
Dirga memarkirkan mobilnya di salah satu masjid besar yang berada di kota Banjarmasin. Karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu, maka waktunya beribadah kepada Allah swt. Ia bersama Salsa berjalan menuju tempat wudhu.
Salsa berjalan di samping Dirga. Perempuan itu sedari tadi mencuri-curi pandang Dirga. Ia tak menyangka jika seseorang yang ia sukai kini berjalan bersamanya. Dan Dirga selalu membuatnya kesal bercampur dengan gemas. Hati Salsa sudah jatuh terlalu dalam untuk Dirga. Namun, ia hanya berusaha menyembunyikan perasaan itu. Namun, ia sudah berjanji dengan dirinya sendiri jika ia ingin memperjuangan cintanya lagi. Apalagi ia sudah halal dengan Dirga.
"Panas kayak gini makan rujak enak kayaknya ya, kak?" Kata Salsa tiba-tiba. Salsa mendongak ke atas tepat matahari bersinar. Hari ini cuacanya tampak panas dan Salsa bersyukur akan hal itu.
"Loh kenapa tiba-tiba kamu minta, rujak? Kamu nggak lagi nyidam, kan? Perasaan kita belum a--" Salsa lagi dan LAGI membekap mulut Dirga yang senang kali nyeplos. Sembari memelototi Dirga, Salsa mengatakan sesuatu yang membuat Dirga tertawa. Bukannya malah takut, Dirga malah menggoda Salsa.
Salsa lebih dulu meninggalkan Dirga masuk ke dalam tempat perwudhuan. Ia menghela napasnya panjang sebelum mengambil air wudhu.
Salsa memulai wudhunya. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama Salsa menyelesaikan wudhunya. Setelah selesai, Salsa segera mengikuti sholat berjama'ah karena sholat akan segera di mulai.
Salsa selalu tersenyum jika memasuki rumah Allah. Hatinya langsung nyaman jika berada di rumah Allah ini.
Memang benar jika hal seperti ini sering terjadi pada orang-orang yang kesepian lalu berniat diri untuk sholat berjama'ah di masjid akan membawa hatinya menjadi tenang. Obat terampuh untuk menghilangkan kesepian yang ada dalam diri manusia. Manusia kesepian karena di hatinya tidak ada Allah. Maka hatinya hampa. Manusia tidak akan menemukan kebahagiaan yang sejati jika tidak berlari ke menghadap Allah untuk mengampuni dosa-dosa.
Layaknya sebuah cinta yang pupus. Kalian tidak akan pernah menemukan cinta sejati sampai kalian terlebih dahulu belajar untuk mencintai Allah. Karena cinta sejati ialah cinta karena Allah. Bukan semata obsesi saja. Memang sulit membedakan cinta karena Allah dengan rasa obsesi semata.
Seperti Salsa. Ia menyukai Dirga karena Allah. Karena Allah telah memperlihat sifat Dirga kepada Salsa sehingga membuat Salsa jatuh hati pada Dirga. Entah sifat Dirga yang seperti apa yang di tunjukkan Allah kepada Salsa. Dan semenjak saat itu, Salsa menjatuhkan hatinya pada Dirga secara diam-diam. Tujuh tahun lamanya.
Dan semenjak saat itu juga, Salsa juga membayangkan bagaimana rasanya hidup dengan seseorang yang kita sayang dan menjadi kekasih halal.
Ketika seorang pria mengatakan "saya terima nikahnya" pada suatu akad nikah, itu artinya dia juga mengatakan bahwa saya siap menerima tanggung jawab untuk melayani istri saya, mencintai dan melindunginya.
Kata-kata seperti itu terngiang-ngiang di benak Salsa. Jika mengingatnya, ia akan tersenyum sendiri.
