
Sepatu hitam yang sampai di bawah lutut itu sedang menapakkan jejaknya menuju deretan kamar yang ia tuju. Langkah kakinya terdengar jelas bersentuhan dengan lantai yang dingin. Pria itu memegang sebuah kunci. Mata elangnya tertuju pada sebuah pintu yang akan di buka dengan kunci yang ia bawa sendiri.
Ceklek!
Pintu berhasil terbuka. Pria itu melihat seorang perempuan mungil yang masih bergelut manja dengan selimut tebal yang ia kenakan. Di atas ranjang yang hangat, perempuan itu masih menikmati tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 subuh.
Langkah kaki besar itu menuju ke ranjang. Karena badannya yang terlalu tinggi, pria itu harus membungkuk supaya lebih dekat dengan perempuan yang masih bergelung manis di dalam selimut. Terlihat menggemaskan bagi Dirga.
Dirga mengawasi setiap jengkal wajah Salsa yang tertidur dengan pulasnya. Matanya yang sipit tertutup sempurna. Bibirnya mungil merah muda. Jemari Dirga menyentu bibir mungil Salsa. Perempuan di depannya ini sudah halal miliknya.
Dirga teringat ketika ia mencium bibir mungil Salsa tadi malam. Dirga bukannya tidak sengaja melakukan hal itu, justru ia sengaja. Karena ia sudah menjatuhkan hatinya untuk Salsa. Ya! Untuk Salsa. Dulu, awal pernikahannya, ia tidak berani menyentuh Salsa karena separuh hatinya masih milik Ara. Namun, seolah berjalannya waktu, Dirga sudah menetapkan jika ia akan menjadi milik Salsa seutuhnya. Itu terdengar berlebihan, namun Dirga menyukainya. Dirga menilai Salsa jika perempuan yang saat ini menjadi istrinya, belum sepenuhnya menjatuhkan hati pada dirinya.
Belum sepenuhnya?
Wajah Dirga bergerak maju agar lebih dekat dengan Salsa. Pria itu mengelus pipi Salsa yang lembut. Dan kemudian, ia mencium kening Salsa. Cukup lama. Bahkan lama sehingga membuat empunya bangun dari tidur cantiknya. Mata sipit itu membuka secara perlahan sembari berusaha mengumpulkan nyawanya.
Dirga tersenyum manis menatap Salsa dengan tangannya yang masih mengelus pipi Salsa dengan lembut. Dirga melihat kedua pipi perempuan di depannya saat ini mulai memerah bak kepiting rebus.
Sedangkan Salsa, perempuan itu menikmati jemari Dirga yang mengelus pipinya dengan lembut karena pikiran Salsa masih setengah di alam sadar. Baginya, ini seperti mimpi hingga Salsa tidak mau bangun dari mimpinya.
"Bangun, waktunya sholat subuh," kata Dirga pelan dengan lembut.
Salsa semakin tersenyum dan mengangkat tangannya untuk membalas mengelus pipi Dirga, "mimpi ku indah banget sih, Ya Allah," kata Salsa yang masih tersenyum menatap Dirga. Perempuan itu belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
Dirga yang mendengarkan kalimat Salsa itu semakin tersenyum manis.
"Jangan bangunin Salsa ya Allah. Mimpi Salsa indah banget ini," kata Salsa lagi.
Dirga bangkit dari berlututnya sembari mencium sekilas bibir Salsa dengan cepat! Cepat sekali sehingga lima detik mungkin tidak ada.
Dari situ, Salsa sepenuhnya sadar dari tidurnya!
Ia langsung meraba bibinya sendiri. Langsung saja, ia menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah karena Dirga. Ternyata, ia tidak mimpi. Pantas saja, mimpi itu terlihat begitu nyata di depan Salsa. Itu Angkasa Dirgantara versi nyata! Bukan mimpi!
__ADS_1
Dirga yang melihat hal itu langsung tertawa pelan.
"Ngapain make acara sembunyi di dalam, selimut? Emang ngefek ya, Sal?" Kata Dirga sembari menggoda Salsa yang sudah malu karena dirinya.
"Kak Angkasa kenapa sih kesininya nggak bilang-bilang!" Kata Salsa di balik selimut yang ia kenakan.
"Loh bukannya saya sudah bilang ya tadi, malam? Apa kamu yang nggak, konsen?" Kata Dirga sembari tersenyum jahil menatap selimut yang bergerak-gerak.
"Saya kan jadi malu!" Kata Salsa lagi.
"Kenapa malu sama, saya? Saya kan pasangan halal kamu," kata Dirga mendekat, kemudian duduk di pinggir ranjang. Ia berusaha menarik selimut Salsa, namun Salsa dengan teguh, ia memeganginya supaya Dirga tidak menarik selimutnya.
"Kak jangan gitu dong! Salsa jadi malu ini!" Sergah Salsa yang jengkel dan memilih membuang selimutnya dan menatap tajam Dirga. Dirga malah tidak merasa terintimidasi sama sekali.
