
Mau tau pendapat kalian soal cerita ini dong. 🥰🙏🏾
...
...
...
"Saya ingin kamu mendukung saya untuk menjadi imam yang terbaik bagi kamu,"
Deg!
Salsa terpaku mendengar perkataan Dirga. Tiba-tiba tubuhnya membeku begitu saja. Detak jantungnya berpacu cepat. Tatapannya nyalang menatap kedua tangannya yang di genggam rapat. Seolah-olah mencari kekuatan.
Entah kenapa Salsa malah tidak menyukai situasi seperti ini. Situasi yang membawa dirinya dalam hal yang sulit.
"Saya berharap ke kamu, Sal," kata itu memang terdengar tulus dari mulut Dirga.
Salsa masih membeku pada posisinya. Pikirannya belum bisa berpikir jernih. Otaknya masih berputar-putar. Antara rasa senang sekali bercampur takut dan malu. Rasa itu menjadi gado-gado yang siap di makan.
Senang karena ia mendapatkan kalimat manis itu dari sesosok lelaki yang di sukainya sejak dulu. Takut karena rasa bersalah itu terus datang membelenggunya dan membawanya ke perasaan yang takut. Malu karena ia sekarang membawa perasaannya.
"Ini memang terlalu cepat untuk kamu beradaptasi dengan saya. Bagaimanapun juga, kamu pasti memiliki seorang lelaki yang kamu sukai," Dirga mengatakan kalimat itu dengan pelan tapi pasti. Menatap Salsa yang sedang menundukkan kepalanya sembari memainkan kuku-kuku tangannya.
Itu kamu, Kak! Kak Angkasa Dirgantara yang aku sukai sampai sekarang...batin Salsa berkata dengan sangat miris.
Ingin sekali Salsa menangis ketika mendengar kalimat yang tulus dari mulut Dirga. Namun, ia masih belum berani membuka hatinya untuk Dirga walaupun Salsa sudah mengubah rasa menyukai menjadi mencintai lelaki itu. Ia takut. Ia terlalu takut untuk membuka hatinya. Lebih tepatnya, ia masih belum siap membuka hatinya untuk Dirga. Salsa tahu jika ini salah. Ia tidak bisa berperan sebagai istri sungguhan.
Setelah beberapa saat mengumpulkan nyali untuk mendongakkan kepalanya ke samping untuk menatap Dirga, akhirnya gadis itu angkat bicara, "Maaf kak. Salsa belum bisa menjadi istri yang baik untuk Kak Angkasa," kata Salsa sembari memberanikan dirinya menatap kedua manik mata elang milik Dirga.
Dirga hanya tersenyum sembari tangannya terulur untuk mengelus kepala Salsa dengan lembut. Hal itu membuat jantung Salsa semakin berdetak kencang karena tangan hangat milik Dirga mengelus puncak kepalanya dengan sayang.
"Saya hargai setiap keputusan kamu, Sal. Saya akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu. Dan saya nggak bakal sentuh kamu, kalau kamu tidak mengizinkannya," kata Dirga yang membuat Salsa meleleh dalam hatinya. Namun, sekali lagi Salsa tegaskan jika Salsa akan tetap enggan membuka hatinya sampai dirinya benar-benar siap dengan semuanya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan dari perut Salsa. Lagi dan LAGI Salsa di buat malu oleh keadaan. Salsa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Malu! Salsa malu!
"Ada yang bunyi tapi bukan musik," sindir Dirga sembari tertawa melihat Salsa yang menggemaskan.
Perutnya tidak bisa di ajak kompromi!
"Eh Sal, tadi kamu manggil saya memakai sebutan Angkasa. Sejak kapan?"
Salsa sudah melepaskan tangannya.
"Sejak tadi," kata Salsa sembari berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan.
"Mau makan, dimana? Saya ada langganan nasi pecel enak di daerah sekitar sini. Mau, nggak?" tawar Dirga sembari menjalankan mobilnya keluar area parkiran.
"Makan di rumah aja,"
Dirga menyetujuinya. Untuk mengusir keheningan yang ada, Dirga menyetel musik John Legend. Salsa agak kaget soal selera musik Dirga, biasanya laki-laki seumuran Dirga ia kira menyukai musik seperti Abiet G. Ade.