Salsa sudah selesai melakukan sholatnya. Ia bergegas keluar dari masjid. Matanya celingak-celinguk mencari keberadaan Dirga. Namun, ia dapat melihat dari banyaknya orang yang sholat berjama'ah. Dirga terlihat beda sendiri karena seragam lorengnya yang menonjol dari orang-orang lain. Salsa tersenyum melihat Dirga yang masih mendengarkan khotbah dari salah satu imam masjid besar ini.
Seorang pria yang di pandangnya saat ini adalah suaminya, teman halalnya, kekasih halalnya.
Dering ponsel Salsa berbunyi. Ada sebuah panggilan telepon untuknya.
"Halo, Assalamu'alaykum?" Kata Salsa.
"Wa'alaykumsalam, Sal ini gue, Rena."
"Lo ganti nomor, lagi?"
"Iyo. Lo kapan balik, kesini?"
Salsa keluar dari teras masjid untuk menuju gazebo taman yang berada di lingkup masjid. Tidak etis jika dirinya bertelepon di teras masjid. Salsa mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu. Biasanya, sahabatnya akan bercerita jika bertanya seperti itu. Dan kebetulan, Salsa juga sedang merindukan kecerewetan Rena. Maka dari itu, ia kan sedikit lebih lama mengobrol dengan Rena.
Salsa berjalan di bawah pohon rindang yang membawanya ke gazebo taman yang tidak terlalu jauh. Suasananya juga begitu bagus. Salsa menyukai langit biru yang membentang luas di atas sana tanpa gedung-gedung tinggi yang menutupi. Sembari mengobrol dengan Rena melalui telepon, Salsa menikmati udara yang sejuk ini. Tanpa asap kendaraan yang ikut bercampur bersama oksigen. Rupanya, obrolan itu terlihat mengasikkan. Terlihat dari Salsa yang tertawa mendengarkan keluh kesah Rena. Mereka juga bergantian bercerita. Salsa terlihat bahagia.
Sedangkan dari kejauhan, Dirga memandang seorang perempuan manis yang sedang tertawa bahagia. Dirga melihat Salsa menggenggam ponselnya.
"Telpon dari siapa sih, kok bahagia banget, kayaknya?" Kata Dirga sembari ikut sedikit tersenyum karena melihat ekspresi Salsa. Sedari tadi, Dirga mencari keberadaan Salsa. Ternyata perempuan itu berada di gazebo taman masjid. Dirga berjalan di bawah pepohonan yang berjejer membawanya ke gazebo taman.
__ADS_1
Perempuan yang kini sudah menjadi teman halalnya selalu menawan ketika ia melihatnya. Rasa ini berbeda ketika ia masih bersama mantan tunangannya dahulu, Ara. Entah rasa apa yang membedakan antara keduanya. Namun, Dirga merasa jika ia bersama Salsa memilikinya dengan cara berbeda. Ketika perempuan itu menatapnya. Ketika perempuan itu menangis dan hanya permen yang bisa membuat moody Salsa kembali. Tak hanya permen, minuman cokelat hangat pun bisa mengembalikan moody nya.
Pernah suatu hari Dirga berpikir ketika masih bertunangan dengan Ara. Sebelumnya, Dirga selalu yakin kepada Allah swt. Allah selalu memberikan terbaik untuk hamba-Nya. Ibaratkan jika seseorang telah mencintai salah satu makhluk ciptaan-Nya dan Allah telah menjauhkannya dengan kita, maka itu bukan jodoh kita. Walaupun rasa sakit pasti ada di dalam hati. Namun, takdir Allah lebih indah dari yang manusia kira.
Suatu hari akan datang seseorang yang cukup baik budinya untuk membuat kamu tertarik lagi. Mungkin dengan cara seperti itu, Allah menggantikan seseorang yang baik untuk kamu. Cukup luas hatinya untuk tempat kamu tinggal dan cukup bijaksana pikirannya untuk kamu bercerita. Mengerti perasaan kamu.
Kamu tidak perlu menjadi orang lain untuk mendapatkan hati seseorang atau kamu tidak perlu repot-repot mempertahankan seseorang dan mengorbankan segalanya demi seseorang itu. Tetaplah menjadi dirimu sendiri. Dan tetap ingat, kamu juga tidak bisa menuntut orang lain seperti apa yang kamu inginkan. Karena yang baik belum tentu tepat.
