Imamku, Tentaraku

Imamku, Tentaraku
honesty


__ADS_3

Salsa duduk di sebuah kantin rumah sakit. Ia sedang mengisi perutnya dengan seporsi mie ayam. Padahal pagi tadi, Salsa sudah sarapan dengan Dirga. Namun, belum sampai siang, perempuan itu sudah lapar lagi. Salsa makan dengan pelan. Di pertengahan makannya, tiba-tiba ia kepikiran bundanya. Bundanya beberapa hari ini belum bicara dengannya. Mungkin masih syok dari kejadian maut yang di alami beliau. Salsa juga tidak mau mengganggu bundanya. Namun, Salsa sering mengingatkan sholat dan berdzikir agar pemikiran bundanya menjadi tenang. Dan untungnya, bundanya tidak menolah. Beberapa hari setelah meninggalkan ayah Salsa, perempuan itu dan Dirga tinggal di rumah orang tua Salsa.


Nafsu makan perempuan itu jadi hilang. Namun, ia tidak boleh membuang makanannya karena mubazir. Alhasil ia terus memakannya. Ia harus bersyukur karena ia masih bisa makan. Di luaran sana, banyak orang yang susah makan.


Salsa menyeruput teh hangatnya. Ia melirik pergelangan tangannya untuk melihat jam berapa saat ini. Karena Salsa ada jadwal operasi sebentar lagi. Rumah sakit tempat Salsa bekerja, termasuk rumah sakit umum daerah. Jadi, tidak hanya anggota TNI saja yang di menjadi pasien di sini.


Tiba-tiba seorang laki-laki berjas putih seperti Salsa menghampiri Salsa sembari membawa semangkuk bubur ayam panas. 


"Assalamualaikum, ukhty. Boleh ikut, gabung?"


Salsa tersenyum, "Wa'alaykumsalam dokter Randy. Silahkan" tawar Salsa yang di angguki dokter berperawakan tinggi itu.


"Dari sekian bangku kosong, cuma bangku kosong ini aja yang menarik," canda dokter Randy sembari tersenyum.


"Bisa aja, dok."


Mereka makan sembari mengobrol ringan. Topik pembicaraan tidak jauh-jauh dari pembahasan rumah sakit. Dokter Randy ialah dokter ahli bedah umum rumah sakit militer tersebut.


Dering ponsel Salsa berbunyi. Ada sebuah panggilan dari Rena dan Salsa mengangkatnya.


"Assalamu'alaykum, Ren. Ada, apa?"


"Wa'alaykumsalam, nanti sore free, nggak? Gue pengen minum cokelat panas," kata Rena di seberang sana.


Sebelum menjawab, Salsa berpikir terlebih dahulu, "bisa deh. Jam, berapa? Dimana?"

__ADS_1


"Gue chat aja lokasinya."


"Oke. Ya udah. Gue lagi makan nih," kemudian Rena mengakhiri sambungan teleponnya dengan mengucapkan salam pada Salsa.


"Siapa?" Tanya dokter Randy.


"Sahabat saya, dok."


Salsa melanjutkan makannya yang tinggal sedikit. Setelah selesai ia segera pamit duluan pada dokter Randy.


***


Salsa sudah siap dengan jubah operasinya. Ia mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum memasuki ruang operasi. Berulang kali ia berdoa meminta kemudahan lagi untuk menyelamatkan nyawa seseorang kali ini.


Ia memasuki ruang operasi, perawat lainnya membantu Salsa memakaikan masker medis untuk Salsa. Kali ini, Salsa yang memimpin operasi itu. Salsa sedikit terkejut, ketika melihat asisten yang membantunya adalah dokter Randy. Salsa tersenyum mengangguk untuk menyapa dokter Randy dan di balas oleh dokter Randy. Mereka akan menjadi tim yang solid dalam operasi kali ini.


