
PART 4
"Kamu yakin sama keputusan, kamu?" lima kata itu telah terdengar sedikit cemas di pendengaran Salsa. Salsa menaruh garpu dan sendoknya lalu menoleh pada Bundanya dengan senyuman yakin.
"Hidup mati Salsa, Salsa serahin sama Allah Swt. bunda. Lagian Salsa dari dulu punya cita-cita bantuin negara palestina," kata Salsa menatap bundanya yakin.
"Ayah dukung kamu, Nak. Apa yang menurut baik di mata orang, maka lakukanlah. Ayah yakin, kamu pasti pulang dengan selamat," kata Ayahnya sembari tersenyum penuh arti. Beliau suka dengan apa yang dilakukan oleh putri semata wayangnya. Selagi hal itu bermanfaat sekali untuk orang lain.
"Kenapa nggak bantuin lewat donasi, aja?" tanya Bundanya. Bisa di lihat, jika bundanya masih belum rela di tinggalkan oleh putri semata wayangnya. Raut wajah dan sorot mata telah membuktikan jika Jihan--bunda Salsa-- tidak mau Salsa pergi dan mengunjungi tempat para ******* di Palestina.
Salsa menghela napas sebelum berkata, "Bunda... Salsa pengen bantuin secara langsung, pake keringat Salsa sendiri. Lagian, nggak hanya Salsa aja kok yang di sana. Banyak dokter lain dari daerah-daerah lain. Jadi, bunda tenang aja. Salsa nggak apa-apa. Bunda cuma perlu doain yang terbaik buat Salsa kalo udah di sana nanti," kata Salsa begitu lembut untuk meyakinkan batin seorang ibu yang mengandungnya selama sembilan bulan.
"Iya, Bunda. Ayah dukung Salsa. Kita doakan yang terbaik untuk putri kita. Ayah yakin, kalo putri kita pasti pulang dengan selamat," Ayah Salsa ikut meyakinkan sembari menarik istrinya kedalam pelukan. Pasalnya, mata Jihan sudah berkaca-kaca ingin menangis.
"Tapi, bunda belum rela," kata Jihan lirih sembari di iringi isakan tangis yag pelan. Hal ini membuat Salsa bangkit dari duduknya dan ikut memeluk sang bundanya. Salsa jadi merasa bersalah, karena membuat bundanya menangis seperti ini.
Lalu bagaimana, sekarang? Akankah Salsa membatalkan berangkat ke Palestina demi sang bunda dan bersiap hatinya akan tersayat lebih tajam karena menghadiri pernikahan kakak sepupunya dengan Dirga? Salsa yakin, ia tidak akan kuat melihat itu semua. Makanya, ia memilih ikut untuk menjadi relawan di Palestina. Akan lebih baik jika ia di sana membantu anak-anak Palestina dan berusaha mengikhlaskan cinta pertamanya. Bukan hanya itu, alasan Salsa berangkat ke Palestina atas keinginan dirinya sendiri. Ia sangat imgin membantu negara itu dengan fisiknya langsung tanpa perantara.
"Bunda bakal setuju kalo kamu melakukan satu hal untuk bunda," kata Jihan menghadap Salsa dan menghapus air matanya.
"Apapun itu, Bun," kata Salsa menatap manik mata bundanya sendu.
"Bunda pengen kamu pulang dengan selamat, apapun caranya, bunda nggak mau tau. Pokoknya, kamu harus selamat,"
"Iya pasti, Bunda. Salsa bakal berusaha menjaga diri Salsa. Demi bunda, Salsa pasti bisa. Jangan sedih lagi ya, Bun. Salsa janji, bakal pulang dengan selamat," kata Salsa sungguh-sungguh.
Jihan memeluk putri semata wayangnya dengan erat. Setelah meminta izin kedua orang tuanya, hati Salsa terasa lega. Karena kepergiannya tidak akan berkah jika tidak mendapat izin dari orangtuanya.
"Kamu berangkat kapan, Nak? Biar Ayah siapkan uang keberangkatan dan uang untuk disana," kata Ayahnya lembut.
__ADS_1
"Insya Allah, berangkat tiga hari lagi, Yah. Di rumah sakit pusat, ada tujuh dokter spesialis yang ikut jadi relawan. Di tambah dari daerah-daerah lain, lagi. Doakan yang terbaik buat Salsa ya Yah, Bun," kata Salsa begitu tulus. Kedua orangtuanya ikut memeluknya.