Orang baik itu hanya ada sekali dan satu saja yang tepat dan selebihnya hanya ujian. Kamu tidak akan tahu, siapa yang datang ketika AKAD tiba. Tetaplah menjaga diri selayaknya menjaga seseorang yang kita sayang. Karena kamu adalah makhluk Tuhan yang berharga di mata seseorang yang menghargaimu kelak. Kamu adalah makhluk yang berharga untuk seseorang yang sangat membuatmu berharga memilikinya. Kamu akan berada di fase seperti itu. Jangan khawatir jika Allah menjauhkan seseorang yang kamu sayang. Allah akan menggantikannya dengan seseorang yang lebih berharga untuk kamu miliki.
Yakinlah, jika Allah akan menggantikan seseorang yang cukup kuat kakinya untuk kamu ajak jalan bersama. Lebih dari itu, akan menerimamu yang serba cukup.
Seperti layaknya Angkasa Dirgantara yang mengalami hal sulit seperti itu. Namun, seiring berjalannya waktu, ia bisa mengatasinya. Allah sudah mempercayakan Salsa kepadanya. Maka tugasnya saat ini adalah menafkahi dan melindunginya.
"Asik banget kayaknya," celetuk Dirga yang sudah berhasil duduk di sebelah Salsa. Namun, perempuan itu masih belum menyadari keberadaan Dirga.
Respon Dirga hanya tertawa. Lalu, tangan kekar itu bergerak untuk mengacak puncak kepala Salsa dengan sayang. Saking gemasnya pada Salsa, tatanan hijab Salsa sampai rusak. Barulah perempuan itu sadar jika di sebelahnya adalah Dirga. Salsa sudah bersiap ingin menyemprot seseorang itu dengan mulutnya. Namun, kembali bungkam ketika melihat Dirga.
Tidak hanya bungkam. Ia malah memelotot pada Dirga sebentar sebelum mengakhiri panggilannya dengan Rena.
"Kenapa? Mau marah?"
"Enggak!" Tukas Salsa dengan memalingkan wajahnya.
"Saya heran sebenarnya, setiap saya berada di dekat kamu, kamu selalu memalingkan wajahmu," kata Dirga sembari berdiri untuk jongkok di hadapan Salsa. Jangan di tanya lagi bagaimana perasaan Salsa. Perempuan itu sudah gugup setengah mati ketika Dirga mengamatinya.
"Gimana? Udah suka sama saya, belum?" Kata Dirga menatap dalam manik mata yang nyaman itu.
Salsa meronta, "ahh kakak nanya itu mulu," kata Salsa setelah berhasil melepaskan tangan Dirga yang menggapit pipinya.
"Saya kan nanya aja, Sal."
"Ya tapi saya harus gimana jawabnya, kak?"
"Wah ego mu terlalu tinggi," kata Dirga sembari mengacak kepala Salsa lagi.
"Kok jadi bahas ego sih, kak?" Kata Salsa sedikit keras. Entah kenapa akhir-akhir ini, Salsa suka sekali jika berbicara menggunakan sedikit ototnya. Atau mungkin karena ia harus menyembunyikan rasa gugupnya dengan tameng rasa atau ego yang sedikit tinggi. Benar! Salsa belum mempunyai nyali untuk mengaku pada pria yang menatapnya saat ini.
"Jangan sungkan untuk menyatakan perasaan ke saya. Saya nggak gigit kamu, kok. Atau kamu belum bisa move on sama laki-laki yang kamu sukai sebelum nikah sama, saya?" Tanya Dirga.
IYA KAK IYA! SAYA NGGAK BISA MOVE SAMA COWOK YANG BIKIN SAYA SUKA SELAMA TUJUH TAHUN TERAKHIR. ITU LO KAK! LO KAK!
