
Yang di katakan Angga memang benar. Kepala direktur rumah sakit telah mengadakan rapat dadakan. Salsa masih bingung dengan hatinya sendiri. Dengan gusar, ia berjalan memasuki aula yang cukup besar. Di dalam aula tersebut, sudah banyak staf rumah sakit yang berkumpul dan duduk di salah satu kursi masing-masing. Salsa tadi juga sudah memberikan surat yang di beri Angga untuk Salsa sampaikan pada teman-temannya.
Salsa mencari tempat duduk paling belakang. Ia mengelus perutnya yang masih rata dengan lembut. Jika Salsa ikut menjadi relawan, apakah ia nantinya akan egois terhadap janin yang sekarang sedang berkembang di dalam, perutnya? Ya Allah, Salsa bingung harus berbuat apa sekarang. Yang Salsa butuhkan hanyalah izin dari suaminya saja. Jika ia berangkat, bagaimana dengan Dirga? Sebenarnya, lelaki itu ada dimana, sekarang? Di tambah lagi, Dirga belum mendengarkan kabar baik jika Salsa sekarang sedang mengandung. Salsa yakin jika lelaki itu akan sangat senang mendengarkan kabar tersebut.
Kedua mata Salsa beralih menatap ke depan, dimana kepala direktur sudah memulai membuka rapat tersebut.
"Dokter Salsa," panggil suara bariton di sebelah Salsa. Salsa hanya tersenyum menanggapi seseorang itu yang ada di sebelahnya.
"Saya terlambat," kata suara bariton itu lagi.
Nggak nanya!
Astaghfirullah! Salsa beristighfar sendiri telah berkata seperti itu di dalam hatinya. Entah kenapa, akhir-akhir ini Salsa sangat sensitif. Mungkin karena hormon kehamilannya yang membuat Salsa menjadi semakin sensitif.
Salsa kembali berfokus ke depan.
"Dengan berdirinya saya di depan sini, saya telah mengadakan rapat dadakan. Saya mendapatkan kabar, jika di Palestina terjadi pemberontakan secara besar-besaran lagi. Dan para pengabdi negara Indonesia atau TNI sudah di kirim ke sana. Namun dari fasilitas kesehatan, sangat minim sekali di sana. Dan sangat-sangat membutuhkan relawan lagi. Karena di sana situasinya semakin memburuk, di tambah fasilitas kesehatan yang minim. Maka dari itu, atas keputusan pihak jenderal mayor TNI, saya hanya menawarkan keikhlasan hati kalian yang hadir di rapat ini. Dengan keikhlasan lahir batin. Tidak ada unsur memaksa sama sekali. Namun, di sini saya bakalan menunjuk salah satu ketua yang akan mengarahkan untuk di Palestina. Sebelumnya, saya meminta maaf. Karena untuk memimpin di sana, pasti sangat membutuhkan seseorang yang pernah ke sana juga menjadi relawan. Apakah dokter Salsa, siap?" Tiba-tiba di akhir penjelasan tersebut membuat Salsa membelalakkan matanya. Sedangkan dokter Randy yang duduk di sebelahnya sudah menatap Salsa dengan kagum.
"Ternyata dokter Salsa pernah jadi relawan kesana juga, ya," kata dokter Randy yang tidak di respon oleh Salsa. Karena fokus Salsa masih berada pada apa yang di dengarnya baru saja. Sepertinya itu hanya pendengaran Salsa saja yang buruk. Toh, nama Salsa juga bukan di saja. Jadi, jangan percaya diri dulu.
__ADS_1
"Dokter Salsabilla Aaron Akbar. Apakah hadir?" tanya kepala direktur rumah sakit untuk memastikan Salsa.
Dengan gagap, Salsa mengangkat tangannya.
"Baik dokter Salsa, apakah anda siap untuk menjadi ketua di tim rumah sakit, kita? Saya berharap keikhlasan lahir batin saja. Jika tidak berkenan tidak apa-apa. Dan maaf sebelumnya, karena saya memutuskan dokter Salsa untuk menjadi ketua tim kita, karena Dokter Salsa sudah pernah menjadi relawan di sana," kata kepala direktur itu dengan sopan.
