
...Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allah maka ia pun berhilir hanya kepada Allah. ...
...-Angkasa Dirgantara...
...***...
Salsa menghela napas panjangnya setelah ia selesai membersihkan rumahnya yang besar ini karena jam dinasnya juga libur. Hatinya sedang bahagia karena ibunya sudah mulai sangat membaik. Tidak sia-sia ia setiap di seperti malam meminta kepada Allah untuk memulihkan keadaan bundanya pasca trauma. Salsa bersenandung ria sembari meletakkan sapu yang ia gunakan tadi. Perempuan itu sudah berkelimpahan keringat yang membasahi badannya. Ternyata, membersihkan rumah sebesar ini sangat lelah.
Salsa melirik jam yang tergantung manis di dindingnya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Pantas saja ia merasa lelah sekali, karena sudah sedari pagi tadi ia membersihkan rumahnya. Dan sebentar lagi, Dirga akan pulang dari jam dinasnya. Ia akan bersiap-siap mandi dan memasak untuk suaminya nanti. Tenang saja, Salsa sudah membuang jauh sikap egosinya sendiri. Karena sudah menjadi tugas Salsa untuk melayani suaminya sendiri. Jika tidak, ia akan malah tambah berdosa karena tidak menjalankan kewajibannya.
Salsa masuk ke dalam kamar dan membuka laci meja di dekat kamar tidurnya. Ia membuka laci paling bawah dan menemukan kertas-kertas putih. Kertas itu sudah tersimpan tujuh tahun lamanya hingga sudah lusuh. Salsa berniat untuk membuangnya, karena ia takut di ketahui oleh Dirga.
Ia meraup beberapa kertas itu untuk di buang ke tempat sampah yang ada di kamarnya.
"Buang apa, kamu?" tiba-tiba terdengar suara bariton yang megagetkan Salsa yang hendak membuang kertas tersebut.
Salsa gugup. Namun dengan kegugupan itu, dengan mudahnya Dirga mengambil kerta itu yang ada di genggaman Salsa. Dirga melihat jika beberapa kertas sobekan yang bertulisan huruf arab. Dirga belum memastikan bacaan apa yang terdapat di kertas tersebut.
"Suka banget mainan kertas," katanya dengan santai sembari memastikan tulisan apa yang ada di kertas tersebut. Salsa berusaha merebut kertas itu yang semakin membuat Dirga menjadi penasaran.
"Tulisannya, apa? Jangan-jangan surat cinta, ya?" kata Dirga.
"Enggak mas," tukas Salsa tanpa sadar sehingga membuat Dirga terpana karena panggilan itu.
"Kamu manggil saya, mas? Seriusan? Tolong ulangin sekali lagi," pintanya namun Salsa menggeleng sembari masih merebut kertas tersebut dari Dirga. Namun mustahil karena Dirga lebih tinggi darinya.
"Kak balikin!" serunya lagi.
"Enggak! Saya pengen baca dulu apa isinya,"
"Jangan. Salsa mohon," katanya dengan melas.
Dirga membaca isi kertas itu dan sedangkan Salsa menutup wajahnya yang sudah memerah karena menahan malu. Perempuan itu mundur dan langsung membanting dirinya ke kasurnya sembari menutupi kepalanya dengan bantal.
"Plisss kak, diem ya. Jangan bikin aku makin malu," katanya yang masih di dalam bantal dan tidak di gubris oleh Dirga.
__ADS_1
Namun, Dirga sudah membaca tulisan huruf arab itu. Namanya. Persis sekali dengan kertas yang Dirga punya selama ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Dirga terkejut mengetahui hal itu. Ternyata? Salsa adalah pemilik tulisan arab yang cantik itu. Dirga berhenti sejenak untuk berpikir karena ia sudah tidak habis pikir jika Salsa menyukainya sejak ia masih duduk bangku SMA. Selama, itu? Tujuh tahun, lamanya? Dan cewek itu menyimpan perasaannya dengan, baik? Tanpa satu pun ada orang yang mengerti perasaan Salsa. Dan selama ia bersama Ara, Salsa juga masih tetap mencintainya.
Sekarang, Allah juga telah menjawab doa-doanya dan ia pertemukan dengan seseorang yang selama ini ia cari. Allah menemukan mereka di status mereka yang sudah sah dalam perkawinan. Kuasa Allah memang besar. Sekali lagi, Dirga tidak menyangka dengan Salsa yang menyukainya selama itu.
"Sal," panggil Dirga pelan.
Salsa bangkit dari tempat tidurnya dan menatap Dirga, namun bukannya mengatakan sesuatu. Ia malah bersenandung dengan keras karea perempuan itu begitu malu saat ini. Ya sudah lah. Nasi sudah menjadi bubur. Apa boleh buat. Dirga sudah membacanya.
"Lalaalalalalalalalalalala ... " Salsa bersenandung dengan keras sembari menutup kedua telinganya.
