Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
tengkar


__ADS_3

"kamu mau apa, Sal?" Dirga bertanya setelah ia turun dari mobil besarnya.


"Loh, apa?" Salsa bingung di tanyai Dirga seperti itu. Pasalnya dirinya tidak menginginkan apa-apa dari Dirga.


"Loh gimana, sih?"


"Mit amit dah kakak nih. Orang dari tadi saya diem aja kok," tukas Salsa.


"Maksud saya, kamu pengen, apa? Pengen makanan atau minuman, atau pengen cinta dari, saya?"


"Dih! Apaan sih kak!"


"Loh, kenapa sih, Sal?"


Entah kenapa mereka berdua malah terlihat bodoh. Haha!


"Apa sih, kak?! Gaje banget sumpah!" Kata Salsa sembari berjalan menuju trotoar pinggir Sungai dan meninggalkan Dirga begitu saja. Saat ini mereka sedang berada di salah satu tempat yang menonjol kota seribu sungai ini. Tepatnya di menara pandang yang di sebelahnya terdapat sungai panjang mengalir ke laut. Tempatnya begitu nyaman. Di pinggiran sungai terdapat beberapa gazebo untuk tempat bersantai. Di tambah pepohonan yang berjejer rapi menambhakan kesan rindang. Salsa berjalan yang di ikuti Dirga setelah pria itu memarkirkan mobilnya sedikit ke pinggir agar tidak menganggu pejalan lain.


"Kok kakak jadi ikut kesini, sih?" Tanya Salsa.


"Loh emangnya saya nggak boleh, kesini?"


"Boleh sih, tapi kenapa?"


"Loh gimana sih, Sal?"


Loh!


Loh!


Gimana to, ini?!


Salsa berhenti berjalan dan menghadang langkah Dirga. Rupanya, perempuan itu sudah cukup mempunyai nyali untuk menghadap Dirga. Matanya yang sipit melotot tajam kearah Dirga yang sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Salsa. Bahkan, ia ingin tertawa karena mata itu malah terlihat begitu sipit. Dirga harus menundukkan kepalanya karena Salsa yang lebih pendek darinya.


"Kamu seriusan menatap tajam, saya?"


"IYA! KAKAK NGGAK TAKUT SAYA TATAP, BEGINI?" tukas Salsa dengan marah. Sedari tadi pembicaranya dengan Dirga tidak mutu sama sekali.


Dirga malah tertawa keras sembari memegangi perutnya.


"LUCU KAH, EMANG?" Pertanyaan itu tentu saja menggunakan nada yang keras. Namun, Dirga masih asik dengan tertawanya.


"Lah gimana enggak lucu kalau matanya sipit terus melotot. Tetep aja sama," kata Dirga setelah tertawa dan kembali tertawa lagi.


"NGEJEK KAH! SIPIT BEGINI KAKAK JUGA SUKA KAN!"


Skakmat!


Ini bukan skakmat untuk Dirga. Namun skakmat untuk Salsa sendiri. Karena ia tidak sengaja mengucapkan kalimat itu. Salsa benar-benar menyesal mengatakan kalimat itu. Jika ia tidak waras, ia akan segera menenggelamkan dirinya ke dasar sungai saat ini juga.

__ADS_1


"Ciyeee, udah mulai berani nih,"


Salsa menghentakkan kakinya kesal. Ia berjalan lebih dulu dan meninggalkan Dirga.


"Saya nggak tau cara pikir wanita itu gimana," kata Dirga sembari tersenyum melihat Salsa yang kesal karenanya. Walaupun ia pernah bersama Ara cukup lama, namun tidak sesering untuk sekedar bertemu.


Dirga tidak menduga jika dirinya akan berjodoh dengan Salsa.


**


Dirga mengajak Salsa untuk berjalan kaki menyusuri sungai itu. Di sekitaran pinggiran sungai itu juga terdapat deretan kuliner khas Banjarmasin. Dirga mengajak Salsa untuk menikmati kuliner itu. Namun, Salsa menolak karena ia sedang berdiet dan tidak memakan makanan berlemak. Namun, Dirga telah menegur Salsa dengan halus. Jika ia harus bersyukur jika di beri fisik yang sehat. Tidak perlu untuk berdiet. Di luaran sana, malah ada yang tidak bisa makan.