"Pasti, Nak, Pasti."
***
Salsa harus pergi ke rumah sakit karena ia harus menyelesaikan segala data-data penting setelah ia tinggalkan tiga bulan ke depan. Setelah semua dokumen beres ia tanda tangani, ia segera merapikannya. Menyimpun barang-barangnya untuk di simpan di dalam lemari ketika ia tinggalkan, agar tak berdebu. Cukup lama ia berkutik pada ruangan kebanggaannya itu. Hingga ruangan itu bersih dan terlihat lebih sedikit isinya.
Tak lama ketukan pintu terdengar.
"Masuk!" seru Salsa.
"Assalamualakum," salam Rena.
"Tumben," sahut Salsa.
"Waalaykumsalam. Gitu aja ngambek," kata Salsa sembari menaruh stetoskop pada kotak pink untuk di simpan.
"Gue tadi liat nama lo di daftar jadi relawan Palestina. Lo yakin?" kata Rena to the point.
Salsa mengangguk sembari meneruskan merapikan kotak-kotak obat untuk di masukkan ke dalam kardus yang ia akan bawa lagi ke apotik rumah sakit.
"Kenapa nggak ngomong, gue?"
Salsa memberhentikan kegiatannya, menoleh pada sahabatnya itu dan tersenyum penuh arti padanya. Kemudian, Salsa mendekat dan memeluk Rena dari belakang. Rena di buat bingung olehnya.
"Lo kenapa? Tumben banget meluk gue kek gini," kata Rena. Tapi gadis itu tak menolak pelukan Salsa.
"Lo sahabat gue yang paling baik. Gue nggak bilang sama lo, karena lo pasti ngelarang gue. So, gue diem-diem aja. I'm sorry, baby," kata Salsa di samping wajah Rena.
__ADS_1
"Tapi asli, gue pengen banget ngelakuin ini dari dulu, Ren. Jadi, kalo ngomong sama lo, pasti lo bakal laranf gue. Sekali lagi, sorry dorry morry, babe. Bukan gue nggak anggep lo sabahat gue. Lo ngertikan?" kata Salsa lagi sembari melepaskan pelukannya pada Rena dan tersenyum manis pada sabahatnya.
"Gue cukup ngerti untuk lari dari masalah," kata Rena tiba-tiba. Rena mendekat kearah Salsa dan bergantian memeluk gadis itu.
"Gue cukup ngerti kok, Sal. Karena lo nggak mau liat pernikahannya Kak Dirga sama Mbak Ara, kan? Gue kalo ada di posisi lo, gue bakal melarikan diri juga. Karena gue nggak kuat melihat seseorang yang gue sayang menikah dengan wanita lain. Apalagi lo nyimpen perasaan itu udah lama banget, Sal. Gue kasih A plus, karena lo jadi wanita yang begitu kuat. Jadilah Siti Fatimah Azzahra yang menyimpan perasaannya untuk Ali. Akan lebih baik seperti itu." lama-lama air mata Rena keluar karena melihat begitu menderitanya perasaan Salsa. Salsa tersenyum di ceruk leher Rena sembari mengeratkan pelukannya.
"Makasih, lo udah mau ngerti sama gue, Re. Kali ini, gue nggak bakal patimon lagi deh. Gue bakal banyak doa," kata Salsa di sela-sela pelukan mereka yang cukup lama.
"Patimon?" tanya Rena sembari melepas pelukannya dan menghapus air matanya.
"Patah hati gagal move on," kata Salsa.
"Apaan dah lo, udah ah, jangan bikin gue mewek,"
"Oh iya, kapan lo berangkat?"
"tiga harian lagi,"
"Gue doain yang terbaik buat lo,"
"itu pasti Re, gue nggak minta sekalipun, lo bakal tetap doain gue yang terbaik, kan?"
"Apa sih yang nggak buat kamu?" kata Rena sembari menirukan gaya banci. Sontak membuat Salsa tertawa renyah.
"Ya Allah, waraskan sahabat hamba ini," doa Salsa.
"Tega lo!" serunya.
Salsa begitu beruntung mendapatkan teman seperti Rena. Dengan adanya Rena, bebannya sedikit ringan karena ia selalu menceritakan apapun tentang dirinya pada sahabatnya itu.
__ADS_1