Tentu saja bait kalimat itu di ucapkan Salsa dalam hatinya. Mana mungkin ia mengucapkannya secara langsung. Biarlah Allah dan Salsa dulu saja yang mengetahui perasaannya.
"Di ajak ngomong suka diam. Lama-lama saya bawa kamu ke psikis," kata Dirga yang membuat Salsa menatapnya tajam.
"Kakak gaje banget!"
__ADS_1
"Manggilnya mas dong, Sal. Supaya enak saya dengernya. Masa sama suami sendiri manggilnya kakak,"
"IYA MAS ANGKASAAA!" kata Salsa dengan jengkel kemudian meninggalkan Dirga yang tertawa karenanya.
Dirga berlari menyusul Salsa yang sudah masuk ke dalam mobil.
**
Salsa mengantar beberapa teman medisnya untuk kembali ke Jakarta. Mereka sekarang berada di bandara udara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Tidak etis jika dirinya tidak ikut mengantar teman medisnya.
Salsa juga sudah meminta izin atasannya untuk tinggal di sini beberapa hari ke depan.
"Dokter Salsa saya pulang dulu. Hati-hati di sini, ya," kata dokter Randy sembari membawa tas koper besarnya. Pria itu terlihat modis dengan tampilan celana levis hitam di padu dengan jaket denimnya. Seperti anak muda saja padahal sudah berumur.
Salsa tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Belum sempat dirinya angkat bicara, Dirga yang tiba-tiba datang dari arah belakang Salsa menyahut pembicaraannya, "tenang saja. Ada saya dan beberapa anggota TNI yang bisa menjaga dokter cantik ini," kata Dirga dengan santai. Ia langsung mendapat pelototan tajam dari Salsa. Namun, Dirga tetap bersikap biasa saja. Namun, Salsa ingin muntah rasanya jika mendengar kalimat itu.
"Wah kalau begitu saya nitip dokter Salsa ya kapten," kata Randy sembari tersenyum manis menatap Salsa.
Dirga memutar bola matanya malas.
Doi bini gue mas!
Itu suara hati Dirga.
Akhirnya pesawat relawan segera take off. Relawan lainnya segera menuju hanggar pesawat. Beberapa anggota TNI memang sengaja mengantar relawan kembali pulang.
"Kapten angkasa!" Seseorang memanggil nama Dirga dari belakang. Seseorang itu berlari menghampiri Dirga. Setelah sampai orang itu hormat pada Dirga, begitu sebaliknya Dirga membalasnya.
"Ada yang bisa saya, bantu?" Terselipkan nada otoriter di dalam pertanyaan itu.
"Siap komandan! Saya sudah membawakan laporan untuk hari ini. Mohon segera di cek," kata orang itu dengan nada yang tegas.
"Siap laksanakan!" Seru Dirga.
Orang itu sudah pamit undur diri.
Dirga berjalan ke arah Salsa.
"Sal saya balik ke posko dulu, ya," kata Dirga setelah dekat dengan Salsa. Kemudian, Dirga membungkukkan badannya karena Salsa yang pendek darinya, Dirga telah membisikkan sesuatu di telinga Salsa.
Salsa yang mendengarnya ingin muntah karena Dirga. Entah omongan seperti apa yang membuat Salsa jadi ingin muntah. Kemudian, Dirga berlari menuju mobilnya setelah membisikkan sesuatu ke telinga Salsa. Pria itu jelas tertawa karena Salsa yang sudah memasang ekspresi jengkel.
Tidak hanya itu saja yang menarik. Beberapa teman Dirga yang masih di situ terheran-heran karena tingkah laku Dirga yang hangat kepada perempuan. Karena Dirga di kenal sebagai kapten yang otoriter dan diktator. Galak dan tidak bisa di ajak toleransi apapun. Beberapa temannya sangat heran melihat tawaan kapten yang selama ini terlihat keras, Angkasa Dirgantara.
Jangan kangen sama saya ya, Sal!
To be continued....
__ADS_1