Salsa sedikit cemberut. Namun, perkataan Dirga sangat benar. Salsa langsung mengintropeksi dirinya sendiri. Selama ini ia memang kurang bersyukur akan pemberian Allah. Kadang ia juga memilih makanan yang ia tidak suka. Sangat egois dan tidak menghargai makanan. Seharusnya Salsa tidak boleh seperti itu. Itu memang hal sepele. Namun, dengan belajar menghargai hal kecil, kita juga akan terbiasa menghargai hal-hal yang besar dan patut untuk di hargai.


Salsa menyesal dalam hatinya. Banyak manusia di luaran sana tidak bisa makan dan dia malah membuang-buang makanan.


Perempuan itu memejamkan matanya sembari mengucapkan istighfar dalam hatinya.


Dirga melihat wajah Salsa yang damai karena mata yang di pejamkan.


"Ya udah, ayok kita makan," ajak Salsa dengan antusias setelah ia membuka matanya kembali. Saking antusiasnya, ia menggandeng tangan Dirga dan membawanya berjalan menuju deretan kuliner yang ada di sana.


Salsa melihat apa saja yang di jual itu. Di sana banyak jajanan basah yang Salsa sebagian mengerti. Ia mengambil salah satu jajanan basah itu dan menggigitnya dengan menikmati. Ia sudah tidak memikirkan acara dietnya.


"Kakak ngambil sendiri," tukas Salsa sembari mengunyah makanannya. Dirga hanya tertawa melihat respon itu dan langsung mencomot salah satu jajanan seperti Salsa.


Cukup lama mereka menikmati makanan khas Banjarmasin. Cukup banyak pula, hingga perut Salsa rasanya ingin muntah karena kekenyangan. Salsa memutuskan menyudahi karena perutnya sudah tidak cukup untuk menampung makanan lagi.


"Haduh kenyang banget," kata Salsa sembari memegangi perutnya yang keras.


"Jangan mengeluh dong, Sal. Harus bersyukur."


"Alhamdulillah ya Allah. Nikmatmu begitu besar yang Engkau berikan," Salsa mengucapkan syukur dengan suara yang sedikit lantang. Ia terus menggandeng tangan Dirga untuk duduk di salah satu gazebo dekat pinggiran sungai.


"Duduk dulu ya, kak. Saya nggak kuat," kata Salsa sembari mengatur napasnya yang kembang kempis. Baru kali ini ia banyak sekali makan. Salsa sudah tidak memikirkan akibat selanjutnya. Ia hanya mau bersyukur.


"Perasaan kamu makannya banyak banget, Sal. Kamu doyan apa, lapar?" Kata Dirga sembari memperhatikan Salsa yang sepertinya akan tepar.


"Dua dua nya," Salsa menjawab dengan mata terpejam. Entah kenapa sehabis makan seperti ini, rasa kantuknya tiba-tiba datang begitu saja. Jelas tidak mungkin ia tertidur di sini.


"Sal, kamu nggak pengen punya, anak?" Dirga bertanya seperti itu yang membuat Salsa menegakkan duduknya dengan mata yang melotot ke depan.


"Loh kenapa? Kok syok gitu, kayaknya?"


Gimana tidak syok jika spontan Dirga malah bertanya seperti itu. Memang tidak salah Dirga menanyakan hal seperti itu. Namun, tetap saja Salsa syok mendengar kalimat tanyanya.


"Kak nanyanya jangan aneh-aneh,"


"Aneh-aneh gimana, Sal? Dimana letak kesalahan, saya? Coba kamu jelaskan,"

__ADS_1


"Nggak ada yang salah sih, tapi--"


"Tapi gimana, Sal?" Dirga menyela lebih dulu.


"Ah tau ah kak!" Kata Salsa kesal. Perempuan itu bangkit dari duduknya dan berjalan kaki lebih dulu meninggalkan Dirga lagi dan LAGI. Kalian sadar atau tidak jika sikap Salsa akhir-akhir tidak seperti Salsa yang dulu lembut dan tidak suka mengutarakan isi hatinya secara langsung. Namun, Salsa yang sekarang berubah menjadi ibu macan yang berani dengan sifat keceplosannya, Salsa mengungkapkan isi hatinya. Walaupun itu hanya keceplosan semata. Namun, tetap sama saja.