Salsa langsung bangkit dari tempat tidurnya, dan berlari menuju kamar mandinya. Dirga hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Tiba-tiba kepala Salsa muncul dari balik pintu kamar mandi dan memanggilnya namanya.
"Kenapa, Sal? Mau ngajakin saya, mandi?" Goda Dirga yang membuat Salsa melemparkan gayung yang ada di kamar mandi tepat mengenai Dirga, namun tentu saja Dirga dengan mudahnya menangkap gayung tersebut.
"Ambilin saya handuk!" Tukasnya pada Dirga. Perempuan itu benar-benar jengkel dengan Dirga yang ternyata bobrok nya tidak ketulungan! Dulu, sebelum ia menikah dengan Dirga, ia menilai jika Dirga adalah seseorang yang mempunyai kepribadian yang otoriter dan diktator. Namun, kini Salsa tahu sikap bobroknya!
Dirga tertawa.
Setelahnya, Dirga menggelar dua sajadah untuknya dan Salsa sembari menunggu Salsa selesai mandi.
Tidak sampai kurang lima belas menit, Salsa keluar. Ia segera menyusul Dirga untuk menjadi makmumnya.
***
Salsa turun dari mobil, dan langsung berjalan mencari teman-temannya. Tak lupa, ia berpamitan pada Dirga dan Dirga mencium kening Salsa cepat. Hal itu akan menjadi kebiasaan baru yang di sukai oleh Dirga.
"Dokter Salsa," panggil seseorang dari belakang yang membuat Salsa menoleh.
"Eh iya, dok?"
__ADS_1
Ternyata, dokter Randy yang memanggilnya. Entah perasaan Salsa atau tidak, akhir-akhir ini, dokter Randy sering bersamanya.
"Dokter Salsa tadi malam tidur, dimana?"
Salsa gugup. "Saya tidur di penginapan," kata Salsa seadanya.
Saat ini mereka berjalan menuju posko pengungsian. Sembari mengobrol sedikit. Dokter Randy menawarkan sarapan bersama, namun Salsa menolak dengan halus. Masalahnya, ia juga sudah sarapan dengan Dirga yang memesan makanan online tadi.
Salsa segera membantu relawan lain untuk mengambil beberapa kardus yang berisi bantuan dari orang-orang yang tidak terkena musibah. Salsa juga sangat bersyukur karena bantuan dan donasi begitu banyak. Selain membantu mengambil kardus, Salsa juga membagikan beberapa vitamin kepada orang-orang yang ada di posko. Mereka juga membutuhkan asupan gizi yang cukup agar badannya tidak drop di kondisi yang seperti ini. Biasanya penyakit akan mudah menyerang, maka dari itu, Salsa dan tenaga medis lainnya juga ikut menjaga kesehatan.
Banjir juga belum reda, apalagi saat ini hujan bertambah deras. Salsa begitu miris ketika mengingat saudara-saudara kita yang masih terjebak banjir di pelosok desa-desa yang belum di temukan oleh beberapa tim basarnas. Semoga Allah swt. selalu melindungi mereka semua.
Salsa begitu salut dengan korban banjir. Karena dengan situasi yang seperti ini, mereka masih mengingat Tuhannya. Masih ingin menjalankan ibadahnya kepada Tuhannya.
Banjir ini termasuk banjir paling parah karena hampir sembilan kabupaten terendam air. Tak terduga berapa kerugian yang di akibatkan oleh banjir tersebut. Banyak jalan provinsi yang putus karena terlalu besar volume banjir tersebut.
Waktu terus berjalan, ini sudah siang dan Salsa ingin istirahat sebentar. Dirinya juga harus menjaga kesehatannya seperti apa yang Dirga katakan kepadanya.
Salsa duduk di salah satu ruangan untuk makan para relawan. Salsa membuka ponselnya. Entah apa yang dilihatnya.
"Assalamu'alaykum, dokter Salsa," pemilik suara bariton itu dokter Randy.
"Wa'alaykumsalam, dok."
Dokter Randy menyodorkan sebuah permen cokelat untuk Salsa sembari mengatakan, "katanya dokter Salsa suka permen cokelat, ya?," Salsa hanya mengangguk kepalanya sembari tersenyum.
"Ekhem!" Salsa menoleh ke samping untuk melihat seseorang yang berdehem itu. Seseorang yang lewat begitu saja mengenakan seragam loreng yang melekat pas di tubuhnya. Dan orang itu hilang di balik pintu keluar. Salsa gelagapan yang membuat dokter Randy bingung.
"Nggak papa kok dok. Cokelat saya bawa, ya?" Kata Salsa sembari berdiri dan pamitan pada dokter Randy dengan embel-embel alasan ia akan membantu relawan lain. Dokter Randy tentu saja percaya dengan hal itu.
Ketika tubuh mungil Salsa hilang di balik pintu keluar, dokter Randy tersenyum manis melihat Salsa yang terburu-buru keluar ruangan.
Ada yang, cemburu?
__ADS_1
To be continued....
Maaf kemarin nggak update karena aku lagi badmood banget guyss sekali lagi maaf yaaa.