
Salsa, dokter Alif, dokter Andi, dokter Syifa, dokter Aga, dokter Eva dan dokter Randy telah bernapas lega ketika semua sudah di atasi bersama-sama. Mereka berkumpul di ruangan dokter.
"Akhirnya tugas kita selesai. Gue masih takut ngeri aja berada di situasi begini," kata dokter Eva sembari mengusap wajahnya. Mereka sudah menjadi sebuah kubu, saling mengenal satu sama lain. Kubu yang siap menyembuhkan pasiennya.
"Iya, Alhamdulillah," sahut dokter Randy.
Mereka hanyut dalam obrolan ringan seputar masalah kesehatan kecuali Salsa yang duduk termenung di sebelah dokter Syifa. Entah apa yang di pikirkan, Salsa terlihat pucat. Sampai sebuah suara bariton telah menyapanya.
"Dokter Salsa, kenapa?" tanya dokter Alif ramah.
Salsa mengerjap sebelum menjawab, "Eh nggak papa kok dokter Alif. Saya cuma kecapekan aja."
"Istirahat dulu aja dokter Salsa. Jangan sampai drop di sini. Mari saya antarkan ke kamar," sahut dokter Eva ramah.
"Iya benar. Istirahat saja dulu," kata Dokter Aga.
Salsa mengangguk dan segera bangkit dari duduknya. Mengikuti langkah dokter Eva yang mengantarkannya ke kamar penginapan. Kamar itu berada di lantai atas rumah sakit, guna mengantipasi jika ada korban lagi secara mendadak. Salsa masuk kedalam ruangan yang begitu bersih dan wangi. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi nyaman untuknya. Ia melihat jika tasnya sudah ada di sebelah ranjang.
__ADS_1
"Saya juga langsung mau istirahat. Mari dokter Salsa," kata Dokter Eva ramah.
Salsa tersenyum ramah sembari menjawab, "Syukron, selamat istirahat dokter Eva," katanya. Setelah memastikan dokter Eva pergi, ia menutup pintu kamarnya. Kakinya berjalan menuju ranjang dan membanting tubuhnya di ranjang empuk itu.
Matanya sudah tidak bisa di tahan lagi, akhirnya Salsa terlelap dengan posisi yang tidak nyaman. Sepatunya belum ia lepas, jas dokternya masih terpasang rapi di tubuh ringkihnya. Ia sudah sangat kelelahan sekali. Sehingga bunga tidur cepat menyapanya.
Belum ada tidur selama lima menit, matanya kembali terbuka karena terkejut setengah mati. Suara bom yang menggelegar telah mengagetkannya. Suara teriakan memanggil namanya terlihat begitu khawatir. Cepat-cepat Salsa bangkit dengan kepala yang pusing karena tiba-tiba terbangun.
"DOKTER SALSA, AYO KELUAR GEDUNG," teriak dokter Eva panik sembari mengandeng tangan Salsa berjalan cepat. Gedung seperti bergetar.
"TOLONG SEMUANYA KELUAR!" teriak salah satu Jenderal TNI mengintrupsi dengan tegas.
Salsa melepaskan gandengan tangannya pada dokter Eva. Dokter Eva tak menyadari hal itu karena terlalu larut dalam situasi. Jas putih Salsa tersangkut pintu yang tertutup. Gedung semakin bergetar karena ledakan bom beberapa saat. Salsa panik luar biasa, saking paniknya, ia tidak bisa berpikir jernih untuk melepaskan jas itu dan berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Ia terus menarik jasnya pada pintu yang mulai akan roboh itu. Salsa ingin menangis saat ini juga. Ia dapat mendengar, salah satu bagian dari gendung ini sudah roboh.
"SALSA!" teriak salah satu Jenderal TNI itu terkejut bukan main ketika melihat keberadaan Salsa yang masih ada di lantai dua. Jenderal Angkasa langsung menghampiri dokter muda itu. Ia dapat melihat, jika Salsa sudah menitikkan air matanya.
"SALSA! TUNGGU SEBENTAR, SAYA BANTU," kata Jenderal Angkasa lalu membuka pintu yang akan roboh itu dan membukanya sedikit agar baju Salsa bisa terlepas.
__ADS_1
Ketika Salsa berhasil, ia melirik siapa dewa penyelamat itu. Ia membelalakan matanya ketika melihat siapa orang itu. Ini mimpikah? Karena Salsa tadi tidur. Ini pasti mimpi. Salsa menepuk pipinya. Tapi, ia kembali terperanjat ketika sebuah tangan besar telah menggedongnya ala bridal style. Salsa memekik kaget. Ia terus beristighfar.
"Kamu itu bodoh atau bagaimana? Gedung ini akan roboh karena ledakan bom yang begitu dahsyat. Kenapa malah tidak cepat lari, malah menepuk-nepuk pipimu seperti orang bodoh!" kata Jenderal Angkasa tegas sembari berlari keluar dengan membawa Salsa dalam gendongannya. Ia tidak mungkin menyuruh Salsa berlari, karena ia tahu jika gadis itu tidak akan berlari cepat, sedangkan gedung sudah sebagian ambruk. Alhasil ia terpaksa menggendong Salsa. Dirga cukup tau hukum menyentuh seorang wanita yang bukan mahramnya. Tapi, sekali lagi Dirga meminta maaf. Karena ini terpaksa.
Salsa menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Jantungnya berdetak dengan kencang di gendongan Dirga yang di panggil Jenderal Angkasa. Berulang kali, ia meminta maaf pada Allah Swt. karena Dirga menggendongnya. Ini tidak boleh, karena mereka belum mahram. Baru kali ini Salsa di gendong oleh seorang lelaki. Apalagi itu cinta pertamanya. Ingin sekali ia menangis.
Ya Allah...maafin Salsa. Dia bukan mahram Salsa. Maaf ya Allah, maafkan Salsa...batin Salsa.
Salsa tahu betul bagaimana cara pria ini menggendongnya sembari berlari menuruni tangga. Begitu tangguh dan penuh jiwa berkorban.
Yang menjadi pertanyaan bagi Salsa di sini adalah mengapa pria itu ada di sini?
Bukankah bulan depat resepsi pernikahan mereka? Oh Ya Allah, Salsa ingin menangis jika pernikahan di di undur. Harus kemana lagi ia agar tidak menghadiri pernikahan itu. Hati Salsa semakin sesak. Ingin rasanya ia menjerit. Hatinya sesak. Sudah cukup! Tujuh tahun ia menyimpan perasaan, dan tolong jangan biarkan hati Salsa terkoyak lebih dalam lagi.
Perih sekali, Ya Allah...
***
__ADS_1