
Setelah mengantar Salsa untuk membeli segelas cokelat panas beserta permen cokelat, mereka pulang setelah mereka pulang dari kerjaan mereka.
Salsa turun dari mobil Dirga yang terlihat besar itu kemudian di susul oleh Dirga. Tampaknya cuacanya sedang tidak bagus karena saat ini gerimis mengguyur bumi.
Dengan langkah gontai, Salsa berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dirga mengikutinya dari belakang. Dirga cukup tau suasana Salsa saat ini. Sembari membawakan segelas cokelat panas milik Salsa, Dirga membukakan pintu rumahnya dan kemudian Salsa masuk.
"Nggak baik menatap dengan nyalang gitu, entar kesambet setan," memang kalimat itu terdengar kalimat klasik, namun benar adanya. Dirga menyuruh Salsa mandi untuk segera bersiap-siap melaksanan sholat Magrib. Salsa menurut. Dirga memilih kamar mandi bawah, daripada saling menunggu, Dirga memilih cara alternatifnya.
Tidak lama mereka akhirnya selesai. Salsa sudah menata dua sajadahnya, di depan dan belakang. Kemudian, Salsa memakai mukenanya yang di susul Dirga memakai sarungnya dan baju Koko yang terlihat rapi ketika Dirga memakainya.
Salsa masih diam dalam posisinya.
Kemudian, Dirga memulai sholatnya di ikuti makmumnya di belakang. Mereka khusyuk dalam sholatnya. Dirga memimpin sholat tersebut dengan penuh penghayatan karena menghadap Allah swt. Ia ingin terlihat sempurna di hadapan Allah swt.
Hingga mereka menyelesaikan 3 raka'atnya. Ketika Dirga menoleh ke belakang, Salsa mencium tangan Dirga yang di balas Dirga dengan tangan kiri Dirga menyentuh puncak kepala Salsa yang tertutupi mukena. Kemudian, mencium puncak kepala Salsa dengan lembut. Salsa terharu dengan perlakuan semanis itu.
"Ayo mengaji bersama, supaya otak kamu lebih seger," kata Dirga. Salsa hanya mengangguk menanggapi perkataan Dirga.
"Mau seberapa lama kamu memasang wajah cemberut mu, itu?" tanya Dirga lagi sembari memegang kedua bahu Salsa dengan lembut. Manik matanya menatap manik mata Salsa yang sendu.
Salsa menundukkan kepalanya.
Spontan hal itu membuat kedua tangan kekar Dirga langsung mengangkat wajah Salsa agar menatapnya kembali.
"Kamu terlihat cantik kalau senyum kayak gini," kata Dirga sembari menarik bibir Salsa tersenyum.
"Nah, gini kan cantik. Saya suka liatnya," kata Dirga sembari ikut tersenyum.
Kemudian, Dirga mengajak Salsa untuk mengaji bersama. Rutinitas baru mereka. Rutinitas yang di impikan setiap wanita muslim. Hal terindah yang pernah Salsa lakukan bersama pasangan halalnya.
**
Salsa mendengar ketukan pintu beserta salam. Salsa menjawabnya sebelum membuka pintu tersebut. Siapa gerangan yang bertamu semalam, ini?
__ADS_1
"Rena!" Pekik Salsa terkejut karena melihat Rena yang bertamu semalam ini. Tumben sekali temannya itu bertamu malam.
"Tadaaaaaa!" Kata Rena dengan riang. Tanpa Salsa menyuruhnya masuk, Rena sudah masuk dulu dan duduk di sofa ruang tamu Salsa. Salsa tak heran dengan sikap sahabatnya itu. Kemudian, Rena memeluk Salsa sembari berujar, "Sal gue tau perasaan lo saat ini, gue turut berduka cita," katanya dengan tulus.
Salsa hanya menganggukkan kepalanya.
Tidak lama Rena mengubah topik pembicaraan menjadi topik yang ceria. Karena ia tahu karakter Salsa jika terus menerus sedih jika Rena tidak mengganti topik pembicaraannya.
"Tumben banget lo," kata Salsa menutup pintu dan menyusul Rena duduk.
Rena membawa sekantong plastik berisi camilan yang ia taruh di atas meja.
"Gue tidur sini boleh, nggak?" Kata Rena, "gue lagi nggak mau tidur sendirian di apartemen. Gue benar-benar minta maaf banget karena udah ganggu kalian," kata Rena sembari menautkan kedua tangannya menatap Salsa.