"Aduh kok banyak suara nyamuk sih," katanya dengan keras. Hal itu malah membuat Dirga menjadi tertawa. Kenapa Salsa semenggemaskan, itu?
Salsa bangkit dari duduknya lalu perlahan mendekat ke pintu keluar sembari mengoceh tanpa henti. Berharap dengan cara seperti itu, Dirga tidak akan berbicara padanya mengenai kertas itu.
"Wah kayaknya harus ambil baygon nih," katanya lagi yang membuat Dirga tidak tahan lagi melihatnya.
Setelah berhasil membuka pintu kamarnya, Salsa langsung berlari. Dirga yang melihat hal itu langsung mengejarnya. Pria itu masih menggunakan seragamnya berlari ke lantai bawah lagi untuk mengejar Salsa.
"SALSA!" teriak Dirga yang berlari menuruni anak tangga, "AWAS JATUH KAMU," tambahnya lagi.
"Salsa! Saya cuma pengen berterima kasih sama kamu," kata Dirga yang masih sibuk untuk menangkap Salsa.
"ADUH BAYGONNYA KEMANA, SIH? BUNDA LIAT SEMPROTAN PEMBUNUH SERANGGA, NGGAK? SOALNYA BANYAK NYAMUK NIH," teriak Salsa sembari mengindari Dirga yang terus mengejarnya.
"TOLONG BUNDA, SALSA DI KEJAR SAMA GENDERUWO," teriaknya lagi sembari tertawa. Perempuan itu langsung berlari ke arah taman belakang.
"istri durhaka kamu Salsa karena sudah ngomongin saya setan," kata Dirga seraya tertawa.
"Salsa kan bilangnya genderuwo bukan setan," ejek Salsa.
"Sama saja, kan?"
"Beda lah kak," katanya sewot. Perempuan itu sudah mulai ngos-ngosan karena berlari, "udah. Nyerah!" katanya sembari angkat tangan pada Dirga. Hal itu langsung digunakan Dirga untuk menangkap Salsa dengan mudah. Pria itu memeluknya dengan erat sembari mengucapkan, "terima kasih,"
Napas Salsa sudah tidak beraturan di dalam pelukan dada Dirga yang nyaman. Salsa mengencangkan pelukannya pada Dirga. Sedangkan Dirga mengelus punggung kecil Salsa dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu dulu atlet marathon, ya?" kata Dirga.
Salsa menggeleng di dalam pelukan Dirga. Mereka saling pandang sejenak. Dirga bisa melihat jika perempuan di depannya sedang kelelahan.
"Kamu habis, ngapain?"
"Bersih-bersih rumah. Nanti pijitin ya. Biasanya kan tenaganya tentara lebih kuat. Mau nyewa tukang pijit sayang sama duitnya. Kan Salsa sudah punya tukang pijit sendiri sekarang," katanya tanpa malu-malu lagi.
"Jadi saya tukang pijit, kamu?"
"Iya lah, kak," katanya. Namun, tiba-tiba perutnya merasa mual. Ia mencengkram erat bahu Dirga.
"Kamu, kenapa?" Sudah dua kali Dirga tahu jika Salsa mengalami hal seperti ini.
"Masuk angin aja kayaknya."
"Mau ke rumah sakit?" tawar Dirga dengan khawatir. Namun, Salsa menggeleng mantap.
"Gendong aja sampek kamar," kata Salsa dengan manja. Entah kenapa, sikap perempuan itu akhir-akhir ini ingin sekali manja dengan Dirga. Dan tanpa rasa malu-malunya lagi, ia dengan terang-terangan mengatakan keinginannya pada Dirga tanpa hambatan rasa bersalah yang dulu menyelimuti dirinya.
Dan Dirga sebenarnya juga heran dengan sikap Salsa yang berubah 180 derajat. Perempuan itu yang terlihat pendiam dan kalem, sekarang menjadi aktif berbicara. Bahkan melawak. Seperti saat ini, Salsa meminta Dirga untuk menggendongnya sampai kamarnya. Dan sepertinya, mood istrinya sedang sangat membaik. Apa mungkin karena bertambahnya waktu, cinta berjalan semestinya.
Dan ternyata, Salsa mencintainya. Hal itu membuat Dirga menjadi senang sekaligus merasa bersalah dengan Salsa.
tentang arti Cinta Dalam Diam yang terdapat di dalam Al Qur'an. Cinta memang banyak mengandung arti, mulai dari cinta yang terucap atau cinta yang hanya diam. Jika benar cinta itu karena Allah maka biarkanlah ia mengalir mengikuti aliran Allah karena hakikatnya ia berhulu dari Allah maka ia pun berhilir hanya kepada Allah.
.....
Yang kangen sama Salsa dan Dirga angkat tangan dong.
Ayo support aku lagi dalam cerita ini. Makasih yaaa buat kalian. 😘😘
ayo follow Instagram aku. @meigasellaap.
karena aku akan UPDATE spoiler Imamku tentaraku di Instagram. jadi jangan lupa follow yaa. next chapter aku update di Instagram.
__ADS_1