
...
...
Dirga dan Salsa huhu.
...
Matahari cukup panas siang ini. Dirga melangkahkan kakinya menuju rumah sakit kecil milik militer. Langkahnya pasti menapaki tanah dengan sepatu boot hitamnya yang terlihat menyeramkan bagi yang melihatnya. Ah itu sebenarnya persepsi yang sedikit berlebihan!
Perjalanan menuju rumah sakit militer tidak jauh dari tempat Dirga.
Hingga lelaki bertubuh atletis itu menemukan ruangan kecil. Dirga mengucapkan salam sembari mengetuk pintunya. Setelah salamnya terjawab, ia berani masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Waktunya sholat dhuhur," kata Dirga sembari berjalan menuju kursi yang ada di depan Salsa.
Sedari tadi Salsa duduk mengisi beberapa laporan bulanan untuk di serahkan kepada atasannya. Hingga suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas putih yang penuh coretan tinta hitam.
Salsa melirik arlojinya dan menganggukkan kepalanya menghadap Dirga.
Menjemput Salsa untuk melakukan sholat berjama'ah di masjid akan menjadi suatu hobi baru Dirga saat ini dan seterusnya. Mereka berjalan menyusuri lorong untuk menuju ke masjid milik tentara angkatan darat. Di sepanjang jalan ada beberapa orang yang menggoda pasangan itu. Mereka terlihat cocok. Bahkan serasi. Hingga mereka sampai di masjid tersebut. Masing-masing mengambil air wudhu nya.
Menghadap Allah swt. dengan khusyuk adalah hal yang paling ampuh untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di hati seorang manusia. Entah itu menjadi obat paling ampuh mereka ketika hatinya sedang kosong.
Hingga mereka selesai melaksanakan ibadahnya, Dirga mengajak Salsa untuk makan siang bersama. Namun, Salsa menolak hal itu.
"Loh Sal kenapa nggak, mau? Kan kata saya rasa cinta itu akan tumbuh karena kita kebiasaan bersama," kata Dirga begitu mantap sampai mendapat cubitan dari Salsa. Namun, karena sudah hafal karakteristik Salsa sedikit demi sedikit, ia berhasil menghindari cubitan itu.
"Kak Angkasa!" sergah Salsa dengan cemberut.
Mereka menjadi sorotan orang-orang--yang termasuk anggota militer--yang baru saja keluar dari masjid. Sebagian men cie-cie kan kejadian manis itu hingga Salsa malu sekali di buatnya.
"Maaf istri saya suka malu-malu meong," kata Dirga di hadapan teman-temannya. Oh ralat! Lebih tepat bawahannya.
__ADS_1
Pipi Salsa semakin merah merona bak kepiting rebus.
"Awas aja kak Angkasa kalau sudah sampai rumah," geraman Salsa lirih sembari menatap tajam Dirga. Namun, yang di tatap seperti itu malah tidak terintimidasi sama sekali.
"Awas kenapa, Sal?" Dirga semakin menggodanya.
Salsa semakin sebal. Alhasil ia meninggalkan Dirga begitu saja.
Dirga melihat langkah kaki Salsa yang begitu kesal hanya tersenyum jahil.
"GA!" Panggil seseorang dari belakang.
Dirga menoleh, "Angga," katanya setelah melihat siapa yang memanggilnya.
"Wah makin manis aja. Udah bisa move nih ceritanya, pak?" Tanya Angga. Angga ialah teman dekat Dirga. Namun, Angga masih berada di bawah Dirga.
Dirga menampik Angga dengan tangannya pelan, "wah lo bahas topik yang salah, Bro."
"Lo pengen motivasi seperti apa?" tanya Dirga, "sambil makan siang yok, gue laper. Bini gue di ajakin makan bareng nggak mau," sambung Dirga. Angga menyetujuinya. Mereka berjalan menuju parkiran mobil. Ia lebih memutuskan makan siang dengan pecel lele yang berada tidak jauh dari lokasi ia dinas. Karena keseringan makan pecel lele bersama Angga, hingga pecel lele tersebut menjadi favorit mereka berdua.
