok. Yang cocok hanyalah seorang psikopat gila.
"Lo bisu ya ngga bisa, ngomong?"
"Upsss! Ternyata mulut lo gue bungkam. Makanya lo jadi mendadak bisu!" Katanya yang membuat Rena jijik.
Pria itu semakin mendekatkan wajahnya ke arah Rena.
Tangan sebelah cowok itu sudah mengeluarkan pisau kecil. Rena menggelengkan kepalanya sembari meronta dari cengkeraman pria itu. Jangan di tanyakan lagi matanya sudah meneteskan air mata. Rena tau jika berteriak sudah tidak ada harapan untuk meminta bantuan. Namun, di hatinya ada Allah. Allah yang akan menolongnya. Rena begitu yakin dengan Allah. Terus saja Rena memanggil nama Allah dalam hatinya. Hatinya tenang karena masih ada Allah. Yakinlah dia.
"Kenapa? Lo takut ya, sayang?" Tanya Rio dengan senyuman iblis. Pria itu senang jika melihat gadisnya seperti ini. Entahlah apa yang membuat pria itu menjadi seperti itu.
Rena berusaha menggunakan kakinya untuk menendang Rio, namun usahanya sia-sia karena Rio lebih dulu mengetahui taktik Rena. Rena sudah tidak bisa gerak karena cengkeraman Rio yang lebih kuat darinya.
"Ya kalo lo mau lepas dari cengkeraman gue ya nggak bisa lah! Secara kan tenaga lo itu lemah! Lo gampang di labuhi. Makanya jadi orang jangan lemah lembut! Lo gampang di bodohin!" Tukas Rio dengan penuh penekanan.
Rio menganggap jika Rena adalah gadis yang lemah. Gadis yang mudah di bodohi.
Ada alasan sendiri kenapa Rio menyukai gadis lemah lembut itu. Memang manusia mempunyai tipikal kesukaan pada setiap orang.
Rena meronta dengan keras namun tidak berhasil. Rio terlalu kuat untuk dirinya yang lemah. Jelaslah! Ia hanya bisa menangis.
"Kenapa? Lo sayang kan sama, gue? Jadi jangan takut dong sama gue!" tukasnya lagi dengan senyuman devil.
Rena mengetahui apa maksud Rio saat ini. Pria itu ingin meminta jika ia merahasiakan kejadian kemarin. Namun, apakah ia bisa? Sudah dua orang yang meminta mulutnya untuk bungkam. Namun, apakah ia bisa melakukan lagi dan LAGI? Karena hatinya sudah terlanjur retak, apakah ia bisa kali ini memaafkan pria, itu?
Tanpa di tanya pun, ia mengetahui maksud Rio. Sudah sering sekali ini terjadi. Namun, kali ini ada Salsa yang terlibat.
Emangnya, Rena bisa menyembunyikan kejadian kejam, ini? Memang akhir-akhir ini belum ada pihak dari kepolisian untuk menginterogasi dirinya. Dan bahkan belum ada polisi yang datang kerumahnya. Karena setahu orang-orang, ini adalah kecelakaan biasa dan tidak ada tersangka sama sekali.
To be continued...
Maafinn akuu guyssss ✨🙏🏾
Ngecewakan kalian. Tapi janji aku hari ini update.
💝
__ADS_1