Salsa sudah berkeringat dingin mendapatkan pertanyaan itu. Ia harus menjawab apa. Salsa menginginkan hal itu. Bahkan sangat menginginkan hal itu. Namun, jika Salsa mengiyakan hal itu, ia akan egois terhadap Dirga dan janinnya. Salsa tanpa sadar mengelus perutnya sendiri.
"Bagaimana dokter Salsa?"
Salsa menutup matanya dan kemudian mengangguk dengan pelan, "saya siap,"
Wallahi! Salsa sekarang menjadi manusia paling egois! Tiba-tiba Salsa bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari aula besar itu tanpa mengatakan hal apapun. Salsa sudah menutup wajahnya untuk menahan air matanya supaya tidak terjatuh saat ini juga.
Salsa menangis setelah sampai di dalam ruangannya. Salsa juga gampang menangis akhir-akhir ini.
Ya Allah, jika keputusan ini memang baik untuk hamba, maka berilah pada hamba-Mu ini. Namun, jika keputusan ini memang buruk bagi hamba, maka Engkau pasti mempunyai banyak cara untuk menghentikan hamba. Hamba hanya yakin pada-Mu ya Allah. Niat hamba benar-benar tulus ingin membantu mereka ya Allah. Maaf jika hamba juga menjadi manusia yang paling egois.
***
__ADS_1
kantin rumah sakit militer itu sedang di penuhi oleh manusia yang sedang mengisi perutnya. Tidak hanya itu saja, bahkan ada juga yang menemani makan entah itu teman, orang tuanya, bahkan saudaranya. Suasana terlihat sangat damai di kantin itu. Cuaca sore hari juga telah mendukung untuk beberapa orang yang ingin menikmati makanannya di gazebo luar. Sangat cocok dan mendukung.
Seorang dokter tampan dan berperawakan tinggi telah menikmati makanannya di gazebo luar dekat danau buatan yang berukuran kecil. Suasananya sangat nyaman karena di tambah pohon-pohon yang cukup rindang di pinggir danau.
Sesekali Dokter itu menghela napas panjangnya sembari memperhatikan seseorang dari kejauhan. Seseorang yang ia cintai, namun ia tidak berani mengungkapkannya. Entah kenapa setiap ingin berbicara jujur soal perasaannya, ia tidak bisa.
Perempuan yang sedang ia perhatikan sekarang berjalan ke arah gazebo luar sembari membawa makanan. Cukup lama dokter Randy memperhatikan perempuan itu. Baginya, perempuan itu adalah seperti napasnya. Memang terdengar cukup lebay. Namun, begitu kenyataannya. Dan bagi dirinya, cukup hanya melihat perempuan yang ia sukai, hatinya nyaman. Sudah lama ia menyukai perempuan itu. Tepatnya, pertama kali perempuan itu pindah ke rumah sakit militer ini. Ah memang rasa suka terhadap lawan jenis memang tidak bisa di toleransi. Setiap malam, entah kenapa pasti perempuan itu muncul di benak Dokter Randy.
Dokter Randy terkekeh ketika melihat perempuan yang sedang makan itu. Betapa menggemaskannya perempuan itu.
Tiba-tiba dokter Randy memukul kepalanya sendiri sembari mengucapkan istighfar, "Astaghfirullah, dosa hamba sudah banyak. Di tambah memperhatikan perempuan yang hamba sukai. Seandainya dosa bisa di toleransi, pasti menyenangkan," kata dokter Randy yang lama-kelamaan semakin melantur bicaranya.
Lelaki itu menghela napasnya dengan gusar. Sebelum ia mengibarkan bendera perang, hatinya akan terus saja memikirkan perempuan yang di sukainya itu.
Apakah, ia harus mengambil langkah lebih, cepat?
To be continued.
Aku kombeeekk. Kalian itu tau nggak sih kalo notif kalian itu NUMBUHIN semangat aku buat lanjutin cerita ini.
__ADS_1
Support di tiktok dan instagram akuu yaa. @meigasellaap.
Eh jangan lupa buat share cerita ini ke teman-teman kalian biar aku semangat nulisnya lagi. Yuhuuuuu. Makasiiii🎉😍