Sepanjangan jalan mereka memilih untuk diam. Mereka hanya di temani oleh musik John Legend dan suara hujan yang tidak begitu deras.
Hingga mereka sampai di pekarangan rumah mereka. Dirga ingin membantu Salsa untuk turun dari mobilnya, namun Salsa menolak ingin berjalan sendiri.
"Kamu mau makan, apa?" tawar Dirga sembari menaruh kunci mobilnya pada tempat gantungan kunci bersamaan kunci lainnya.
Salsa sudah berhasil mendudukkan badannya di meja makan. Perempuan itu terlihat pucat.
"Saya aja yang memasak," kata Salsa lemas.
"Bagaimana saya mau mengizinkan kamu memasak sendiri kalau nada bicaramu saja lemas sekali," kata Dirga sembari mengambil alat penggorengan. Memang benar jika Salsa masih terlihat lemas.
"Biar saya yang masak. Gini-gini saya jago kalau soal memasak. Kamu cukup diam dan memperhatikan saya memasak saja," kata Dirga lagi.
Ingin sekali Salsa tersenyum senang ketika mendengar kalimat manis itu. Namun, ia tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Dirga menyodorkan sebuah teh hangat untuk Salsa sembari berkata, "kata dokter, kamu punya trauma sama benda tajam. Sejak, kapan? Bunda kamu tau masalah, ini?"
Tanya Dirga tiba-tiba.
Salsa hanya menggeleng.
"Gelengan kepala untuk menjawab pertanyaan saya yang mana, nih? Geleng nggak mau cerita, atau geleng bunda nggak tau masalah, ini?" Tanya Dirga sembari memotong-motong bumbu untuk memasak. Pilihan Dirga jatuh pada menu sup ayam. Karena tampaknya, istrinya pagi tadi ingin memasak sup ayam.
"Bunda nggak, tau,"
Dirga berhenti memotong dan menatap Salsa.
"Seharusnya bunda tau. Sejak lama kamu memiliki trauma benda tajam?"
"Semenjak pulang dari Palestina,"
Pikiran Dirga langsung kembali ketika ia masih menjadi relawan di Palestina. Tidak heran jika pulang dari sana, akan mempunyai trauma seperti Salsa. Mereka melanjutkan obrolan yang ringan karena Dirga tidak mau membahas topik itu. Karena topiknya sensitif untuk Salsa. Sembari memasak sup ikan, Dirga mengajak mengobrol dengan Salsa agar suasana tidak hening. Sampai sup yang di masak oleh Dirga sudah matang. Dirga menaruh sup nya pada mangkok cantik ukuran standard dan di sodorkan untuk Salsa. Tak lupa ia juga mengambil untuk dirinya. Tak hanya itu, Dirga menaruh obat dan segelas air putih di meja.
"Habisin sup ayam saya, ini saya bikin perdana untuk kamu. Setelah itu, saya akan memastikan kamu untuk minum obatnya," kata Dirga sembari duduk di kursi depan Salsa. Salsa tidak banyak bicara, karena di dekat Dirga ia bisa berubah menjadi patung seketika. Tak dapat di pungkiri jika perempuan itu senang mendapat perlakuan manis dari Dirga. Namun, di saat yang bersamaan, rasa bersalah terus menerus menghantui dirinya.
Namun, Salsa berubah menjadi beku dan Dirga akan menjadi matahari untuk Salsa dan melelehkan setiap gumpalan es batu yang menutupi tubuh Salsa. Walaupun itu di butuhkan waktu yang begitu cukup lama untuk melelehkan bongkahan es batu tersebut, Dirga mengerti karena semua itu tidak instan.
Dirga memakan sup buatannya.
"Gimana? Enakkan sup buatan saya," katanya setelah menelan sup nya.
Salsa hanya menganggukkan kepalanya. Nafsu makannya jadi sedikit menghilang. Dirga melihat hal itu langsung menegur Salsa dengan lembut, "di habisin. Saya bikinin supaya kamu cepat membaik kondisinya,"
Entah kenapa Dirga menjadi sesosok orang mendadak cerewet.
"Saya cerewet demi kebaikan kamu," katanya lagi. Yang membuat Salsa semakin terperosok dalam kalimat manis Dirga. Namun, Salsa berusaha menahannya.
Lama-lama makanan itu tidak bisa di telan oleh Salsa!
__ADS_1
To be continued...