
"lo kapan mulai, pindah?"
pertanyaan itu muncul dari sahabat Salsa. Siapa lagi jika bukan dokter Rere ahli bedah umum. Gadis itu sedari tadi sudah berkunjung keruangan Rere karena ia baru saja pulang dari sif malamnya. Bukannya malah pulang, ia malah mengunjungi Salsa.
"Kayaknya si minggu depan."
"Bagus deh,"
Salsa mengernyit, "Kenapa?"
"Lo bisa persiapin mental dulu buat ketemu sama doi terus di tempat kerja. Inget, Sal! Lo harus profesional," kata Rena yang kemudian gadis itu terkikik geli karena menggoda Salsa.
"Astaghfirullah. Emang gue pernah campur adukin masalah pribadi sama kerjaan gue?" tanya balik Salsa. Sebenarnya, Salsa juga membenarkan perkataan sahabatnya itu. Bertemu setiap hari di rumah saja, membuat Salsa ingin cepat-cepat menghindar dari Dirga. Namun, apalah daya. Ia harus profesional.
"Makan yuk, gue laper banget nih. Semaleman gue nggak nafsu makan."
"Ada masalah, lagi?" tanya Salsa tepat karena sidah hafal dengan karakter Rena. Jika nafsu makannya hilang, maka ada pikiran yang mendera sahabatnya itu. Mungkin tidak hanya Rena, manusia lain juga biasanya merasakan hal seperti itu.
"Gue udah sarapan tadi," kata Salsa sembari mengeluarkan sekotak bekal yang berisi roti selai coklat, lalu di sodorkan ke hadapan Rena, "nih, gue bawain buat lo." katanya.
Rena tersenyum, hal seperti inilah yang membuat Rena senang bersahabat dengan Salsa. Salsa adalah seseorang yang peduli, sekecil apapun itu, ia tetap peduli terhadap sesama.
"Lo tau aja,"
Salsa tersenyum manis.
"Gue mau periksa pasien dulu, lo makan aja di sini. Di habisin ya, nanti gue sedih kalo enggak di habisin," kata Salsa sembari membereskan peralatan medisnya yang tercecer di meja kerjanya.
"Gue kesana dulu, Assalamu'alaykum," pamit Salsa.
"Wa'alaykumsalam, Fighting!"
"Okay!"
__ADS_1
Salsa berjalan membuka pintu keluar sembari bersholawat lirih, mirip dengan senandungan kecil. Hatinya saat ini terasa tenang. Bahkan benar-benar tenang setelah melakukan sholat dhuha-nya.
Ketika berjalan menyusuri koridor rumah sakit, ada kerumunan yang mengganggu Salsa berjalan. Ia mendatangi kerumuman tersebut.
"Permisi. Maaf ada apa, ya?" Tanya Salsa yang membuat seluruh mata kerumunan itu menatapnya. Namun, pertanyaan itu lebih tertuju pada perawat yang Salsa kenal.
"Ada apa, sus?" tanya Salsa sekali lagi.
Belum sempat perawat itu menjawab, "ini nggak adil dok, anak saya yang di rawat duluan di rumah sakit ini, tapi kenapa malah pasien baru yang di dahulukan untuk operasi," seseorang pria paruh baya berkata dengan meninggikan suaranya menghadap Salsa.
"Rumah sakit macam apa ini?! Dokter nggak liat kalo anak saya sekarang lagi sekarat?" pria paruh baya itu terus mengotot. Seorang wanita paruh baya yang di duga istrinya telah mengelus punggung suaminya dengan lembut untuk menenangkan suaminya sembari menangis.
Salsa menghela napasnya sembari mengucap istighfar di dalam hatinya. Sudah sering kali hal seperti ini terjadi.
Salsa berusaha menenangkan kedua orang tua itu. Sebagai orang tua memang sangat khawatir jika anaknya terjadi apa-apa. Beberapa staf medis lainnya juga ikut menenangkan pria paruh baya itu.
***
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, seorang lelaki bertubuh atletis telah selesai melaksanakan sholat Dhuha-nya. Lelaki itu mengungkapkan banyak syukur kepada Allah swt. karena masih diberikan napas hingga saat ini.
Dirga berjalan menuju ke kamarnya yang bernuansa putih. Berbeda dari kamar sebelumnya, kamar ini serba putih.
Dirga sebenarnya bosan di rumah sendirian. Karena ia mulai dinas mulai minggu depan setelah pasca cuti pernikahannya dengan Salsa. Ia berusaha mencari kesibukan dengan menonton acara televisi di ruang keluarga. Ia mencari saluran televisi yang menarik.
Tiba-tiba denting suara ponselnya berbunyi, menandakan sebuah pesan. Dirga hanya menghela napas sedikit kasar, karena itu hanya sebuah pesan dari operator. Tidak sengaja ia iseng membuka galeri hapenya. Ia masih menyimpan foto dirinya dengan Ara. Entah kenapa detak jantungnya berpacu sedikit cepat ketika melihat senyuman Ara.
Berulang kali Dirga beristighfar. Seharusnya ini tidak boleh terjadi. Ia sudah mempunyai istri. Dan kenapa harus memikirkan wanita, lain?
Dosa Ga! Dosa! Dia sudah melepaskanmu! Kamu punya Salsa sekarang!
Dengan berat hati, Dirga menghapus foto-foto lama itu. Iya! Perlu di garis bawahi jika ada tulisan berat hati.
Bagaimana mungkin Dirga bisa melepaskan Ara secepat itu? Bahkan tunangannya dahulu yang menyuruhnya untuk menikah adik sepupunya sendiri, Salsa. Itu pilihan tersulit Dirga. Dan saat ini, Dirga tidak tahu dimana keberadaan Ara saat ini. Ia ingin sekali mencari tahu keberadaan Ara dengan menggunakan koneksi yang di milikinya, namun hal itu tidak pantas karena Ara sudah bukan siapa-siapanya lagi.
__ADS_1
Jauh di lubuk itu, sebenarnya hati Dirga terasa sesak ketika Ara berkata seperti itu di rumah sakit waktu itu. Gadis yang di cintainya telah melepaskan dirinya dengan alasan yang tidak jelas.
Dirga mengusap wajahnya kasar.
"Astaghfirullah," gumamnya pelan.
Tiba-tiba dering telponnya berbunyi, sebuah panggilan masuk dari seseorang.
"Assalamu'alaykum. Ini Angkasa, kan?" suara itu terdengar di sambungan telepon.
"Wa'alaykumsalam, iya ini gue. Kenapa?"
"Lo lagi cuti, kan? Main basket yok,"
Tepat! Daripada Dirga memikirkan hal-hal yang membuat dirinya bertambah dosa, mending ia bermain basker bersama Galang. Ya! Namanya Galang, teman seangkatan Dirga.
"Oke, dimana?"
"Tempat basket base camp militer aja, Bro. Gue tunggu sama anak-anak,"
"Otewe!"
Dirga bergegas mengambil jaket denimnya untuk segera menuju lokasi. Hal-hal yang positif seperti ini mampu menghilangkan rasa yang negatif dalam diri.
Tidak lupa ia mengirimkan sebuah pesan ke seseorang.
Seseorang?
Siapa?
To be continued...
...
__ADS_1
...