Ketika sampai, Angga segera memesan dua porsi pecel lele dan dua gelas es jeruk. Tanpa bertanya apa kesukaan Dirga terlebih dahulu, ia sudah hafal.
Sembari menunggu pesanannya datang, Angga angkat bicara, "lo ada motivasi apa hari ini, pak?" tanya Angga sembari menyodorkan satu bungkus rokok pada Dirga. Namun, Dirga menolak karena laki-laki itu tidak merokok. Angga adalah seorang perokok namun tidak sesering mungkin. Mungkin hanya tiga kali dalam setahun. Jika ingin sekali merokok, sesekali Angga merokok. Karena ia juga bercermin dari dirinya sendiri. Jika dirinya ialah tentara.
"Kadang gue suka ngeluh, karena kurang merasa bersyukur. Langsung deh gue bawa sholat, kemudian adem banget tuh ati," Angga bercerita sembari mengepulkan asap rokoknya pelan.
"Punya circle tukang ngeluh ya jadinya suka ngeluh. Punya circle tukang halu ya jadinya suka nge-halu tanpa harus bertindak dan stuck di situ-situ aja. Punya circle males ya jadinya suka males-malesan. Karena otaknya sudah kedoktrin kalo suatu hal itu bisa di kerjain nanti karena waktu masih panjang dan akhirnya gampangin situasi. Nah di buang sifat kayak gitu, karena merusak diri kita. Dan satu hal lagi, kita juga nggak tau seberapa lama umur kita. Misalnya kita habis makan pecel lele terus tiba-tiba kita di panggil Allah swt--" Angga langsung menyela perkataan Dirga yang makin ngelantur tidak jelas.
"Jangan ngomong gitu lah, Ga. Gue belum nikah," katanya dengan sarkastik.
Tak lama pesanan mereka datang. Pecel lele yang sangat menggiurkan sekarang berada di hadapan mereka. Dirga menyeruput minumannya terlebih dahulu. Ia bersyukur masih bisa makan dengan kenyang. Karena di luaran sana banyak yang tidak bisa makan karena faktor ekonomi. Sedikit rejeki apapun, harus di syukuri.
Sebelumnya, mereka berdoa.
__ADS_1
Mereka makan dalam hening, menikmati betapa nikmatnya di manja oleh makanan pecel lele Mbok Surti tersebut. Mbok Surti sampai sudah hafal dengan mereka. Karena mereka sering datang ke Warung makan pinggir jalan Mbok Surti. Biasanya Mbok Surti akan menyapa mereka terlebih dahulu. Namun, tampaknya Mbok Surti tidak ada di warung saat ini. Mungkin ada urusan.
"Pecel lele mbok Surti emang selalu bikin nagih," kata Angga di sela-sela makannya.
"Alhamdulillah dong," kata Dirga seadaanya. Karena laki-laki itu sedang menikmati nikmat Allah swt yang begitu menggiurkan.
Hingga pecel lele tersebut tandas di babat habis oleh dua anak manusia berbaju loreng itu.
Setelah membayar makanannya, mereka menuju ke tempat dinasnya.
"Wah kenyang gue," celetuk Angga.
"Bersyukur masih bisa makan enak,"
"Wah jelas dong, Ga."
Dirga menyalakan musik dalam mobilnya.
***
Ditempat yang berbeda, Salsa sudah selesai makan siangnya sendirian. Ia tadi memesan makanannya secara online. Ketika di tawari Dirga untuk makan bersama, ia menolaknya karena malu. Alhasil di sini lah dirinya, diruangan kecil miliknya.
Setelah membuang sampah makanannya, ia membuka ponselnya. Beralih ke panggilan telepon untuk menelpon seseorang. Dan seseorang itu mengangkatnya.
"Halo, Assalamu'alaykum," Salsa mengucapkan salamnya terlebih dahulu.
Salsa tampak ceria. Entahlah siapa yang ia hubungi saat ini?
Yeyy! Pagi+ hujan \= aku sudah update!! ❤️
JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN YA.
FOLLOW JUGA IG AKU @meigasellaap
__ADS_1