
Salsa memakai jubah operasinya berwarna hijau tua. Setelah itu ia menggunakan masker medis. Salsa memejamkan matanya sekali lagi. Ia sudah berusaha mengumpulkan konsentrasinya. Matanya kembali menatap kesepuluh jarinya yang nantinya akan mengoperasi suaminya sendiri. Iya! Jari-jari lentiknya nanti akan membedah Angkasanya. Salsa tidak menyangka dengan apa yang terjadi saat ini. Sebenarnya, ada apa sebelumnya? Mengapa Dirga bisa mendapat luka tembakan dan tusukan?
Membayangkan hal itu membuat konsentrasi yang di kumpulkan sejak tadi menjadi goyah. Salsa menggeleng.
Lo harus konsen!
Sebelumnya, Salsa juga tidak pernah segugup ini.
Ayo konsen dong Sal. Kondisi suami lo sekarang tergantung jari-jari lentik milik lo! Seenggaknya lo berusaha, dan Allah yang bakalan ngatur semua!
Namun, Salsa tidak akan kuat jika Dirga pergi begitu saja. Bagaimana jika nanti, ia salah mengoperasi? Salsa ingin mundur rasanya.
Sal! Ayo bangun!
Dirga udah nunggu lo datang buat nyelametin dia!
Ayo selametin dia!
Lo bisa!
Demi Angkasa lo!
Sisi baiknya terus berteriak pada Salsa. Agar perempuan itu bangkit dari keresahannya.
Salsa memejamkan matanya lagi dan menghela napas panjangnya. Dengan menyebutkan nama Allah swt. berulang kali Salsa bakalan yakin untuk kali ini.
Semakin meragukan kelemahan kita, sama saja kamu meragukan Allah swt.
Salsa berdiri dengan yakin. Ia berjalan yakin kearah wastafel yang ada di ruangan luar ruang operasi untuk mencuci tangannya terlebih dahulu.
Salsa sudah yakin saat ini!
"Dokter Salsa kok kayak rada gugup. Dokter sakit, ya?" Tanya salah satu perawat yang juga mencuci tangannya di sebelah Salsa.
Salsa menggeleng, "nggak papa kok sus,"
Nggak! Salsa udah yakin!
Dia tidak akan goyah karena pikiran-pikiran negatif yang menghantuinya sekarang. Karena ia yakin pada Allah swt. Salsa hanya perlu berusaha semaksimal mungkin. Dan sisanya, semua Allah yang mengatur. Apapun hasilnya, Salsa harus tetap menerima.
Salsa yakin jika Dirga tidak selemah itu. Salsa juga yakin, jika Dirga tidak akan meninggalkannya begitu saja di dunia ini. Salsa yakin dengan semua itu.
"Yuk masuk dok," ajak perawat itu dengan ramah. Perawat itu yang nantinya akan menjadi asisten Salsa dalam mengoperasi Angkasanya.
Salsa mengangguk. Dan memasuki ruangan operasi yang mencekam. Salsa sedikit ragu. Tapi kemudian dengan keyakinannya, ia mengusir keraguan itu. Dan baru kali ini ia merasakan segugup ini memasuki ruangan operasi. Padahal ruangan ini sudah menjadi hari-harinya.
Salsa memandang beberapa teman-teman medisnya dan berkata, "saya ingin kalian konsentrasi dan melakukan yang terbaik," katanya dengan suara yang yakin. Untung Saja badan separuh Dirga di tutupi oleh kain berwarna biru sehingga ia tidak bisa melihat wajah Dirga di balik kain tersebut. Dengan begitulah, Salsa akan konsentrasi.
Salsa juga di bantu oleh salah satu dokter bedah bedah ortopedi beserta dokter anestesi.
Dokter anestesi sudah memberikan kode pada Salsa jika operasi bisa di mulai.
Salsa menghela napas panjangnya. Ia merapal doa kepada Allah swt. Semoga Allah melancarkan operasinya. Salsa berharap lebih untuk ini.
Salsa mulai konsentrasi dalam mengoperasi. Diikuti semua juga ikut konsentrasi. Saat ini, prioritas mereka adalah pasien yang terbaring lemah di meja operasi.