"Sal suka banget jalannya kayak orang lagi latihan paskib," kata Dirga sedikit lantang karena Salsa sudah berjalan lebih dulu.


Salsa memberhentikan langkah kakinya, "TERSERAH!" kata Salsa dengan kesal lalu melanjutkan langkahnya lagi.


Dirga mengamati perempuan itu dengan terkikik. Kemarin dulu, Salsa banyak diam dan tidak banyak membicarakan sesuatu. Namun, akhir-akhir ini, Salsa sering sekali jika berkata dengannya sekarang menggunakan sedikit ototnya. Semenjak kematian almarhum ayahnya, perempuan itu sedikit agak banyak bicara. Yaps! Mungkin karena hal itu yang membuatnya sedikit berubah.


**


"Besok saya mau balik aja ke Jakarta," kata Salsa sembari membuka pintu hotel kamarnya.


"Ya terserah kamu Sal," kata Dirga sembari menutup pintu di belakangnya.


"Kok terserah sih, kak?"


"Loh masa saya kudu bilang jangan pulang dulu. Ntar kalau pulang dulu, kamu bisa kangen," Dirga menjeda kalimatnya, "masa saya harus bilang, begitu?" Lanjutnya yang membuat Salsa merengut menatap Dirga.


Dirga yang melihat tatapan itu spontan saja bertanya pada Salsa, "kenapa? Marah lagi? Saya nggak tau harus memahami wanita dengan cara seperti, apa?" Kata Dirga sembari tersenyum menatap Salsa yang memasang wajah cemberutnya.


Memang begitu adanya. Terkadang wanita memang sulit di mengerti oleh pria. Namun, begitulah juga yang di rasakan oleh wanita. Dan pria juga sulit di mengerti bagi wanita. Ya, namanya juga hidup. Yang mengerti diri sendiri ya hanyalah diri sendiri. Sedekat apapun kamu dengan seseorang, tetap saja yang paham akan dirimu ya dirimu sendiri. Yang merasakan juga dirimu sendiri.


"Tau ah! Ngeselin banget jadi orang!" Tutur Salsa sembari melemparkan ponselnya ke atas ranjangnya.


"Kamu sekarang jadi makin aktif ngomong aja. Kemarin suka banget sama diem."


"Loh emangnya kenapa? Nggak boleh?"


"Kok kamu jadi ngotot gitu, Sal?"


"Enggak!"


"Enggak dari, mananya?"


"Dari Hongkong!" Tukas Salsa kemudian bangkit dari duduknya dan mengambilnya bantal untuk di lemparkan ke Dirga. Tentu saja karena di dunia militer ia di latih untuk spontanitas, dan dengan spontan Dirga menangkap bantal itu dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek Salsa. Salsa semakin kesal dengan Dirga. Ia maju dan hendak mencekik leher Dirga saat ini juga. Namun, Dirga memegangi kedua tangan Salsa dan tertawa. Dirga menilai jika Salsa sudah berubah. Mungkin perempuan itu sedang berusaha bangkit dari rasa terpuruknya karena kematian mendiang ayahnya. Entah lah, Dirga tak tahu pasti. Namun, ia senang melihat Salsa menjadi banyak bicara walaupun sekali bicara galaknya minta ampun. Hihi. Ada perubahan pada Salsa dan Dirga senaaaaaang sekali.


Salsa masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi dengan keras. Hal itu membuat Dirga terkikik karena tingkah Salsa yang menggemaskan.


"LUPA NGGAK BAWA HANDUK LAGI YA!" Dirga berteriak sembari terkikik geli.


Brakkk!


Salsa menggebrak pintu kamar mandi dengan keras yang membuat Dirga malah semakin tertawa.


Satu hal yang menarik, Dirga tertawa. Kapan bisa melihat Dirga tertawa sepuas, itu? Dulu, ketika bersama Ara. Ia tidak pernah tertawa selepas itu.

__ADS_1


To be continued....


Aku habis jadi musafir. Makanya lambat update. Maaf guysss. Happy reading 🤗🤗🤗


__ADS_2