
Dirga baru saja keluar dari kamar mandi. Setelah 15 menit ia melakukan ritual mandinya, Dirga sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Pria itu duduk di bibir ranjang. Ia menggunakan kaos polo berwarna hitam. Entah kenapa jika laki-laki memakai kaos hitam pesonanya bertambah.
Setelah selesai, Dirga hendak mengambil bolpoin hitamnya yang ia taruh di laci meja nakas dekat tempat tidurnya. Namun, bolpoin hitam itu tidak ada. Dirga mencari ke laci di bawahnya namun, ia juga tidak menemukan. Dirga mencoba mencari ke laci yang lain. Karena bolpoin hitam itu bukan hanya sekedar untuk menulis saja. Karena di dalam bolpoin itu ada sebuah rekaman yang penting bagi Dirga.
Di laci kecil paling bawah, Dirga menemukan beberapa kertas putih yang berserakan. Ia berniat untuk membersihkannya karena itu terlalu berantakan. Namun, di atas kertas sobekan itu ia melihat tulisan yang begitu familier.
"Kak?" Tiba-tiba Salsa memanggilnya dari luar. Cepat-cepat Dirga mengembalikan ke asal kertas itu. Ia kembali duduk di atas tempat tidur dengan santai. Kemudian ia melihat Salsa berjalan masuk sembari membawakan secangkir kopi untuknya. Mulut Dirga tersenyum manis.
Dirga memperhatikan Salsa berjalan.
"Kopinya di minum," kata Salsa sembari menaruh kopi Dirga di atas nakas. Salsa tersenyum setelahnya dan duduk di sebelah Dirga.
"Makasih banyak ya, Sal," kata Dirga dengan senyuman menghadap Salsa.
Salsa menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba, perutnya mulas ingin muntah. Perempuan itu langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar mandi. Dirga yang melihat hal itu spontan saja langsung menyusul Salsa ke dalam kamar mandi. Ia memijit pelan tengkuk Salsa.
"Kamu masuk angin, ya?" Kata Dirga dengan khawatir.
"Enggak kok," kata Salsa dengan pelan.
Salsa berjalan ke tempat tidurnya karena kepalanya terlalu pusing untuk sekedar duduk aja. Untung saja ini hari liburnya bekerja. Jadi Salsa santai untuk hari ini.
"Kamu yakin nggak, papa?"
"Iya yakin,"
Dirga mendengar bunyi ponsel Salsa berbunyi, "hp nya bunyi,"
"Biar aja," kata Salsa sembari memposisikan dirinya untuk tidur dengan nyaman.
"Siapa tau penting,"
"Ya udah bawa sini," kata Salsa lagi sembari menerima ponselnya yang di sodorkan oleh Dirga.
__ADS_1
Salsa membaca pesan tersebut. Ternyata pesan itu dari dokter Randy. Salsa malas membalas pesan itu. Dan kemudian, ia menaruh begitu saja di sebelahnya yang membuat penasaran Dirga.
"Kenapa?"
"Siapa?" Tanya Dirga lagi.
"Dokter Randy," kata Salsa dengan memejamkan matanya.
"Ngapain?"
"Nggak tau," kata Salsa masih dengan mata yang sudah terpejam. Entah kenapa perempuan itu jadi sering mengantuk di pagi hari seperti ini.
"Kok nggak tau?" Tanya Dirga lagi sembari duduk di bibir ranjang dekat Salsa. Tentu saja Dirga penasaran dengan isi pesan tersebut hingga membuat Salsa malas medengannya.
"Kak!" seru Salsa dengan mata terpejam. Rasa kantuk yang hebat telah menghampirinya. Kepalanya juga pusing karena Dirga sangat ribut.
Dirga mendekat Salsa yang matanya sudah terpejam. Pria itu tersenyum manis menatap Salsa yang tidur seperti bayi. Dirga mendekatkan lagi wajahnya dengan Salsa hingga hidung mancungnya bisa menyentuh hidung Salsa. Pria itu tersenyum.
Tangan Dirga menggelitik Salsa di pinggangnya hingga membuat kedua mata Salsa terbuka lebar dan menatap tajam manik mata Dirga. Salsa menghembuskan napasnya dengan kasar. Tatapannya seolah-olah ingin memakan Dirga saat ini juga.
"Kakak!" Serunya dengan kesal. Namun, Dirga malah menjulurkan lidahnya untuk menggoda Salsa.
"Aku ngantuk jangan di ganggu!" Kata Salsa dengan kesal.
"Siapa yang ganggu kamu. Saya aja diem aja kok dari tadi," katanya sembari menahan tawanya.
Salsa merengut kesal dan langsung bergeser posisi dan membalikkan badannya karena enggan menatap Dirga. Salsa juga menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya.
"Sal?"
"Salsa?"
Namun, tak kunjung ada respon dari cewek itu hingga membuat Dirga semakin terkikik geli. Sejak kapan Dirga menjadi orang jahil seperti ini.
__ADS_1
"Ciyee, ada yang ngambek nih,"
Angkasa Dirgantara, cowok itu sangat menyayangi perempuan yang ada di depannya saat ini. Perempuan yang sekarang menjadi teman hidupnya. Allah sengaja mempertemukan dirinya dengan Salsa. Namun, Dirga takut menjadi duri untuk Salsa. Ia tidak mau menyakiti Salsa. Baginya, perempuan adalah makhluk lemah yang harus di lindungi.
Dirga mendekat dan memeluk Salsa dari belakang dengan posisi tidurnya. Tangannya memaksa kepala Salsa untuk menjadi bantal kepala perempuan.
"Sal?"
"Saya mau bicara serius dengan kamu," kata Dirga.
Sedangkan Salsa hanya diam dengan mata terbuka. Mungkin sepengetahuan Dirga, Salsa telah memejamkan matanya.
"Saya takut jadi duri buat kamu,"
Deg!
Salsa diam. Ia bingung dengan apa yang di katakan oleh Dirga itu?
"Kayaknya kamu udah tidur deh," kata Dirga sembari mengelus puncak kepala Salsa dengan sayang sembari mengecup kepalanya sesekali untuk menghirup aroma Salsa yang menenangkan bagi Dirga.
"Ya udah saya cerita aja, siapa tau cerita saya hadir di dalam mimpimu tidur ini," Dirga menjeda kalimatnya, "Allah itu menciptakan manusia itu berpasangan-pasangan, ya? Seandainya saya udah duluan, kamu harus nyari pengganti saya," lanjut Dirga yang membuat Salsa ingin menitikkan air matanya. Apa yang di bicarakan oleh Dirga itu. Kenapa suaminya berkata seperti itu. Ada apa? Salsa menahan air matanya supaya tidak keluar.
"Kamu tau sendiri ya, kalo saya pengabdi negara. Saya takut jadi duri bagi kamu. Jikalau memang saya sudah tidak ada, saya akan mendoakan kamu supaya mendapat imam yang lebih baik dari saya,"
Nggak mau kak! Salsa cuma mau kakak aja!
Dirga terus mengelus puncak kepala Salsa dengan sayang.
"Karena kita nggak tau kapan maut akan menjemput,"
"Saya mencintai kamu tulus dari hati saya yang paling dalam. Ini juga bukan gombalan atau bualan saya, Sal. Saya menyampaikan hal ini karena memang benar saya mencintai kamu. Saya juga bukan buaya kok. Tenang aja. Saya mencintai kamu karena Allah," kata Dirga sembari mengecup lama kepala Salsa. Hal itu membuat Salsa menangis dalam diamnya.
To be continued....
__ADS_1