Dokter ortopedi mulai melakukan disinfeksi pada area yang akan di lakukan sayatan dengan arah dari dalam keluar, alkohol dua kali dan betadine dua kali.
"Scalpel," Salsa mulai meminta peralatan yang utama yaitu pisau bedah pada asistennya. Ruang operasi begitu mencekam. Mereka di tuntut tidak boleh tegang, karena jika tegang konsentrasinya akan buyar. Jadi pikiran harus slow. Ruangan operasi yang dingin itu tidak terasa lagi karena mereka konsen pada pasien. Guna ruang operasi di buat sedingin mungkin supaya mereka tidak menghasilkan keringat yang keluar dari tubuh mereka. Tentu membahayakan pasien jika sampai keringat mereka menetes tepat mengenai bagian tubuh yang di bedah.
__ADS_1
Salsa sudah membedah perut pasiennya, tepat di luka tembak tersebut. Butuh konsentrasi penuh dan pikiran yang slow.
Darah muncrat ke atas seketika mengenai wajah Salsa dan dokter ortopedi yang membantu Salsa. Digital di samping langsung berbunyi cepat, tanda jika ada kesalahan dalam operasi sehingga membuat darahnya muncrat ke atas.
Lo nggak boleh panik Sal!
Tetep konsen!
Tenang!
Allah ada sama lo!
Salsa segera mencari sumber pendarahan tersebut. Ia berhasil menemukannya. Salsa bersyukur karena bisa menghentikan pendarahan tersebut. Namun, tidak menghilangkan suasana yang mencekam di ruang operasi itu.
"Bovie," kata Salsa lagi pada asistennya.
"Pinset,"
Salsa dengan perlahan mencari peluru tersebut. Agar tertutupi peluru tersebut. Namun, Salsa bisa melihatnya. Dengan perlahan ia mengambil peluru yang ukurannya tidak terlalu besar itu menggunakan alat penjepit khusus.
Salsa bisa mengambilnya!
Ia menaruh peluru itu di salah satu wadah. Peluru itu yang membuat suaminya berbaring lemah.
Yang lainnya segera membantu memberikan alkohol pada luka tersebut.
Operasi itu berjalan dengan mencekam. Dimana kesalahan sesekali terjadi. Salsa yang terus berdoa dalam hatinya agar Angkasanya bangun untuk dirinya. Jika Allah mengizinkan, betapa senangnya Salsa.
Salsa tidak mau lagi kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya.
Salsa terus berkonsentrasi dan berusaha semaksimal mungkin. Ia sudah berhasil mengambil peluru yang bersarang di perut Dirga. Sekarang berpindah ke kaki Dirga yang terkena tusukan. Salsa tidak bisa membayangkan, betapa mengerikannya luka yang di dapatkan Dirga.
Kenapa pria itu bisa terluka parah? Apa tugasnya terlalu berat untuk Dirga?
Tiba-tiba suara alat digital pengatur detak jantung berbunyi panjang dan layar monitornya menampilkan garis yang panjang.
Salsa segera menekan penuh dada Dirga untuk mengembalikan detak jantungnya. Sampai Salsa naik ke meja operasi hanya untuk terus memompa jantung Dirga dengan tangan-tangan mungilnya. Salsa terus memompa jantung Dirga dengan kuat walaupun ia terlihat lemah. Hatinya di patahkan oleh pasien di bawahnya ini.
Sudah!
Tamatlah Salsa!
Salsa lemas!
Salsa sudah tidak bisa berkata apa-apa. Napasnya tercekat begitu saja. Matanya sudah berair. Detak jantungnya bergetar hebat. Ruangan operasi yang dingin kini tidak mampu membendung keringat dingin yang keluar dari tubuh Salsa. Salsa lemas.
Air matanya sudah merembes keluar.
Angkasanya!
Ia turun dari meja operasinya untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Kemudian, ia kembali naik ke atas meja untuk mempompa detak jantung Dirga lagi. Walaupun usahanya sia-sia, Salsa akan tetap mempompanya.
"Dokter Salsa sudah," kata dokter ortopedi dengan menahan tangisnya. Pasalnya beliau mengerti jika hubungan Salsa dengan pasien itu adalah suami istri. Memang tidak banyak orang rumah sakit yang mengetahui jika Dirga dan Salsa suami istri.