Proses operasi itu sangat panjang. Tentu menegangkan. Namun, mereka tidak boleh panik. Mereka akan berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan pasien. Namun, jika Allah swt. sudah menggariskan takdirnya untuk pulang, para staf medis juga tidak bisa berbuat apa-apa. Karena yang hidup akan merasakan mati. Kita juga tidak tahu, kapan waktunya kita akan di ceraikan oleh dunia yang hanya sesaat. Lalu di lamar oleh malaikat maut untuk di nikahkan dengan kematian. Hanya ada sisa-sisa penyesalan dengan apa yang di perbuat di dunia. Bila roh berpisah dengan jasadnya, tidak ada lagi kesempatan untuk menaman benih amal sholeh. Dan banyak di antara roh-roh tersebut menyesalkan diri untuk kembali ke dunia untuk bersedekah dan menjadi orang baik. Maka, pergunakanlah waktumu sebaik mungkin untuk mencari bekal akhirat sebelum terlambat.


Sahabat terbaik yang selalu mengingatkan akhirat adalah kematian. Dia selalu pasti datang, dimana pun manusia berada. Kematian tidak pernah mengingkari janjinya untuk tidak datang.


*


Beberapa staf medis mengucapkan rasa syukur yang begitu besar kepada Allah swt. karena atas izin-Nya, operasinya berjalan dengan lancar.


Salsa melepas jubah operasinya dan mencuci tangannya.

__ADS_1


"Kerja yang bagus dokter Salsa," kata dokter Randy yang ikut mencuci tangannya di sebelah wastafel Salsa.


"Alhamdulillah, Allah memberikan kemudahan bagi kita semua," kata Salsa sembari tersenyum. Dokter Randy juga ikut tersenyum.


"Saya duluan ya, dok," kata Salsa setelah selesai mencuci tangannya. Ia keluar dari ruang operasi dan berjalan menuju ruangannya. Salsa membutuhkan sedikit istirahat untuk otaknya. Ia menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ruangannya. Sembari terus berjalan, ia mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya.


Ia melihat ada tiga panggilan tak terjawab dan dua pesan dari Dirga. Salsa membuka pesan tersebut. Ternyata Dirga tadi menjemputnya untuk melaksanakan sholat berjama'ah di masjid. Salsa mengucapkan istighfar karena ia tidak memberitahu Dirga sebelumnya jika ia ada operasi siang ini. Salsa melirik arlojinya yang melingkar manis di pergelangan tangannya, sedikit lagi waktu sholat dhuhur akan habis, segera ia berlari menuju ruangannya untuk membersihkan tubuhnya dan melakukan sholat dhuhur sendiri saja di ruangannya. Ia mengirimkan sebuah pesan pada Dirga.


Setelah sampai ruangannya, ia segera membersihkan diri dan segera melaksanakan sholatnya.


Setelah selesai sholat, Salsa berdoa. Hati perempuan itu sedang gundah dan merasakan rasa bersalah lagi. Beberapa tempo hari yang lalu, Dirga menanyai soal perasaannya.


Gimana, Sal? Kamu sudah mulai menyukai saya, belum?


Tentu saja Salsa mengingat dengan jelas kalimat pertanyaan Dirga itu. Waktu itu, Salsa tidak langsung menjawab pertanyaan itu karena ia malah melamun. Namun, ia memutuskan perasaanya sendiri.


Tidak!


Salsa menggeleng untuk jawaban pertanyaan dari Dirga itu. Ya! Salsa tidak mau mengakui perasaannya sendiri. Karena rasa bersalah itu terus menerus menghantuinya. Di luar dugaan, Salsa mengira jika Dirga akan marah atau kecewa padanya, namun Dirga malah dengan lembut mengelus puncak kepala Salsa.


Saya sudah memutuskan untuk membahagiakan kamu, Sal. Apapun yang terjadi saya bakal berusaha yang terbaik untuk jadi imam kamu. Walaupun, kamu belum menyukai saya. Nggak papa, jalannya waktu bisa ngerubah diri seseorang. Siapa tau, besok kamu makin cinta sama saya.


Salsa tersenyum sendiri mengingat kalimat itu.


To be continued...

__ADS_1


Follow ig @meigasellaap


__ADS_2