Salsa mengernyitkan dahinya, "kalian?"
Rena menabok dahinya, "ya kalian. Lo sama suami lo lah, Sal!" kata Rena sedikit keras. Salsa hanya ber-oh-ria.
"Ada kamar tamu kan, Sal?"
Rena menggeleng mantap. Ia tahu modus Salsa.
Tak lama Dirga muncul dari ruang tengah, sedikit terkejut melihat Rena bersama Salsa.
"Loh, Rena, ya?" tanya Dirga sembari berjalan menghampiri mereka dan duduk di sebelah Salsa.
"Kak, Rena mau tidur sini, boleh?"
"Boleh kok. Ada kamar tamu di sebelah sana," kata Dirga.
Rena mendengar panggilan Salsa yang unik untuk Dirga. Ia geli sendiri mendengarnya.
"Sal, kok lo manggil suami lo sendiri kakak, sih?" tanyanya to the point. Ya beginilah sifat asli Rena yang ceplas ceplos. Dan nada yang di ucapkan Rena sedikit mengeras. Spontan mendapat cubitan kecil dari Salsa hingga sahabatnya mengaduh kesakitan.
__ADS_1
Dirga yang melihat hal itu hanya tersenyum.
"Seharunya kan lo manggil suami lo make sayang kek, apa baby kek, atau apa yang romantis," Rena semakin menggoda Salsa yang pipinya berubah merah bak kepiting rebus. Gadis itu tentu saja sangat malu saat ini. Tangannya beralih membungkam mulut Rena yang asal nyablak. Mereka mirip sepasang tom and jerry.
"Biasa lah, Ren. Istri saya memang lagi menyesuaikan diri. Jadi, nggak langsung manggilnya make sayang," kata Dirga setelah mereka menyudahi candanya. Namun, Dirga malah membuat semangat Rena tumbuh untuk membully Salsa.
"Sekongkol ya, kalian? Bagus!" Kata Salsa dengan wajah garang yang dibuat-buat. Ia hendak meninggalkan ruang tamu, namun Dirga lebih dulu mencekal pergelangan tangannya sehingga Salsa jatuh tepat di pangkuan Dirga. Rena yang melihat hal itu langsung menutupi matanya dengan kedua tangannya.
"Ya Allah, Rena nggak lihat kok. Mereka romantis banget. Kapan yang jomblo ini bisa se-uwuw, mereka?" kata Rena sembari masih menutup matanya.
Salsa dengan cepat langsung bangkit dan menabok bahu kekar Dirga. Ia memasang wajah cemberut.
Dirga tertawa kemudian bangkit dari duduknya sembari berkata, "ya sudah, saya masuk dulu. Biasanya perempuan bertemu perempuan kan biasanya gosip," canda Dirga yang langsung mendapat hantaman bantal dari Salsa.
"Enak aja. Kita bukan tim penggosip, ya!" Katanya Salsa dengan sewot.
Rena hanya senyam senyum sendiri melihat tingkah laku pasangan baru itu. Ia bisa merasakan betapa bahagianya Salsa karena cintanya terbalas.
Bukan! Lebih tepatnya, Rena tidak tahu jika Salsa semakin terlena dengan perlakuan manis Dirga, semakin pula perempuan itu merasakan rasa bersalah.
"Cie cie udah main halal aja," goda Rena pada Salsa.
"Apa sih?! Jangan rese' deh plisss," kata Salsa dengan memasang wajah cemberut.
Tiba-tiba dering ponsel Salsa berbunyi. Nomor yang tak di kenal menelepon Salsa. Dengan ragu, Salsa menjawab panggilan telepon itu.
Berawalan dari Salsa mengucapkan salam terlebih dahulu.
Spontan Salsa bangun dari duduknya dengan mata yang membulat penuh. Salsa tersenyum lebar. Entah ada apa dengan telepon itu yang membuat Salsa ingin berjingkrak-jingkrak sembari mengucapkan syukur.
Rena yang melihat hal itu spontan ikut berdiri. Penasaran ada apa dengan Salsa. Kenapa sahabatnya sebahagia itu.
To be continued....
__ADS_1
Happy reading. Aku masih up 1 part sehari yaa. Karena ada sedikit ada kendala. 🤗