Dokter ortopedi itu memegang lengan Salsa yang langsung di hempaskan begitu saja oleh Salsa.
"Dokter Salsa," panggilnya lagi dengan suara isak tangis yang di redam dokter ortopedi itu.
"Nggak! Dia masih hidup dok!" Kata Salsa di sela-sela kegiatannya memompa jantung Dirga. Dengan air mata yang terus mengalir, Salsa berusaha terus menerus walaupun hasilnya mustahil.
__ADS_1
Kemudian, dokter ortopedi segera menarik Salsa dan memeluknya. Salsa menangis di pelukan dokter itu.
"Dokter Salsa harus mengumumkan kematiannya," kata asisten yang membantu Salsa mengoperasi tadi.
"Nggak! Dia masih belum meninggal!" Kata Salsa disela-sela tangisnya. Salsa menangis tersedu-sedu hingga tenggorokannya kering. Ini seperti mimpi baginya.
Siapa saja tolong Salsa! Katakan pada Salsa bahwa ia saat ini sedang mimpi buruk.
Ya Allah nggak mungkin!
Dokter bagian anestesi lah yang mengumumkan kematian Dirga. Salsa menggeleng dengan tangisannya.
Perawat lainnya melepaskan alat-alat yang menempel pada tubuh Dirga. Salsa tak kuasa melihat semua hal itu. Air matanya terus merembes keluar. Hatinya retak! Ia kehilangan seseorang yang ia sayangi selama bertahun-tahun.
Sakit! Rasanya sakit!
Hingga Salsa tidak tahan dengan rasa sakit dan sesak yang ada di hatinya.
Salsa ingin memompa jantung Dirga lagi jika dokter ortopedi tidak mencegahnya dan menenangkan Salsa, "istighfar dokter Salsa," katanya dengan tulus. Beliau juga tak kuasa menahan air matanya melihat Salsa di tinggalkan seseorang yang di sayanginya.
Memang di dunia ini siapa yang mau di tinggalkan oleh seseorang yang di sayang?
Salsa menangis terus.
Padahal Angkasanya belum mencicipi masakan nasi goreng Salsa yang ia buat tadi pagi. Angkasanya telah membohongi Salsa. Angkasanya tega pada dirinya! Katanya Angkasa telah mencintainya, tapi kenapa malah meninggalkannya?! Padahal Angkasa belum mengetahui jika Salsa mencintai Angkasa dengan diam-diam.
Angkasa berbohong pada Salsa!
Katanya Angkasa akan pulang subuh tadi. Angkasa berbohong!
Salsa memeluk tubuh bagian atas Dirga. Ia menangis. Seluruh teman-teman medisnya yang melihat Salsa saat ini ikut bersedih.
"Kak Asa jahat! Katanya nggak mau ninggalin Salsa sendirian. Tapi, kak Asa malah pergi jauh! Jahat banget sih!" Kata Salsa dengan tangisannya.
"Bangun kamu kak! Jangan jadi orang pengecut dong!" Kata Salsa lagi dengan tangisannya yang pilu.
Sumpah demi apapun! Kehilangan orang yang kita sayang itu nggak enak!
"Kak Asa ayo bangun! Salsa udah masakin nasi goreng spesial untuk kak Asa. Di makan, ya," katanya begitu miris.
Semua yang ada di ruang operasi, terketuk hatinya ketika mendengar perkataan Salsa yang pilu.
Salsa menangis.
Dokter ortopedi kembali memeluknya erat.
"Sudah jadi garis Allah dokter Salsa. Harus tegar ya," kata dokter itu dengan lembut.
Angkasa pembohong berkelas bagi Salsa!
To be continued...
Huaaaa 😭😭😭😭😭 author sedih banget ngetiknya. Salsa udah sayang banget sama Dirgaa.
Kenapa Dirga tega sama Salsa?
😭😭😭😭😭
Kalau mau protes author bisa di WA yakss.
__ADS_1
Nunggu kelanjutannya ya???
Kasih semangat authornya dong karena sedih banget kehilangan Dirga 😭😭😭😭